I Love You Jessica

I Love You Jessica
Aku mau jadi ibu buat Khizam


__ADS_3

"Aku bersedia jadi Ibu untuk Khizam Mas Faris!" Ucapan Aisyah ketika Khizam berada di gendongannya. Ya, karena kerinduannya kepada sang bunda, Khizam memanggil Aisyah dengan sebutan bunda.


"Ayah ini bunda hijam, iya?"


Faris hanya bisa tersenyum pedih, Faris tidak mungkin memutuskan sesuatu dalam waktu singkat apalagi mengenai pernikahan yang akan di jalaninya seumur hidup. Faris menerka itu hanya spontanitas Khizam saja bukan berarti petunjuk. Atau kini dia harus menebus dosanya karena dulu pernah menolak menikahi Aisyah? Entahlah...


"Turun nak, jangan biasakan minta digendong sama orang lain. Berat, kasihan tante Aisyah…" Ucap Faris merasa tidak enak.


"Gak apa-apa Mas Faris, namanya juga anak kecil..." Jawab Aisyah, dia tampaknya sangat menyukai anaknya, gemas terhadapnya. Mencium Khizam berulang-ulang.


Banyak pertanyaan di benak Faris, apa Aisyah sudah berubah? Tidak kekanak-kanakan lagi? Kenapa sekarang sosoknya sudah terlihat dewasa dan keibuan? Ahh jangan cepat terlena. Itu hanya godaan setan. Faris segera menurunkan pandangannya dari objek fokus di depannya. Melihat interaksi mereka berdua saja sudah membuat hati Faris berdesir. Bukan perasaan... cinta... bukan itu... hanya senang saja Khizam bisa sedekat itu dengan orang lain. Biasanya tidak pernah.

__ADS_1


"Jadi ini bukan bunda?" Tanya Khizam sekali lagi setelah anak itu turun dari gendongan.


Faris sedikit berjongkok, tersenyum menatap manik mata indah putranya dan mengelus kepalanya. "Bukan nak," maafkan ayah belum bisa menemukan bundamu. Ucapnya dalam hati tercekat di tenggorokan.


Aisyah masih berdiri disana. Entah seberapa besar cinta yang dia miliki kepada laki-laki berstatus duda dan beranak satu di depannya, hingga sampai sekarang Aisyah belum memiliki tambatan hatinya lagi. Dia sampai-sampai rela mengasingkan diri di tempat kelahirannya demi menghapus sisa-sisa cinta yang ada. Tapi percuma, kini Aisyah malah merasa punya kesempatan. Laki-laki didepannya yang dianggapnya sudah berumah tangga malah sekarang telah berstatus seorang diri. Dan malah semakin tampan dan dewasa menurut penglihatannya. Siapa wanita yang tidak tergoda. Hingga usaha move-on yang ia jalani susah payah, hanya sia-sia belaka.


Faris menatap Aisyah, "akan aku pikirkan tawaran mu. Perlu dipikirkan matang-matang dan memohon petunjuk lewat shalat istikharah Aisyah... Aku yakin orang tuamu juga butuh berpikir, karena bagaimanapun statusku tidak lajang lagi." Ucapnya sembari mengangkat bocah yang mulutnya sudah belepotan dengan makanan.


"Apa aku boleh berharap?" Tanya Aisyah tanpa ragu. Dia memang termasuk wanita yang punya kepercayaan diri yang tinggi. Faris sempat tertegun, dia dilamar oleh seorang perempuan. Bukan dia yang melamar perempuan. Dunia terbalik.


"Hem, baiklah."

__ADS_1


Aisyah mengeluarkan kertas persegi panjang, menyodorkan kartu nama yang di dalamnya tertera nomor ponsel dan alamat dirinya yang masih sama seperti dulu. Faris menerimanya dan mengucap salam kemudian mereka meninggalkan tempat dimana mereka bertemu secara tidak sengaja barusan.


"Kita pulang yuk, sudah sore. Mainnya sudah dulu ya! Kita bisa kesini besok lagi."


"Tapi hijam masih mau main…"


Ya, tepatnya mereka berada di timezone di salah satu Mall di pusat kota. Hanya berdua.


Faris mengeluarkan tisu basah dari tasnya untuk mengelap bibir dan tangan Khizam yang belepotan. "Kita pulang! Pasti Opa Willi mencarimu nak, kita main dirumah sama Opa ya,"


"Main keleleng?" Faris tertawa kecil, Khizam masih saja kesulitan menyebut 'r' di dalam setiap kata-katanya. Kadang bisa, kadang lupa.

__ADS_1


"Iya kita main kelereng…"


Kedua laki-laki berbeda generasi itu pulang dengan obrolan dan tawa kecil untuk menghiasi keluarga kecil yang belum lengkap sempurna.


__ADS_2