I Love You Jessica

I Love You Jessica
POV Haikal Faris.


__ADS_3

P.O.V. Haikal faris


Tanganku meraih bubur yang baru saja aku buat, lalu aku menyuapi bayiku yang malang ini setelah kehilangan bundanya. Mungkin rasanya sedikit berbeda, sehingga makanan ini tak kunjung habis. Dia masih setia mengemut suapan yang aku berikan tadi. Atau memang bayi makannya lama? Aku tidak tahu, aku benar-benar frustasi.


Tangan mungilnya mengetuk-ngetuk mainan ke lantai. Suaranya terdengar cempreng sedang belajar berbicara. Dia bayi yang sehat dan pintar, dia anteng dan sama sekali tidak menyusahkanku. Tapi, akulah yang sudah menyusahkannya. Aku tidak terlalu pandai mengurusnya. Itulah kehebatan seorang ibu. Seorang ibu bisa mendalami dua peran sekaligus, tapi seorang ayah tidak bisa menjadi siapapun, seperti aku sekarang ini.


Baru saja istriku pergi selama beberapa hari, rasanya seperti ditinggalkan beberapa tahun lamanya. Rumah yang rapi sekarang terlihat berantakan, padahal rumah ini teramat kecil. Biasanya pagi-pagi sarapan sudah terhidang di meja, makan dan minum sudah tersedia. Kini, baju yang kupakai saja terlihat kusut.


Aku mengusap air mataku kasar. Sebenarnya aku tidak ingin menjadi laki-laki yang cengeng. Tapi entah kenapa, air mata ini tak henti-hentinya mengalir saat aku tau aku kehilangan dirimu. Kenapa airmata ini sangat murah padamu... Aku baru tahu sebegitu berartinya kedudukan Jessica di dalam hidupku dan di dalam rumah ini. Lembut suaranya pun tidak bisa kudengar lagi.


Tidak ada yang bisa aku andalkan kecuali Bagas, aku menghubunginya kemarin malam agar dia kesini untuk menemaniku pergi ke kota. Sebenarnya aku ingin berlari semenjak kemarin kabar buruk itu datang, tapi aku tertahan. Aku tidak sendiri melainkan ada sikecil yang harus aku jaga. Kejadian ini cukup membuat dadaku sesak dan terguncang hebat. Aku masih percaya Jessica masih bisa ditemukan. Batinku yakin mengatakan dia masih hidup didunia.


Setelah Khizam tertidur, aku baringkan dia dikamar. Kucium pipinya yang gembul itu dan aku bacakan doa untuknya. Sudah beberapa hari ini aku bawa dia ke tempatku bekerja. Karena aku harus tetap mengontrol tokoku, beruntung disana ada yang membantuku dalam menjaganya.


Aku baringkan badanku disebelahnya, Khizam anakku. Kupandangi wajah anak semata wayangku, terutama di bagian bibir itu. Bibir yang sama persis dengan bundanya. Yang membuat perasaan rinduku semakin membuncah seakan tak dapat aku tahan lagi.


Sejenak, aku tatap langit-langit kamar. Mataku terbuka tapi pikiranku tidak ada disini. Tapi menerawang, tepatnya kurang lebih dua tahun lalu. Saat pertama kali aku bertemu dengan sosok Jessica, yang kini menjadi istriku. Aku tersenyum lalu menggeleng saat teringat awal pertemuan kami. Kukira aku adalah laki-laki tersial karena telah bertemu dengan gadis pemabuk, perokok, penggoda, sebutan apapun yang pantas untuk dia yang waktu itu pingsan di dalam mobilku. Manusia tidak akan pernah mengira bahwa Allah yang mengatur pertemuan itu hingga akhirnya tumbuh benih-benih cinta diantara kami. Kelucuannya, tingkah konyolnya, cerianya, cerewetnya menjadi daya tarik tersendiri untukku. Aku sadari aku sudah jatuh sejatuh-jatuhnya pada wanita ini.

__ADS_1


Pada saat itu aku punya Aisyah, yang sudah berada didepan mata. Kupikir dia adalah jodohku ternyata bukan. Padahal secara materi saat itu sudah cukup untuk menikahinya. Tapi, Allah ternyata punya rencana lain. Hingga kami tidak bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya. Kebetulan... Hatiku juga sudah di penuhi oleh wanita lain.


Tidak ada kenang-kenangan buruk tentang Jessica, istriku…


Meskipun pada awalnya dia adalah gadis yang keras kepala, susah diatur, seenaknya sendiri, tapi dibalik itu Jessica adalah sosok yang cengeng dan manja. Aku baru ketahui setelah kami menikah.


Tidak selalu orang bahagia dengan apa yang dia miliki. Perlahan aku dekati dirinya dengan segenap perasaan yang ada, dengan cinta yang aku miliki. Ternyata tidak sesulit yang kubayangkan. Dengan mudahnya dia meninggalkan semua yang biasa dia lakukan. Jessica bisa berubah secepat itu dan aku tidak menyangka, dia menutup auratnya karena ingin meraih surga bersamaku.


Perasaan membuncah tak terkira saat aku diberi kado spesial dihari ulang tahunku. Dia menyatakan bahwa dirinya sedang hamil, anakku. Nikmat mana lagi yang aku dustakan. Bisa memiliki raganya dan mencintainya saja rasanya aku sangat bahagia, apalagi saat dia mau mengandung anakku dan membalas perasaanku. Rasanya tambah berkali-kali lipat dan semakin dalam cintaku padanya.


