I Love You Jessica

I Love You Jessica
Hello baby, masih sebiji kacang


__ADS_3

Melihat gambar bayinya di layar monitor, Jessica menangis haru. Ternyata seperti ini ya rasanya kalau tahu perutnya jadi rumah untuk tumbuh bayi didalam sana. Rasanya membahagiakan. Jeje nggak percaya kalau dirinya bisa mengandung secepat itu, padahal rasanya baru kemarin menikah, masih pecicilan. Sekarang sudah mau jadi calon ibu. Benar kata Faris, diberi seorang anak itu rezeki yang paling besar dari Allah. Jeje menyesal pernah ingin menundanya.


"Dia baru sebesar apa sih dok?"


"Kalau enam minggu masih sebesar kacang Bu, pertumbuhan sedang sangat cepat. Penuhi nutrisi harian ya Bu, perbanyak makanan yang mengandung asam folat juga zinc. Nanti browsing-browsing aja di internet. Tapi susu hamil tetap ya."


"Apa yang nggak boleh dilakukan sama orang hamil dok?"


"Dilarang merokok, minum alkohol, olahraga terlalu berat, minum obat-obatan asal-asalan."


Karena ini kehamilan pertama Jessica, dia terus kupas tuntas menanyakan hal yang paling sepele sekalipun. Caca yang menemaninya sampai geleng-geleng menahan tertawa mendengarkan pertanyaan yang nyeleneh yang baru saja di dengarnya.


"Kalau berhubungan badan masih boleh kan?"


"Selama nggak ada keluhan sih boleh-boleh saja asalkan berhati-hati, hindari posisi yang membuatnya tertindih."

__ADS_1


"Kalau sering nggak apa-apa? Habis saya masih tergolong pengantin baru."


Sontak Caca langsung menyahut. "Ingat disini ada yang masih jomblo! Mentang-mentang lagi anget-angetnya!"


Dokter lantas tertawa renyah, "haa...ha...haaa…"


Apa yang salah kan cuma nanya. Jessica malah bingung sendiri. Kan pertanyaan itu lebih baik ditanyakan daripada penasaran.


Setelah pulang dari rumah sakit yang menurutnya melelahkan, lumayan menunggu dua jam mengantri. Akhirnya mereka sampai di pusat perbelanjaan. Membeli buah, susu, dan cemilan-cemilan sehat untuknya.


"Jangan terlalu banyak jalan Bu, belanja segini saja sudah cukup."


"Kita bisa beli lagi nanti kalau sudah habis. Kalau buah nggak boleh menyimpan terlalu lama. Mesti makan yang masih fresh."


"Oke, tapi kalau nanti kurang kamu yang beli ya?"

__ADS_1


Mentang-mentang nggak pernah belanja, nggak tahu sepuluh kilo sebanyak apa. Memangnya sanggup ngabisin alpukat sepuluh kilo? Kaya mau dagang buah saja. "Iya deh iya," ngidam kan bosnya.


***


Sudah seminggu ini Jeje mengalami morning sickness parah. Hal tersebut membuat Faris sempat curiga, pasalnya setiap pagi Jessica susah sekali makan. Hanya buah-buahan yang masuk. Nggak tau kenapa Jeje sangat membenci nasi putih. Jangankan makan nasi, hanya melihatnya saja dia merasa mual. Apalagi sama bau-bauan masakan yang membuat hidungnya sangat sensitif.


Melihat Jessica hari ini pucat dan lemas, Faris memutuskan untuk tidak kemana-mana. "Kita ke rumah sakit ya Je," Faris mengelus punggung Jessica yang tidur membelakanginya. Kemudian Jessica berbalik, lalu Jessica menggeleng samar.


"Kenapa nggak mau? Kamu udah kurus pucat banget gitu. Kamu sering sakit kepala juga, takut ada apa-apa."


"Nggak Mas Faris aku baik-baik saja. Hanya masuk angin biasa. Nggak usah khawatir…" Jessica sambil mengelus lembut pipi Faris, dia menciumnya menginginkan hal lebih. Selama hamil memang gairah Jessica meningkat. Laki-laki tentu merasa senang-senang saja. Faris tidak merasa keberatan.


"Tetep aja khawatir, mau Mas buatkan apa biar badanmu lebih terasa enakan?"


"Tolong buat aku merasa hangat Mas!" Jessica melepas bajunya dan semua pakaian yang dikenakan, lalu seperti biasa. Dia menggerayangi Faris di atasnya. Memberi gigitan-gigitan kecil di leher, kemudian Faris turut membalas dengan suka cita.

__ADS_1


….


To be continued.


__ADS_2