
"Sekarang gimana cara kita cari istriku sementara polisi dan tim SAR saja belum bisa menemukannya Bagas, Caca? Trus kita mau kemana dulu saya benar-benar buntu, gak tau kenapa saya gak bisa mikir apa-apa." Faris mengusap rambutnya kasar, sesekali ia menutup matanya agar air tak merembes.
"Mas Faris mau tinggal sama kita atau dikontrakan yang Mas Faris beli?" Bagas terdiam sejenak memikirkan opsi selanjutnya. "Tapi kalau menurutku, rumah itu kan sudah semenjak kita menikah sudah gak ditempatin lagi. Keadaannya pasti kotor. Gak mungkin kita bersihkan dulu sementara kita sudah capek di perjalanan jauh kayak gini. Juga ada bayi, bahaya kalau kena debu. Begini saja, Mas Faris untuk sementara waktu tinggal dulu di tempat kami. Bagaimana?" Terang Bagas.
"Iya Pak Faris, biar Khizam saya bantu jagain. Siapa tau bisa buat pancingan sayaaa hehehee…" Ucap Caca sumringah, pasalnya hampir setahun menikah mereka belum dikaruniai momongan. Dia benar-benar sudah jatuh cinta dengan ketampanan dan kegemasan dede Khizam.
"Ya sudah, baiklah saya nurut kalian… tapi sebelumnya kita ke tempat Tuan William dulu untuk sedikit mengulik informasi. Besoknya baru kita ke kantor polisi." Sela Faris. "Maaf jadi merepotkan, padahal mungkin pekerjaan kalian banyak. Sekali lagi saya minta maaf dan terimakasih sudah bersedia membantu saya."
"Mas Faris itu ngomong apa sih, gak usah sungkan denganku. Kalau bukan karena Mas Faris hidupku gak akan seberuntung ini sekarang." Bagas ingat beberapa tahun yang lalu, Faris yang memungut Bagas di jalanan dan di bimbing tentang ilmu agama sampai ia bisa lurus seperti sekarang.
"Iya Bagas, aku hanya perantara. Allah yang sudah menolong…" Tetap saja Faris akan merendah, batin Bagas.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mereka tiba di kediaman Pak William yang tampak sepi. Faris segera turun dari mobil. Terlihat security tapi hanya satu orang yaitu Pak Dodo.
"Eh Ya Allah, Ya Tuhan. Gusti Allah pangeran kulo sedoyo ampuni dosa-dosanipun sederek kawula. Ampun Gusti jangan...jangan…!! Ini masih siang." Pak Dodo meracau tidak jelas. "Kenapa masih hidup kan sudah ditembak apa saya salah liat." Pak Dodo terus merapal doa-doa saat melihat Faris didepan matanya. Dia lantas berjongkok ketakutan.
Faris menepuk bahunya pelan "saya ini masih hidup bukan setan Pak Dodo!"
Pak Dodo mencoba mendongak keatas "bener ini Den Faris masih hidup?" Pak Dodo terlihat kebingungan. "Alhamdulillaaaaaaaahhhh!!!"
"Ba-baik Den! Okee-oke!!" Pak Dodo tersenyum sumringah lalu berlari ke dalam. Bagas bergegas menyusul Faris turun dari mobilnya bersama Caca yang tengah menggendong Khizam.
Beberapa detik kemudian Bik Wena keluar dari gerbang. "Den Fariiiiisss!!" Teriaknya histeris, beliau langsung menubruk badan Faris dan memeluknya. "Ya Allah, Nyonya Indira bilang katanya Den Faris sudah meninggal Den, saya se--dih sekali… tapi saya begitu yakin Den Faris masih hidup begitu juga dengan Nona Jessica..." Bik Wena melepas pelukannya. Diusapnya air mata yang menggenang.
__ADS_1
"Sudah difitnah, dianggap mati lagi. Keterlaluan tuh si Nyonya." Tambah Bi Wena. "Ayo duduk di kursi teras, kurang enak kalau berbicara disini Den,"
"Sudah tidak apa-apa Bi, kami hanya menanyakan kabar terbaru tentang Jessica."
Bik Wena hanya menggeleng sedih.
"Ini bayi siapa Bu Caca?" Tunjuknya pada Khizam.
"Ini Khizam anaknya Pak Faris dan Bu Jeje Bik?"
Bik Wena langsung terharu, dulu beliau melihatnya waktu didalam kandungan. Sekarang sudah menetas segembul itu. Bik Wena lantas langsung menggendongnya dan membawanya ke dalam. Mereka berbicara untuk mencari informasi pencarian polisi sudah sampai dimana. Setelah ini mereka akan kembali ke rumah terlebih dahulu untuk menghilangkan lelah dan dahaga.
__ADS_1