I Love You Jessica

I Love You Jessica
Pesan yang menyakitkan


__ADS_3

"Darimana saja kamu Jessica?" Faris sudah menunggu Jessica di dekat pintu. Jessica baru saja pulang dari acara dugemnya.


Jessica menatap Faris datar. "Kamu tidak perlu tahu." Langkahnya menuju kedalam dan Faris mengikutinya di belakang Jessica.


"Aku menunggu. Ini sudah tengah malam." Ucap Faris melembut.


"Aku capek jangan ditanya macam-macam dulu."


"Jangan ulangi lagi Jessica, kurang-kurangi perbuatan seperti itu."


"Apa!! Apa Lagi?? Katakan saja semuanya yang menurutmu dilarang!" Ucapan Jessica sedikit menantang suaminya. Faris menghela nafas dan berusaha menahan emosinya.


"Jangan tinggikan suaramu, aku bertanya baik-baik."


"Aku habis ngumpul dengan teman-teman. Dengan Dave, Citra, Hengky dan masih banyak lagi. Apa mau aku sebutkan semuanya?"


"Jangan sebut nama laki-laki itu didepanku. Jessica, kamu sudah bersuami. Jaga pandangan kamu dari laki-laki lain selain suamimu." Faris tahu betul siap Dave didalam hidup Jessica. Dave begitu menginginkan Jessica.


"Aku hanya berteman dengannya." Jawab Jessica singkat.


"Pakaian kamu juga kenapa masih seperti itu Jess?" Faris menjeda ucapannya. Jessica menatap lekat-lekat wajah suaminya. "Jika kamu belum bisa menutup tubuh dengan sempurna, cobalah berpakaian lebih sopan lagi."


Faris memperhatikan dress mini yang Jessica kenakan. Jelas itu mengundang syahwat lelaki yang melihatnya. Jessica benar-benar tidak mengerti, seorang suami itu menanggung semua beban dosa-dosa istrinya. Tidakkah Jessica membantunya meringankan beban yang Faris tanggung sendirian. Tidak susah kan baginya jika berpakaian yang lebih sopan?


Arggh Faris benar-benar harus bersabar...dan bersabar lagi...


"Aku capek, mau tidur Fa... Jangan ceramahi aku. Aku nggak ngapa-ngapain kok diluar." Jessica mendekat dan mengelus dada Faris. Kakinya berjinjit dan mengecup bibir Faris dengan penuh perasaan. "Aku hanya berhubungan badan denganmu. Percayalah Fa!"


Jessica sudah dipenuhi kabut gairah, dia memeluk dan mengecup leher Faris. Dia memberi ******n-******n kecil disana.


Faris terdiam mematung, apalagi ini? Wanita ini sedang merayunya?

__ADS_1


Jessica terus menggodanya tapi Faris masih terdiam karena menahan amarah.


Jessica terhenti saat Faris tak kunjung membalas pelukannya dan cumbu rayunya. Matanya sudah menggenang air mata. "Kenapa kamu diam saja Fa!" Jessica menelan salivanya, dadanya naik turun menahan tangis. "Kenapa kamu nggak mau nyentuh aku lagi? Kenapa?"


"Karena kamu sulit diajak bicara baik-baik." Faris menjawabnya datar.


"Aku mau meninggalkannya, aku mohon kamu bersabar. Aku butuh waktu." Menjeda ucapannya sebentar, "aku janji mau jadi istri yang baik yah, yah?" Jessica memandangi manik mata Faris mencari-cari jawaban disana. Tangannya memegangi tangan Faris berkata sambil memohon. "Fa, please!"


"Aku janji akan meninggalkannya, beri aku waktu lagi... Faa please!"


Faris menatap lekat-lekat wajah Jessica. Mata itu berhasil meyakinkan Faris, terlihat kesungguhan disana. Faris mengangguk pelan, sudut bibirnya terangkat. Tangannya meraih tubuh Jessica membawanya kedalam pelukan.


Faris memang tidak bisa marah terlalu lama dengan wanita di depannya. Wanita itu adalah kelemahannya. Wanita itu wanita yang teramat dicintainya.


