
"Jadi kamu akan menikah dengan Caca?"
Faris kaget sekaligus senang mendengar Bagas akan menikahi asisten Jessica. Pasangan yang sering bertengkar itu akhirnya jadi jodoh. Inikah yang dinamakan benci jadi cinta?
Bagas mengangguk-anggukkan kepalanya cepat, walaupun sebenarnya ia sangat malu mengatakannya pada Faris. Mengingat Bagas dan Caca sering berantem adu mulut di depan mereka.
"Kalau jodoh nggak kemana ya, walaupun dulu bilang benci." Faris akhirnya terkikik kala mengingat kata yang menjadi bully Caca kepada Bagas 'Bagasi mobil.'
Bagas lantas nyengir kuda lalu mencoba mengalihkan topik pembicaraan. "Kabar istrimu gimana? Sudah nggak pernah kelihatan Mas. Sekarang sudah nggak keluark-keluar."
"Ada di rumah, soalnya perutnya sudah besar. Sudah malas kemana-mana."
"Selamat yah, yang sudah mau jadi ayah. Mudah-mudahan aku cepat nyusul. Mulai dari segi ekonomi juga nyusul."
"Aamiin, semua orang berharap begitu."
Faris meninggalkan Bagas setelah dirinya bercerita banyak hal dan berpamitan.
***
"Jadi Papi sudah nggak lagi berangkat ke Canada?"
"Iya tinggal menunggu dana pensiun cair."
"Lah bukannya tiap bulan Papi sudah menerimanya?"
"Memang Papi menerima dolar tiap bulan dari sana, tapi bukan dana pensiun melainkan superannuation." Faris menautkan alisnya. "Superannuation merupakan uang yang disisihkan dan terakumulasi selama masa kerja untuk pensiun. Di luar Negri memang banyak diberlakukan seperti itu."
__ADS_1
Faris mendekatkan wajahnya kepada Papi mertuanya. "Papi sudah ijab Qobul lagi dengan Mami kan? Papi kan sudah tinggal bersama?" Ucapnya berbisik.
"Belum, tapi Papi tidak seranjang bersama. Entah kenapa Papi masih ragu."
"Apa kita punya perasaan yang sama?" Tanya Faris kemudian setelah terdiam beberapa saat.
"Iya, mungkin seperti itu. Yang aku lihat, borosnya masih sama, tapi dia tidak lagi seperti dulu dalam hal lainnya." Papi menjeda ucapannya. "Ajari Papi sholat."
"Hah?!" Faris terpekik kaget.
"Ajari Papi shalat, papi jauh dari kata taat. Papi telah melupakan banyak hal, banyak yang sudah Papi lewatkan dalam hidup Papi."
"Maaf Pi, Faris sungkan mengajari orang yang lebih dewasa." Faris menolak dengan halus.
"Kalau begitu carikan Papi guru ngaji,"
"Baiklah, Faris akan usahakan."
"Tutup dulu ya, suami sudah pulang… Baay!! Muuaahh!!" Terdengar Jessica baru saja menutup sambungan telepon.
"Telepon dari siapa itu?"
"Ciye ada yang jealous!"
Faris sedikit cemburu, pasalnya telpon saja pakai-pakai kiss segala. "Laki-laki apa perempuan?"
"Apaan sih orang ini Caca ngabarin mau nikah Mas Faris,"
__ADS_1
"Kalau bohong tau kan hukumannya, Mas akan minta tiga kali dalam semalam."
"Ganteng-ganteng cabul."
"Apa kamu bilang?" Faris mengangkat tubuh Jessica layaknya boneka, begitu ringannya padahal sedang berat berbadan dua. Terdengar teriakan kecil dari mulut wanita itu.
"Awas ya, kalau aku kenapa-kenapa Mas aku sunat lagi!"
"Coba saja kalau berani hmmm!!"
***
Malam menyapa dengan kesunyian, Faris terbangun saat tenggorokannya merasa kering. Stok air di teko kamar pun sudah habis, galon juga apalagi. Sudah seperti musim kemarau, kekeringan. Juga menghindari bahaya tengah malam, Jessica bisa turun tangga sewaktu-waktu mengambil minuman. Wanita itu sangat jarang meminta tolong, Faris sebagai suami yang harus pengertian.
Beberapa menit berlalu, Jessica juga terbangun merasakan hal yang sama seperti suaminya, haus.
Tapi ketika tangan mungilnya meraba kesamping, dia tidak menemukan sosok suaminya. Di kamar mandi juga tidak terdengar percikan air.
Karena kehausan yang melanda, Jessica berinisiatif turun. Aneh sekali, galon diatas juga habis. Benar-benar merepotkan, tidak biasa-biasanya Bik Wena teledor seperti ini.
Saat kakinya menapaki lantai bawah, Jessica mendengar sesuatu yang ganjal. Seperti bunyi teriakan suara Mas Faris dan perempuan, tapi…. Setelah Jessica menuju ke sumber suara… Faris berada dikamar Mami??? Kenapa ada di dalam sana? Ngapain?
Jantung Jessica berdebar tak menentu, dia bertekad untuk nekat membuka pintu kamar itu, apapun yang dia lihat mudah-mudahan tidak benar.
Cklek~
"Aaaakhhh!! Mas Faris !!"
__ADS_1
….
To be continued.