
"Fa, nanti siang aku pergi dulu ya. Mau makan bareng temen-temen aku."
Faris menghirup nafas lebih dalam, ada rasa tidak rela dihatinya Jessica pergi namun dia tidak bisa mengantarnya karena hari ini dia harus mendatangi salah satu toko materialnya.
Tapi biar bagaimanapun Faris tidak bisa mengekang Jessica terus menerus. Siapapun manusia didunia punya hak kebebasan dengan tetap didalam batasan-batasan tertentu.
"Boleh, tapi ditemani Caca ya. Biar ada mahramnya." Faris menjawab setelah terdiam beberapa saat.
"Ahhh ! Yes!!" Jessica berteriak senang dan langsung peluk cium suaminya. "Makasih Fa, muuaachhh!!" Sudah lama Jessica tidak berkumpul dengan teman-temannya.
***
Siang hari saat panas terik, Caca dan Jeje sedang berada diperjalanan ke cafe resto pusat kota. Setelah sampai ditempat, terlihat sudah banyak yang datang. Mereka mengadakan acara seperti ini untuk baby shower Citra, teman Jessica dan Dave. Tentu ada Dave disana.
Jeje mendekati bumil itu. "Selamat ya Citra… boy or girl?" Ucapnya sembari memberikan satu buket bunga rangkaian yang dipesannya khusus.
"Ah iya, Jeje… sahabatku terimakasih bayiku laki-laki."
"Happy banget yang mau jadi orang tua."
"Iya dong, kamu cepat nyusul yah…" Jessica tersenyum getir, kenapa dia sendiri belum kunjung hamil juga. Padahal sudah beberapa bulan pernikahannya dengan Faris. Ternyata perkataan adalah doa, dulu Jessica sempat terpikir akan menunda. Tapi pada saat waktunya tiba menginginkannya, Tuhan tidak kunjung memberikan. Lain kali Jessica akan lebih berhati-hati dalam berucap.
"Aamiin Citra, doakan yah! Supaya bisa cepat menyusulmu,"
Caca dan Jeje menduduki kursi yang kosong sembari mendengarkan MC membuka acara.
***
"Bu sebaiknya kita pulang sekarang!" Jessica dikagetkan dengan kepanikan Caca yang baru saja kembali setelah dari toilet.
"Ada apa Ca?" Tanya Jessica menyelidik, melihat kepanikan Caca membuatnya ingin tahu lebih.
Tangan Caca sibuk mengemas barang-barangnya di meja. "Jangan banyak tanya Bu, aku nggak bisa jelaskan disini."
"Tapi acara baru saja dimulai, aku nggak enak ninggalin temanku Caca!"
"Nyawa Ibu lebih berharga daripada memikirkan seorang teman!"
Jessica semakin dibuat tidak mengerti dengan sikap Caca yang tiba-tiba aneh seperti ini. Apa sih maksudnya? Tapi walaupun begitu, Jessica segera mengikuti di belakang Caca keluar dari tempat itu.
Memasuki mobil, Caca merebut kunci dari tangan Jessica. "Biar saya yang menyetir Bu!"
Caca menyetir dengan kecepatan tinggi menuju ke jalan yang dirasa aman. Namun nasib sepertinya tidak berpihak kepada mereka berdua. Mobil yang dikendarai oleh mereka berdua, dibuntuti oleh mobil lain dan berusaha memepetnya dari dari arah samping. Parahnya orang itu menodongkan pistol memberi ancaman.
__ADS_1
"Turun loe!! Turun nggak!!" teriaknya mengerikan.
Tidak ada jalan lain, nyawa dipertaruhkan saat ini. Caca menginjak pedal dengan kecepatan penuh. Sungguh pengalaman pertama bagi keduanya. Beruntung, mobil yang digunakan mendukung. Coba kalau mobil butut, pasti takkan selamat. Disaat darurat seperti ini, Jeje tidak mampu berkata-kata. Dia hanya mampu berteriak di dalam hati. Pertanyaan yang masih tercekat di tenggorokan tidak mampu keluar dari mulutnya. Kalut.
Sebenarnya ada apa?
Caca memikirkan satu hal. Ya, dia harus mencari pertolongan! Satu-satunya cara mencari perlindungan dari polisi.
Caca mengetahui polsek terdekat dan sekarang menuju kesana masih dengan kejaran pelaku dibelakang.
"Cepat Ca!! Cepat lagi!!!"
Alhamdulillah setelah beberapa menit mengendara dengan kecepatan penuh, mobil berhenti di depan polsek di keramaian. Walaupun dengan rem mendadak. Setidaknya mereka selamat dulu dari mobil pengejar. Upaya selanjutnya tinggal lapor ke polisi dan meminta perlindungan.
Huufftt sementara bisa bernafas lega…
***
"Begini Pak, ada mobil mengejar kami. Kami benar-benar butuh perlindungan. Saya saksi dari kasus ini Pak, ada teman Bu Jessica yang hendak berniat jahat pada beliau. Kemungkinan besar dia adalah otak dari motif penculikan Bu Jessica dulu, yang saat ini masih dalam pencarian."