"Aku akan sabar menunggumu." Ucapan singkat, namun banyak sekali harapan di kata-kata itu kepada Jessica.


Keduanya berjalan menuju ke kamarnya kemudian membersihkan diri.


***


Jam tujuh pagi Faris sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Jadwal hari ini melihat pemasukan dan pengeluaran pada akhir bulan. Untuk sementara Faris masih mengikuti Glen dan mendengarkan instruksinya. Karena, William sepenuhnya sudah berpesan pada Glen supaya Glen menjelaskan semuanya pada Faris. Hari ini juga Faris akan memperkenalkan diri sebagai bos baru mereka menggantikan William.


"Fa!"


"Iya sayang…" kata-kata sayang dari Faris membuat Jessica bersemu merah. Faris sedang menggulung lengan kanannya.


"Mau berangkat sekarang ya?" Faris sesekali menoleh kesamping mendapati istrinya sedang malu-malu. Tangannya merem*s-rem*s ujung bajunya.


"Kenapa?"


"Aku su...dah… selesai emm itu, itu masa kamu ngga tau!" Jessica memberinya kode.

__ADS_1


"Nanti malam yah," jawab Faris yang mengerti keinginan istrinya.


"Kenapa ngga sekarang?" Tanya Jessica, pikirannya sudah jelek duluan.


"Aku sudah mau berangkat, Glen menungguku." Jawab Faris lembut, sebenarnya juga dia menolak keinginan Jessica. Faris tahu betul, Jessica tidak pernah meminta apapun kepadanya. Tidak ada yang dapat Faris berikan selain cinta dan kasih sayangnya.


"Sebentar, aku mau kekamar kecil Fa! Tunggu aku. Aku mau ikut kamu."


"Iya," Jessica menuju ke kamar mandi.


Faris melirik ke arah nakas, ponsel Jessica berbunyi keras nada dering panggilan. Karena Jessica tak kunjung keluar, Faris berinisiatif mengangkat panggilan itu karena siapa tahu itu panggilan penting.


Langkahnya mendekati ponsel dan melihat kelayar. Ternyata, nama Dave yang tertera di sana. Nada dering yang keras, mengendornya agar mengangkat panggilan itu. Lalu Faris menggeser layar.


"Hallo, Jess kalau kamu nggak bahagia kita bisa pergi bersama denganku. Ingat pesanku ya Jess? Jess kenapa kamu diam aja, pesanku juga nggak dibalas. Hallo, hallo..." Suara laki-laki disana terdengar begitu khawatir pada Jessica seolah-olah Faris telah menyiksanya selama ini. Faris menutup matanya dan menghirup nafas dalam-dalam. Lagi-lagi pria itu di kecewakan.


Jessica keluar dari kamar mandi, menatap Faris yang sedang mengepalkan tangannya. Kemarahan jelas terlihat di mata Faris. Jessica sendiri kebingungan dan menciut melihat tatapan elang suaminya.


"A-ada apa Fa? Kamu kenapa?" Tanya Jessica gugup.


"Dia mengajakmu pergi." Ucap Faris lalu meletakkan ponsel Jessica ke tempatnya. Faris pergi melewati Jessica tanpa berbasa-basi. Cukupkan berlama-lama dengan Jessica karena amarahnya bisa saja menyakiti perempuan itu.


Jessica menatap Faris nanar karena pergi tanpa mengajaknya atau berpamitan kepadanya.


Buru-buru Jessica mengambil ponselnya, melihat panggilan masuk dan beberapa pesan Dave yang mengirimkan kata-kata, 'Ica, kamu bisa ikut denganku, kita bisa pergi sama-sama jika kamu tidak bahagia."


Deg!


Tes. Tes. Tes..


Buliran bening mengalir dipipi Jessica. Dave yang menghancurkan semuanya. Padahal hubungannya dengan Faris baru saja membaik. Jessica merasa sesak di cuekin Faris begitu saja. Jessica merasa sangat bersalah dan menyesal karena telah menceritakan aib rumah tangganya dengan laki-laki lain. Jessica merutuki kebodohannya sendiri.

__ADS_1


T B C.


__ADS_2