
"Gas.." ucap Faris pada Bagas yang sedang fokus menonton televisi, sempat menengok tapi sebentar kemudian Bagas memutar kepalanya kembali menonton televisi.
Faris sudah tiba dikontrakannya, sebelum dia sampai tentu sudah menghubungi tante dan omnya untuk menghadiri pernikahannya besok. Sempat dicurigai karena pernikahan ini sangatlah mendadak, tapi pada ahirnya Faris bisa meyakinkan mereka bahwa Faris tidak pernah berbuat yang keluar dari batasannya.
"Bagas! Serius banget nontonnya." Faris bersungut kesal saat Bagas tidak mengindahkan kata-katanya. Dia sangat menikmati film dichanel televisi tersebut.
"Bagas, aku mau menikah!"
Bagas terdiam, matanya tak berkedip dan menengok kesamping menatap Faris terkejut, mulutnya juga menganga shock. "Serius?"
Faris menganggukkan kepalanya yakin.
"Sama Aisyah?" Tebakan Bagas meleset karena memang yang pernah diajaknya menikah terahir ini Aisyah.
"Bukan, Jessica?" Jawab Faris mengulum senyum.
"Apa?!" Kekagetan Bagas tidak berhenti sampai disitu, pasalnya... Jessica adalah wanita yang digadang-gadang memiliki tipe pria yang kaya raya bak pangeran malah jatuh kepelukan Faris hanya seorang driver online yang pendapatannya ngga pasti. Kelebihannya cuma tampang doang.
"Udah dong kagetnya, ada insiden yang membuat kami harus menikah. Dan itu kesalahanku."
"Apes gimana sih maksudnya? Mas ngga ngapa-ngapain dia kan?" Haduh, pikiran Bagas udah kemana-mana.
"Engga lah. Dia berhambur memelukku karena ada kecoa, trus Pak William memergoki kami. Salahnya aku juga turut membalas karena terbawa suasana. Jadilah kesalah pahaman. Sudah kujelaskan, tapi ngga tau kenapa Pak William memaksaku untuk menikahinya."
"Mas dapat rezeki nomplok!!" Bagas terlalu bersemangat. "Selamaaatt Mas, selamaaatt." Bagas langsung menubruk Faris dan memeluknya erat-erat.
"Aku jadi terkesan buruk." Disini Faris merasa tidak lega, pasalnya dia harua menikah hanya karena masalah kecoa.
"Jessica menolak?" Tanya Bagas.
"Jawabannya bikin ngilu, ngga ngiyain tapi juga ngga nolak tau ngga? Cewe itu sungguh aneh."
Bagas tersenyum bangga, "Mas ngga usah susah-susah berjuang. Jessica udah Mas dapatkan semuanya." Bagas menjeda ucapannya, yang jelas kini Bagas merasa sedih. "Tapi... Aku mau ditinggal sendiri ya Mas."
Ya, Faris pasti meninggalkannya kan?
"Iya, Jessica mana mau tinggal disini..." Faris mendesah. "Tapi nanti aku bilang ke Jessica supaya kami ikut kesana, barang kali ada kerjaan."
"Tidak usah repot-repot Mas, aku disini aja udah seneng kok heheh. Aku ini sudah banyak merepotkan. Aku tidak akan meminta apapun Mas, dirimu santai wae."
Faris menepuk pundak Bagas. "Doakan semoga rumah tanggaku adem-adem aja ya Gas, semoga ijab kabulku juga lancar besok."
"Aamiin. Mimpi apa sih kemarin malam Mas, bener-bener dikasih surprize."
__ADS_1
Obrolan berlanjut sampai keduanya mengantuk.
***
"Bagaimana saksi? sah?" Ucap Pak penghulu.
"Saaahhhh!!!" Teriakan dari para saksi.
"Baarakallaahu laka, wa baarakallahu ‘alaika, wa jama’a bainakuma fii khaiir." Pak penghulu membacakan doa setelahnya.
Faris berdiri dihadapan Jessica, mengangkat tangannya lalu menempelkannya pada ubun-ubun Jessica dan membacakan doa.
Setelah mendoakan selesai, Faris mendekatkan badannya dan mencium kening wanita yang baru saja dinikahinya. Ada gelenyar-gelenyar aneh saat Faris menciumnya. Entah mulai dari kapan hatinya tertambat pada wanita itu, berharap Jessica mampu berubah setelah menjadi istrinya.
Acara berlanjut foto-foto beserta menyambut tamu yang mengucapkan selamat padanya.
"Setelah anak perempuanku menikah, tanggung jawabku telah berpindah padamu. Jaga putriku, cintailah dia. Dia anakku satu-satunya. Kalau kamu tidak mencintainya lagi, jangan sakiti dia. Tapi tolong kembalikan padaku." Ucap William pada Faris.
