I Love You Jessica

I Love You Jessica
Kami pun kehilangan dia


__ADS_3

"Mas yang kuat yah, aku yakin selama Jessica belum ditemukan pasti dia masih ada. Aku yakin Mas!" Ucap Bagas menyemangati, dia menepuk punggung Mas Faris yang berada di dalam pelukannya. Bagas baru mengetahui sisi lain dari Faris. Orang yang selama ini ia kenal tegar ternyata adalah laki-laki yang rapuh. Sedih sekali Bagas melihat Faris seperti ini.


Bagas baru saja tiba di rumah Faris dengan istrinya menggunakan mobil inventaris butik milik Jessica. Saat ini, Khizam sedang berada digendongan Caca.


"Mohon doanya Bagas, semoga istriku selamat."


Bagas melepas pelukan, menatap wajah sendu laki-laki yang dianggapnya kakak sendiri. "Semangat Mas! Mas punya Khizam, jangan perlihatkan kesedihanmu di depannya."


Faris menganggukkan kepalanya.


"Uuhhh sigemoyyy...sigemoyy!!" Caca mencubit-cubit pipi Khizam dan menciuminya dengan gemas. "Apa saja yang mau dibawa Pak Faris, biar saya bantu siapkan." Ucap Caca.


"Kamu itu jangan terlalu formal denganku Caca…"


"Masih kaku Pak, soalnya Bapak kan suaminya Bu Jessica. Agak sungkan memanggil yang lain." Faris hanya tersenyum samar.

__ADS_1


"Sudah disiapkan semenjak kemarin, tunggu sebentar saya mau menghubungi kepala toko. Nanti habis ini kita berangkat." Jawab Faris kemudian dia menggenggam ponselnya lalu keluar untuk menelpon orang kepercayaannya agar tokonya di handle dulu sementara waktu.


***


Di perjalanan…


Mungkin karena perutnya sudah kenyang minum susu makan cemilan dan terkena hawa dingin AC mobil, Khizam anteng tidur selama perjalanan. Dimulutnya masih menempel empeng, tangan mungilnya memegang erat tangan Faris. Lelah, ingin tidur tidak terasa lagi ketika melihat anaknya tertidur nyenyak di pangkuannya.


"Pak Faris, sebelum Bu Jessica pindah beliau mempercayakan Butik pada saya. Uang yang terkumpul sejak lama, saya depositokan atas nama beliau. Apa lebih baik jika se-"


"Baik Pak Faris,"


"Pak William ada dimana sekarang?" Bagas yang sedang menyetir langsung menghadap cermin di tengah melihat Faris yang sedang bertanya pada istrinya.


"Masih sempat-sempatnya kamu nanyain dia Mas. Biar saja!"

__ADS_1


"Jangan begitu Bagas, tidak boleh biar bagaimanapun beliau orang tuaku…" Bagas mencebik kesal, bisa-bisanya Faris masih perduli sama raja Firaun itu.


"Mertua jahannam! kalau aku jadi kamu Mas, udah ku racun!" Bagas sangat geram tangannya meremas setir mobil.


"Beliau masih dirawat di rumah sakit Pak, sendiri."


"Astaghfirullah…" Faris memijat pelipisnya. "Bagaimana keadaannya?"


"Sedikit buruk, jantungnya melemah saat mendengar kabar putrinya terjun ke jurang." Caca mengusap air matanya.


Caca menghirup nafas dalam untuk memasok udara kedalam paru-parunya. Berulang kali ia mencoba untuk tidak ingat Jessica, namun tetap tidak bisa.


"Bu Jessica yang nakal itu hanyalah casing Pak, saya yang sudah bekerja bertahun-tahun dengannya saya ta..hu betul...hiks…" bibirnya gemetar, Caca terbata-bata saat mengucapkannya. "Bu Jessica orang yang suka bersedekah, setiap bulan dia selalu menyuruhku ke panti untuk mengirimkan bantuan. Dia orang yang begitu dermawan Pak. Dia gak akan tahan untuk gak ngasih uang kalau ada pengamen atau pengemis. Semua karyawan terjamin, dia gak segan membantu jika salah satu dari kami kesulitan. Itu sebabnya karyawan jarang keluar. Bu Jessica juga gak pernah marah sekalipun kesalahan kami itu besar." Caca menghirup nafas yang kembali sesak. "Kami sangat kehilangan diaa... apalagi aku, gak ada lagi yang bolak-balik ke kantornya. Kalau ada dia suasana jadi ramai dan ceria. Sudah lama aku gak bisa lihat lagiiii aku ingin melihat diaa huwaaaaa…. Huuuaaa…. Hwaaaaaa... Heuuu…." Caca tidak dapat menahan rasa sebaknya lagi. Semua ia tumpahkan sekarang. Membuat Faris semakin sakit. Selama ini Caca hanya berpura-pura baik-baik saja dihadapan suaminya. Bagas baru melihat Caca bisa menangis sehisteris itu. Ya, Sekarang tidak ada alasan lagi Caca untuk menahan tangisannya.


"Eh, sudah-sudah Ca jangan keras-keras… nanti Khizam kebangun. Kamu gak lihat Mas Faris akan lebih hancur kalau kamu menangis di depannya." Bujuk Bagas sambil mengusap-usap bahu istrinya yang sedang tersedu-sedu.

__ADS_1


__ADS_2