
"Ya udah kalau gitu aku pulang dulu yah Bu, Mas Faris, Bagas, Tuan, Nyonya.. dan semuanya." Setelah lumayan pegal duduk berkumpul selama beberapa jam, Caca bangkit dan pamit pada semua orang yang berada didalam ruang tamu Jessica. Hari sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Jessica mengamati pergerakan asistennya. "Iya, ati-ati Ca. Makasih kamu turut membantu menghandle semuanya kemarin waktu aku ngga ada.." Ucap Jessica tulus.
"Sama-sama Bu..."
Caca merapikan bajunya yang sedikit berantakan, meraih tasnya dan tangannya melambai. "Sampai ketemu lagi, dadaaaahh semuaa.."
"Dadah-dadah ngga ada juga yang mau ketemu sama kamu lagi." Celetuk Bagas memutar bola matanya malas.
Mendengar kembali diejek, Caca pura-pura ngga dengar. "Eh ada Bagasi mobil yang bersuara, pantesan bau mesin!" Balas Caca.
Faris terkekeh "udah-udah, kirain udah pada baikan tau-tau tadi udah disini bareng sebelum aku dateng. Tapi ternyata masih berantem juga. Hati-hati benci bisa jadi cinta." Ucap Faris meledek.
***
"Makasih ya Fa, tadi udah aku buka hadiahnya. Mukenanya bagus aku suka." Ucap Jessica, kaki mereka masuk kedalam air dikolam belakang, kakinya mengayun menyiprat-nyipratkan air bermain-main dengan dinginnya air. Posisi mereka duduk sejajar berjarak setengah meteran.
Faris mengalingkan pandangannya menatap kesamping, menatap keindahan bidadari memakai dress warna putih selutut. Baju yang dikenakan kali ini sedikit tertutup. Renda bagian bawahnya terlihat sedikit basah karena cipratan air. Kaki Jessica memang nggak bisa diam. Mungkin, kalau bukan malam hari begini udah nyemplung kekolam itu. "Iyah sama-sama, dipakai setiap kamu sholat." Ucap Faris tersenyum memperlihatkan deretan gigi putih bersihnya.
Maminya sudah pamit duluan karena punya anak tiri yang masih kecil, jadi ngga bisa pulang terlalu malam. Kalau papinya sudah beristirahat diruang tamu karena beliau sudah sangat kelelahan. Semenjak dua hari lalu ngga bisa tidur karena memikirkan putrinya belum ditemukan. Sekarang Jessica sudah kembali, saatnya beliau beristirahat. Membiarkan dua muda-mudi ini saling mengobrol.
Kok mami Jessica punya anak tiri?
Beliau diam-diam sudah menikah lagi, tanpa sepengetahuan Jessica. Harapan untuk menyatukan kedua orang tuanya telah kandas. Mau diapakan lagi kalau yang satunya sudah berkeluarga sendiri. Jessica hanya bisa berharap suatu saat nanti ada keajaiban.
"Mana Aisyah kok ngga ikut kamu Fa? Juga ngga pernah dateng lagi kebutik. Kalau mau keluar dari kerjaan mestinya bilang-bilang dong, jangan diem bae. Paling ngga hubungin aku. Hmm, kurasa dia baru kerja sebentar. Apa aku punya salah? Apa aku terlalu galak?" Entah sudah dari kapan mau menanyakan ini langsung pada Faris, tapi memang waktunya belum ada. Baru sekarang punya kesempatan.
__ADS_1
Mendengar itu, Faris menggeleng. "Ngga tau, mungkin sibuk kali..." Jawabnya singkat.
"Kalian lagi baik-baik aja kan? Maksudnya hubungan kalian. Kok kalau aku perhatiin udah lama kalian ngga jalan bareng. Biasanya si Aisyah nempel terus sama kamu kaya perangko. Takut pangerannya diambil orang kali yah hihihi..." Jessica cekikikan ingat betapa bucinnya Aisyah yang sering ngambek gara-gara Faris terlalu dekat dengannya.
Dalam hati Faris, nih cewek bawelnya kebangetan, bikin gemasshh... "Kita udah jalani hidup sendiri-sendiri." Jawab Faris, Jessica langsung melongo mendengar pernyataan itu.
Melihat Jessica melongo, Faris mengangkat alisnya heran, "Ditutup mulutnya nanti kemasukan kelabang..."