"Baik Pih, aku akan menjaganya sekuat dan semampu saya." Mata Faris berlinang, betapa tanggung jawab yang dipikul saat ini begitu besar setelah menjadi seorang suami. Faris berkata pada dirinya sendiri, semoga Faris mampu menjalani semua amanah yang diberikan kepadanya.
Acara masih berlangsung sampai dengan prosesi selanjutnya sampai selesai.
"Ris, Om balik dulu. Selamat ya!" Ucap Om Hanan memeluk Faris yang telah dianggapnya anak sendiri.
"Iya Ris, kami pulang dulu ya. Semoga cepat punya momongan." Ucapan selamat dari Ratih istri Hanan sebelum ahirnya mereka pergi. Jessica juga tengah sibuk mengobrol dengan teman-temannya.
"Bagas ! Kamu mengagetkanku." Titah Faris setalh berjengit kaget.
Bagas mendekatkan kepalanya pada Faris. "Selamat malam pertama. Pastikan kunci pintu sebelum memulai." Ucapnya mesum, Bagas sendiri membayangkan bagaimana pria polos seperti Faris berada dibawah selimut dengan wanita.
Faris membalas pukulan pundak lebih keras. "Sontoloyo."
"Haa... Haaa... Haaa..."
***
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sisa-sisa pesta masih berserakan dan tampaknya masih dibersihkan oleh Bibi Wena dan bantuan dari orang luar. Pak William tampaknya sudah sangat lelah hingga beliau tak keluar lagi dari kamarnya. Padahal, ada yang ingin Faris bicarakan.
"Kok masih duduk disofa? Malam pertama dong Tuan, malah disini." Celetuk Bibi Wena beliau melihat Faris sedang melamun.
Faris mengeluarkan ponselnya, "iya sebentar lagi Bik,"
Haduh, asisten memperhatikan terus.
__ADS_1
Hari sudah begitu malam, tapi rasa kantuk tak juga menguasainya. Ia ingin bergabung dengan Jessica, tapi meragu karena takut Jessica menolaknya.
Maklum, pernikahan ini mendadak. Bagaimana dia tau perasaan Jessica yang sesungguhya?
Dirasa para asisten terus mengawasinya dan membuat Faris canggung, ia memutuskan untuk pergi keatas.
Membuka pintu kamar Jessica, knop pintu itu berputar dengan mudahnya tanpa terkunci. Berarti Jessica tidak menolaknya?
Lampu masih menyala, tapi Jessica tampak sudah terlelap dengan selimut yang menutupi seluruh tubuh. Faris mendudukkan badannya, didekat wanita itu. Memandangi wajah polos cantik istrinya tanpa make-up. Diselipkan rambut yang terburai. Faris melakukan sangat pelan agar Jessica tak terbangun.
Tidur Jessica tampak tenang, dia tidak berani membangunkannya. Ok, fix Jessica tidak bisa diganggu apalagi mengajaknya berbicara. Faris beringsut dari duduknya dan hendak keluar kamar. Namun hal yang ia lakukan urung karena mendengar Jessica memanggilnya.
"Mau kemana?"
Faris berbalik badan, ooh berarti tadi pura-pura tidur ya? Dasar wanita penggoda. "Aku kira kamu sudah tidur." Ucap Faris, dia kembali terduduk dikasur itu.
"Aku menungumu."
"Ada apa?" Tanya Faris singkat.
Jessica mengangkat alisnya heran. "Kok ada apa, kan tidurmu disini. Kenapa keluar?"
"Kupikir karena pernikahan kita murni kecelakaan, kamu perlu waktu untuk bisa menerimaku." Faris berkata jujur apa yang ada dalam hatinya.
"Kamu tidur disini mulai sekarang."
"Kamu menerimaku?"
"Why not?"
Faris mengulum senyum dan segera merangkak kekasur. Jessica sudah bersiap dengan aksinya, dia langsung menyibak selimut yang menutup seluruh tubuhnya.
Betapa kagetnya Faris, matanya membulat penuh!
Jessica memakai lingerie berwarna merah dan sangat sexy. Faris menelan ludahnya susah payah. Wanita itu begitu agresif dan menubruk badan Faris membuat laki-laki itu berada dibawahnya.
Faris ingin tertawa tapi tertahan, begitu agresifnya dia mengalahkan laki-laki tangguh didepannya. "Astaga Jessica apa yang kamu lakukan? Apa kamu menginginkannya malam ini?"
Jessica menganggukkan kepalanya. "Mana sini aku liat seberapa besar punyamu."
"Hah?!"
Buset dah ini sih benar-benar wanita penggoda.
__ADS_1
....
TO BE CONTINUED.