
Selepas melenggangnya Jessica dari hadapan kedua laki-laki berbeda generasi itu, Faris berdiri mematung. Dia menggelengkan kepalanya kilat agar pikirannya kembali normal. Tapi pada kenyataannya otaknya dia tetap tidak bisa mencerna kejadian tadi. Tiba-tiba ditodong menikahi Jessica? Dan Jessica tidak menolaknya malah bicara wikwik? Aneh sekali? Apa dia sedang bermimpi?
Raut wajah Faris sangat tidak tenang saat menatap William yang masih memperhatikannya. Berusaha tenang, Faris memulai pembicaraan.
"Om, saya hanyalah driver online. Apa saya bisa menghidupi Jessica om?" Biar bagaimanapun Faris tidak akan pernah malu mengakui apapun perkerjaannya agar William tidak kecewa nantinya.
William mendahului Faris duduk, lalu mempersilahkan Faris kemudian. "Duduklah, tidak perlu panik." Ucap William wajahnya masih saja datar.
"Saya akan berikan kamu usaha, saat ini usaha itu sedang berada ditangan kananku. Jika kamu sudah menikahi putriku, akan aku alihkan semuanya atas nama kamu."
"Hah?" Mulut Faris menganga, lebih tepatnya kaget bukan main. Apa dia ngga salah dengar? Ada apa sebenarnya ini, apa dia sedang diprank??
"Tidak usah kaget, saya tidak sedang bercanda. Saya butuh kamu untuk menjaga putriku. Dia sendirian disini, aku tidak bisa serta merta menjaganya." Menjeda ucapannya, William mengingat kejadian penculikan kemarin.
William mendekat, meletakkan korek api beserta rokoknya. "Ambillah, jika kamu merokok."
Faris menggelengkan kepalanya pelan, "maaf om, saya tidak pernah merokok."
__ADS_1
"Bagus! Saya hanya mengetesmu saja. Berarti pilihan saya tidaklah salah. Ajari Jessica jauh dari benda itu."
"Insyaallah, saya akan berusaha."
Faris merasa dijebak kalau seperti ini caranya. Padahal, Faris tidak pernah menodai putrinya? Seandainya tadi Faris menolak pelukan itu, pasti kejadiannya tidak serumit ini.
"Saya benar-benar masih belum mengerti om, terus terang saya kaget. Apakah saya mampu diberikan amanah sebesar ini. Jujur, saya memang punya perasaan lebih pada putri om, tidak tahu sejak kapan perasaan itu ada. Tapi saya tidaklah egois, saya lebih memikirkan apakah Jessica nanti bisa hidup dengan saya yang serba kekurangan..."
"Tidak akan kekurangan, aku yang menjaminnya." William menjeda ucapannya. "Jessica tidak membutuhkan uang, saya tau bagaimana dan seperti apa putriku.
"Apa harus saya om, saya bukanlah siapa-siapa. Saya betul-betul hanya orang ngga punya, saya merasa tidak pantas."
"Bukan itu yang kami cari, putriku juga tidak mencari kekayaan karena dia sudah memiliki semuanya. Putriku butuh pelindung." "Menikahlah dengan putriku besok!"
Faris menyatukan alisnya, bingung mengexpresikan dirinya sendiri. Apakah dia harus senang? Atau justru sebaliknya. Memijat pelipisnya sejenak, Faris merasa tertuduh kalau begini. "Tapi mengurus surat-suratnya tidak bisa mendadak begitu om, mesti dipersiapkan dulu semuanya."
"Nikah siri dulu, selanjutnya nanti om akan suruh orang supaya resmi tercatat sah secara negara. Om tidak bisa lama-lama disini, harus cepat balik ke Canada secepatnya."
__ADS_1
"Apa mahar yang harus saya berikan?"
"Seperangkat alat shalat dan perhiasan, tidak perlu mahal, yang penting sediakan untuk sekedar simbolis saja."
"Ba-baiklah..."
"Pulanglah, persiapkan dirimu. Mulai besok kamu akan tinggal disini. Jalanilah kehidupan layaknya suami istri pada umumnya. Dan secepatnya berikan saya cucu!"
Seulas senyum tertarik dibibir Faris, menikah saja belum sudah dimintai cucu. Lucu memang, Faris sendiri tidak pernah kontak fisik dengan Jessica. Butuh proses yang lumayan panjang untuk memulai pendekatan.
William menyunggingkan senyum, ahirnya mulai besok ada yang menjaga putrinya. Terlebih dia tau bahwa pemuda yang berada dihadapannya adalah pilihan yang tepat. Jadi, beliau bisa merasa lebih tenang.
***
Diperjalanan pulang, Faris memikirkan perihal pernikahannya besok. Mungkinkah ini yang dinamakan jodoh pilihan Allah? Datangnya bisa kapan saja, tidak tahu menahu awalnya. Yang sebegitu dekat juga belum tentu jadi miliknya. Yang dikira tidak mungkin, bisa didatangkan tiba-tiba. Jodoh adalah sebuah misteri.
Dijebak keberuntungan.
__ADS_1