BUKH!!
Sebuah pukulan kecil mendarat dipundak Faris. "Sembuarangan!!"
"Apa penyebabnya? Kenapa bisa putus? Apa dia dijodohin sama orang tuanya? Atau kamu suka cewek lain?"
Astaga, kenapa cewek ini cerewet sekali, dicerca begitu banyak pertanyaan membuat Faris menggaruk tengkuknya yang ngga gatal.
"Apa dong penyebabnya ceritain?"
"Penyebabnya karena kita udah ngga cocok lagi."
Jessica masih belum ingin menyerah sebelum mendapat jawaban yang tepat dari mulut Faris. Kok bisa ya, putus?
"Cepetan ada apa ceritain ke akuh !" Jessica terus memaksa Faris menjawab. Berlagak seperti memotong lehernya sendiri dengan jari telujuk. "Nih liat, kalau kamu ngga cerita kita end, kkkkkk"
Kelakuan Jessica sontak membuat Faris tergelak tawa sampai sudut matanya sedikit merembes airmata. Ada-ada saja.
"Benar nggak ada apa-apa, mungkin memang sudah harus bubaran." Faris sudah merasa tidak enak, ia buru-buru mengalihkan pembicaraan. "Ya sudah, aku mau sholat dulu. Kamu mau ikut kemusola?" Ajak Faris pada Jessica dan dia tampak berfikir.
__ADS_1
Faris baru tiba kerumah habis isya, belum sempat shalat, Caca sudah menelvonnya agar segera kemari. Jadi dia baru sempat sekarang. Ya, apa boleh buat, begitu masih lebih baik telat daripada kewajibannya ditinggalkan.
Jessica balik menatapnya, "aku kan ngga sholat subuh, duhur, ashar, mahrib, sama isya. Bisa dijambak ngga?"
Hah, apanya yang dijambak. Faris tergugu mendengarnya. Faris tersenyum dan memberikan pemahaman sedikit yang dia tau tentang itu. "Dijama' bukan dijambak."
"Ohh..." Bibir Jessica membulat.
"Tapi aku kepenginnya shalat yang sekaligus, jangan diulang-ulang. Gimana caranya?"
Entah harus bagaimana Faris menyikapinya. Baru kali ini dia dengar pertanyaan seperti itu. Bahkan umur Jessica sudah hampir 24 tahun, anak SD saja mungkin sudah hapal betul tentang bagaimana tata cara shalat dan syarat-syarat shalat.
Menghela nafas, Faris menjelaskan dengan sabar. "Tidak ada shalat yang boleh digabung Jessica, hukum mengerjakan shalat Jamak adalah mubah (boleh) bagi orang-orang yang memenuhi persyaratan. Misalnya, dalam perjalanan jauh minimal 81 km (menurut kesepakatan sebagian besar imam madzhab). Perjalanan itu tidak bertujuan untuk maksiat. Dalam keadaan sangat ketakukan atau khawatir misalnya perang, sakit, hujan lebat, angin topan dan bencana alam."
"Lalu yang bisa dijamak itu shalat apa aja? Contohnya bagaimana? coba jelaskan! Ajari aku."
"Shalat jamak adalah shalat yang digabungkan, maksudnya menggabungkan dua shalat fardu yang dilaksanakan pada satu waktu. Misalnya menggabungkan shalat Duhur dan Asar dikerjakan pada waktu Duhur atau pada waktu Asar. Atau menggabungkan shalat magrib dan ‘Isya dikerjakan pada waktu magrib atau pada waktu ‘Isya. Sedangkan shalat Subuh tetap pada waktunya tidak boleh digabungkan dengan shalat lain."
Rasulullah apabila ia bepergian sebelum matahari tergelincir, maka ia mengakhirkan salat duhur sampai waktu asar, kemudian ia berhenti lalu menjamak antara dua salat tersebut, tetapi apabila matahari telah tergelincir (sudah masuk waktu duhur) sebelum ia pergi, maka ia melakukan shalat duhur (dahulu) kemudian beliau naik kendaraan (berangkat), (H.R. Bukhari dan Muslim).
"Kamu hapal diluar kepala?"
"Tau tapi sedikit, kalau ada yang ngga aku tau dari semua pertanyaanmu lebih baik aku diam."
....
To be continued.
__ADS_1
Like dulu sebelum next kebab selanjutnya...