Semenjak mengandung, perlahan dia menjadi sosok wanita yang shalihah. Dia begitu patuh kepadaku dan mengurus semua keperluanku. Banyak hal-hal baru yang dia lakukan dan membuatku bangga. Jessica yang kukenal bukan Jessica yang nakal lagi. Jessica istriku adalah wanita yang shalihah.


Kebahagiaan yang baru aku rasakan hanya bertahan sebentar. Orang bilang roda kehidupan itu berputar, tapi kuyakini aku lebih banyak dibawah. Aku difitnah oleh ibu mertuaku sendiri. Kejadian itu mengharuskan aku terdepak dari rumah mewah itu. Mereka bilang aku kotor, jangankan menyentuhnya seujung kukupun tidak ada niatan sama sekali. Istriku lebih cantik, lebih baik dari segala-galanya daripada beliau. Aku tidak buta.


Aku sadari aku hanya orang tak punya, dan kesekian kalinya aku menjadi merasa sedang bermimpi dapat bersanding dengan anak seorang raja. Aku tersenyum lalu menggeleng. Gembel tetaplah gembel, tapi sungguh tidak ada niatanku untuk mengeruk hartanya atau bersenang-senang diatas lantai yang kupijak saat itu. Justru, aku merasa tidaklah berharga.


Satu masalah itu membuat jalan hidupku kembali terombang-ambing. Tuan William yang selama ini sangat mempercayaiku kini mudah berpaling. Aku baru tau cinta bisa membutakan penglihatannya. Ya, mungkin aku hadir belakangan. Sementara beliau sudah hidup bersama bertahun-tahun lamanya. Itu masih berada didalam nalarku. Selama hampir dua puluh lima tahun hidupku baik-baik saja. Tidak pernah merasa mempunyai musuh atau teman yang tidak baik. Tapi ternyata akan selalu ada duri didalam daging. Entah apa rencana Tuhan sehingga kami… terpisahkan.

__ADS_1


Setelah satu bulan sejak kejadian itu, tak terbendung lagi rinduku. Aku tak dapat menahan rasa ingin merengkuh tubuh kecil istriku dan anakku yang masih berada didalam kandungan. Aku hanya bermodal nekat mendatangi rumahnya. Hingga kesempatan itu aku dapatkan. Meskipun harus menjalani beberapa rintangan. Kami bisa pergi berdua dengan selamat dan tinggal disebuah rumah kecil terletak di pinggiran kota. Rumah yang sangat jauh dari kata kemewahan. Tapi istriku ternyata hidup nyaman seperti ini. Tubuh yang sempat kering itu kembali berisi. Apa saja makanan yang ada masuk ke dalam perutnya. Senyum terus terpancar dari wajah cantiknya setiap hari. Hingga lahirlah bayi yang kami nanti-nanti selama sembilan bulan lamanya. Lucu dan menggemaskan, perpaduan dari kami berdua.


Hari-hari kami lewati menjadi pasangan yang harmonis. Dia wanita yang kukenal tidak peduli ternyata bisa juga bersikap romantis. Dia telaten merawat bayi kami sampai aku berdecak kagum. Walaupun jauh dari orang tua dan tidak pernah punya pengalaman mengurus anak, tapi dia bisa melakukannya sangat handal. Kami berbagi tugas satu sama lain, hidup kita benar-benar menyenangkan.


Usaha yang aku bangun dari nol juga mampu mencukupi kebutuhan kami. Aku mulai bisa berdiri karena rezeki kami setelah menikah mengalir begitu deras. Ya, kami keluarga kecil yang begitu bahagia........ sebelum kami ditemukan oleh orang-orang Tuan William. Setelah beberapa bulan lamanya, mereka berhasil menemukan kami dan membawa Jessica pergi.


Tapi ternyata... pergi terjun ke jurang, dan sampai sekarang dia belum juga di temukan.


Malam itu menjadi malam terakhir kami yang paling indah, penyatuan tubuh kami dan pernyataan cinta darinya. Aku tidak tahu bahwa itu adalah merupakan sebuah firasat. Bodohnya aku tidak menyadarinya.


Ny. Indira kini mendekam di penjara, mertuaku dan pembunuh dari tiga nyawa orang-orang yang paling kusayangi. Walaupun beliau menyerahkan diri dan mengakui perbuatannya, tapi beliau tidak bisa mengembalikan lagi kejahatan yang di lakukannya apalagi nyawa yang hilang. Aku tidak pernah menyesal menikah dengan Jessica, tapi aku menyesal mempunyai mertua seperti beliau dan Tuan William yang terhormat itu. 


Aku berada di titik terendah saat ini. Aku  h a n c u r  sehancur-hancurnya oleh satu orang. Bila membunuh dihalalkan, aku ingin dia mati ditanganku.


Jessica, aku akan menunggumu hingga kamu kembali… aku yakin kamu masih ada. Aku tau kamu lelah kan menjalani hari-hari ini, kamu ingin istirahat sebentar. Hanya sebentar ya sayang. Jangan tinggalkan aku dan anak kita…  kita akan meraih surga bersama-sama. Ruang hati ini masih terisi sepenuhnya dirimu. Tunggu kami sayang… tunggu kami, tunggu kami. 


TO BE CONTINUED.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak.


__ADS_2