"Apa anda yakin?"
"Yakin Pak!"
"Ya, ini rekaman videonya." Caca menunjukkan video yang diambilnya dari percakapan pelaku saat keluar dari toilet.
"Nggak mungkin! Itu Dave??" Jessica memegangi dadanya. "Dave?" Ternyata wanita itu masih benar-benar tidak percaya. Orang yang dianggapnya teman sejati mengkhianatinya.
Flash back
Saat Caca keluar dari toilet yang sepi, telihat Dave dan tiga orang berbadan besar sedang membicarakan sesuatu. Dia langsung mengambil ponsel dari saku jasnya.
"Culik dia dan bawa dia ke gudang! Jangan sampai kalian gagal, Jessica harus menjadi milikku. Aku tidak pernah ditolak oleh wanita seperti ini. Ini sangat memalukan dah merendahkan harga diriku. Hanya aku yang dapat memiliki tubuhnya! Kalau perlu, akan aku buat suaminya jijik dengannya."
Prak
"Hei siapa disana?! Kurang ajar!" Caca sempat ketahuan karena menjatuhkan ponselnya saat merekam video dan menimbulkan kecurigaan. Ya saat itu tangan Caca sedang gemetar ketakutan. Dan akhirnya badan Caca sempat terlihat hingga mereka berlari mengejar.
Jessica tidak mampu bersuara, hanya air matanya yang mengalir. Tega-teganya Dave melakukan ini padanya. Hanya karena cinta, hati seseorang bisa dibutakan. Beruntung tadi sempat meminta izin kepada Faris dan meminta Caca untuk menemaninya. Kali ini dia selamat karena suami sudah meridhoinya.
Itulah kenapa Allah melaknat wanita yang keluar tanpa izin suami. Coba saja kalau tadi Jessica pergi sendiri secara diam-diam. Pasti dia tidak akan sampai disini.
"Terimakasih untuk laporannya, dan ini akan segera kami proses. Terimakasih Bu Caca, anda ditetapkan sebagai saksi dalam kasus ini. Terimakasih atas kerjasamanya."
__ADS_1
Keduanya sampai dirumah dengan pengawalan lebih ketat. Jessica menambah beberapa security dirumah sampai pelaku tertangkap.
***
"Aku takut dan nggak nyangka sama sekali Ca? Sumpah aku kaget! Dave berbuat seperti itu sama aku. Kita ini sudah berteman sangat lama, huu… huu…"
"Sshhh sudah Bu, sudah! Nggak ada gunanya menangisi orang jahat kaya dia. Ibu masih punya banyak teman baik kok!" Caca mengusap lembut punggung Jessica. Jessica benar-benar menangis sesenggukan.
"Makasih kamu sudah membantu mengungkap semuanya Caca, aku berhutang budi padamu."
"Jangan berlebihan Bu, sudah sepantasnya kita manusia harus saling tolong menolong."
"Benar kata Faris, teman yang baik itu tidak akan mengajak ke tempat-tempat yang hina."
Caca lantas tersenyum, akhirnya Jessica tersadar bahwa selama ini jalan yang ditempuh itu salah. Kualitas manusia dilihat dari 'dengan siapa kita berteman'.
***
"Fa, husnul khatimah itu apa?" Jessica penasaran dengan kata-kata yang pernah ia dengar pada saat orang meninggal dunia.
"Husnul khotimah adalah sebuah akhir riwayat manusia (meninggal dunia) dalam kondisi yang baik atau diridhai Allah SWT. Tentunya hal ini yang menjadi dambaan setiap orang yang beriman." Faris mengernyitkan dahinya. "Kenapa bertanya seperti itu Je?"
"Karena aku ingin seperti itu Fa." Jawab Jessica enteng, dia tersenyum membayangkan betapa mulianya kematian orang-orang beriman. Pasti bisa melihat nabi Allah dan surganya Allah dan berbahagia disana.
"Aamiin…" Faris mengecup puncak kepala istrinya. "Syurgamu ada pada suamimu Je, kamu bisa melakukannya mulai dari sekarang."
"Benarkah?"
"Iya,"
"Ajari aku semuanya ya Fa! Mulai besok aku akan belajar memasak, mencuci bajumu, menyiapkan pakaian gantimu, dan... masih banyak lagi deh." Jessica sadar diri belum melakukan banyak untuk Faris suaminya.
"Oke, tapi yang pertama ganti dulu panggilanmu. Akan lebih baik jika kamu lebih menghormatinya dengan memanggil sebutan."
"Hmm, aku panggil kamu apa ya?"
Faris mengangkat bahunya. "Terserah!"
"Kalau begitu aku panggil kakek!"
Faris terkekeb mendengarnya. "Baiklah nenek. Hahaha…"
….
__ADS_1
To be continued.