I Love You Jessica

I Love You Jessica
Sisa tempur semalam


__ADS_3

Dung tak tak tak tak dang dung dang dung deeesssssss....


Pukul empat pagi Faris membuka mata. Rasanya, baru saja terlelap alarm ponsel sudah berbunyi. Tangan Faris meraba kearah nakas untuk mematikannya. Meletakkan ponselnya, Faris menoleh kesamping meliht wajah lelah Jessica karena sisa tempur semalam. Faris teringat balik betapa antusias Jessica melakukan malam pertamanya.


Jika kebanyakan wanita akan cenderung lebih malu dan pasrah, namun lain pada Jessica. Dia seperti mentor yang sudah ahli karena kenakalannya dulu menonton film biru. Faris menggelengkan kepalanya, wanita itu mampu membangunkan Faris berkali-kali. Adaaa saja yang dilakukan agar Faris kembali terbangun. Good job!! dia adalah penyervis terbaik. Faris mengaku kalah telak dalam hal ini, rupanya Faris masih harus banyak belajar lagi.


Faris menepuk pipi Jessica dan menjawilnya dengan gemas, "bangun sayang... Kita mandi wajib yuk."


Jessica menggeliat. "Hmmmm...."


"Kita harus mandi wajib dulu trus shalat shubuh. Boleh nanti kalau mau tidur lagi setelah ini."


Mata Jessica enggan terbuka. "Libur dulu ah, besok aja."


"Mana ada shalat libur, kecuali kamu sedang halangan."


"Ngantuuukk... Fa!! Pegel juga bagian bawahku," Jessica menjawab dengan suara serak.


"Iya maaf, maaf... Aku gendong ya! Kita mandi sama-sama."


"Hmm."


Faris menggendong tubuh polos Jessica tanpa penolakan. Sampai kekamar mandi pun mata Jessica masih terpejam. "Bangun Jessica, baca niat dulu."


"Hmm..."


"Kenapa hmm hemm aja sih buka matanya!"


"Iya bawel."


***


Kedua pasangan suami istri baru itu sedang melaksanakan shalat shubuh. Mengucapkan salam kekanan dan kekiri, lalu bertasbih dan berdoa dengan khusyu. Dilihatnya Jessica kembali terpejam meringkuk diatas sajadah dengan mukena yang masih terpakai.


Rupanya, wanita itu masih mengantuk berat. Sudah diguncang-guncang bahunya tapi tetap tak bergeming. Faris mengangkat tubuh Jessica dan membaringkannya dikasur setelah sprei dan bedcover sudah diganti yang baru.


Karena masih sama-sama mengantuk, Faris ikut kembali bergabung dengannya dibawah satu selimut. Memeluk istri cantiknya. Ohh, Faris baru tau... Ternyata mempunyai istri dan melakukan malam pertama rasanya semenyenangkan itu.

__ADS_1


"Lagi!" Ucap Jessica.


"Apanya?"


"Itunya!"


Pergulatan dimulai lagi sebelum ahirnya mereka tertidur pulas sampai siang.


***


William membuka pintu kamarnya, beliau menuju keruang makan dan memakan sarapannya.


"Bi, mereka berdua udah sarapan?" Tanya William pada Bi Wena.


"Belum turun Tuan, apa perlu saya panggilkan?"


"Jangan... Biar saja. Antarkan saja sarapannya keatas kalau nanti mereka meminta."


"Baik Tuan."


***


"Ada yang ingin ku bicarakan," Ucap Willam keduanya sudah berada di ruang kerja.


"Iya Pah,"


"Aku punya pom bensin yang saat ini dipercayakan pada orang-orang kepercayaanku, nanti akan pindah ketanganmu. Juga ada beberapa toko material, Papi percayakan semuanya padamu. Papi sudah harus kembali ke Canada nanti malam."


"Apakah saya mampu Pih?"


"Itu perkara mudah, nanti akan ada yang membimbing dan membantumu. Dia bernama Glen."


"Baiklah Pih,"


"Ingat semua pesanku kemarin ya Fa!"


"Iya Pih..."

__ADS_1


"Papiiiiii !!"


BRUKK!!


Jessica memeluk Papinya dengan tiba-tiba. Anak itu menempel dengan Papinya bagaikan cicak-cicak didinding.


William membiarkan anak manjanya bergelayut padanya karena jarang-jarang mereka bisa dekat seperti saat ini.


"Apa benar Papi mau pergi nanti malam?" William dan anak-anaknya menuju keruang tengah dan mendudukkan badannya.


William mengelus kepala putrinya. "Iya, Papi punya tanggung jawab disana."


"Mami cuma datang sebentar, Papi juga dateng sebentar. Memangnya kalian begitu muak ya melihatku?" Jessica merajuk.


William menghela nafas. "Bukan seperti itu, kita sudah punya keluarga sendiri-sendiri. Tentu banyak urusan masing-masing. Kamu sudah menjadi seorang istri, ada suamimu. Pasti kamu nanti tau kenapa Mami kamu jarang menemuimu."


"Memangnya apa yang dilakukan istri itu, masak udah ada asisten. Ngurus anak udah ada baby sitter. Kerja cuma gitu-gitu doang. Sibuknya dimana?"


"Fa, ajari dia nanti. Jangan sampai kamu melakukan apa-apa sendiri. Dia harus tau tugas-tugasnya." Jelas William yang khawatir karena Jessica benar-benar tidak tau menau bagaimana menjadi seorang istri.


Faris tersenyum, menanggapi semuanya dengan penuh kesabaran. "Iya Pih, nanti Faris akan ajarkan Jessica banyak hal."


"Pelajaran apa? Kalian itu memang aneh. Aku sudah bersekolah aku juga sudah kaya. Untuk apa belajar lagi." Dengan polosnya Jessica ngedumel tidak jelas.


"Kamu harus berhenti merokok, minum, dan pergi-pergi ketempag hiburan. Jangan memalukan Papi Jessica. Pakaianmu juga jangan seperti ini kalau diluar. Sudah berapa kali Papi bilang...!" William berkata sedikit meninggi membuat Jessica murung.


Untung saja dirumah tidak ada laki-laki selain security. Security cuma berada didepan, bisa saja masuk sewaktu-waktu. Untungnya security itu sangatlah jujur dan bisa diandalkan. Coba kalau tidak? Tiap hari harus menelan sabar karena disuguhi pemandangan indah.


"Pelan-pelan saja Pih, nanti akan Faris beritahu." Ucap Faris.


"Ya sudah, kamu bantu Papi packing!" Tunjuk William pada Jessica.


"Oww, engga Pih engga!"


"Ngga bisa ayo masuk kamar Papi bantu packing!!"


Keduanya berdebat sampai ahirnya Jessica yang mengalah, terpaksa mengiyakan perintah William. Tepatnya bukan membantu tapi memang secara keseluruhan Jessica yang mengerjakan.

__ADS_1


__ADS_2