I Love You Jessica

I Love You Jessica
Membawamu pergi mungkin lebih baik


__ADS_3

Waktu melesat begitu cepat bak bola golf yang dipukul oleh sang empunya dan melesat jauh dari pandangan. Seminggu, dua minggu, tiga minggu, bahkan sudah satu bulan Faris hanya bisa berkabar lewat pesan. Rindu semakin menjadi tak dapat ia tahan. Pengharapannya masih sama, selalu ingin hidup bersama dengan sang pujaan, yaitu ibu dari anak yang masih berada didalam kandungan.


Langkah semakin berat saat menapaki rumah megah nan mewah bergerbang tinggi. Hanya sedikit terlihat pilar dari celah-celah besi. Tampak beberapa pria berbadan bedan besar menjaga rumah itu. Rumah yang pernah menjadi saksi tumbuhnya cinta dua insan yang berbeda.


"Pak, Tuan ada dirumah?" Faris bertanya kepada security Dodo dan temannya yang terlihat menyesap kopi yang masih berasap.


"Eh ya Allah gusti, Den Faris! Gimana atuh kabarnya, Masya Allah… kita semua rindu sama den Faris." Laki-laki paruh baya itu menjabat tangan Faris dengan rasa iba. "Tuan sama nyonya lagi ke KUA, mengurus surat nikah kalau tidak salah teh."


"Kabar saya baik Pak Dodo, bisakah Pak Dodo membantu saya…"


"Waduh, ada apa den… jangan bilang mau masuk. Ada CCTV saya takut dimarahi den. Saya masih butuh pekerjaan ini, nanti saya bisa dipecat. Akhir-akhir ini Tuan William tidak sedang baik-baik saja kepada kami semua."


Feeling Pak Dodo sangat tepat.


"Pak Dodo, saya bisa lewat pintu belakang. Tolong bantu saya Pak Dodo, hanya sebentar saja..." Faris memohon kepada penjaga rumah tersebut. Meskipun ia tahu ini sangat berbahaya, tapi Faris nekat dengan dengan situasi yang ada.


"Gimana ya den, kita sama-sama sulit.." Pak Dodo terlihat memikirkan caranya tapi juga merasa tidak tega.


"Sa...saya ingin bertemu sekali dengan istri saya Pak, tidakkah Pak Dodo lihat seberapa hancurnya saya." Bibir Faris bergetar menangis tergugu. Badan yang dulu kokoh berdiri kini seakan lemas tidak lagi bertulang. "Beri saya ketemu dengan istri saya, Pak Dodo punya istri dirumah kan? Tolong coba bapak berasa diposisiku."


"Den, sebenarnya saya juga tidak tega melihatnya. Apalagi Non Jessica den... kasihan dia."


"Tolong saya Pak, coba lihat dari sisi kemanusiaan. Bantulah saya..."


Semua security berkumpul dan berunding beberapa saat lalu mereka kembali.


"Begini saja, pakai baju seragam kayak saya ini." Tunjuknya pada pakaian yang dipakai. "Trus gunakan masker agar tidak dikenali."

__ADS_1


"Terimakasih Pak Dodo, saya segera kembali setelah membeli masker." Faris berlari tergesa setelah Pak Dodo mengambilkan seragam miliknya yang tersimpan didalam lemari pos. Beliau memang selalu menyimpan baju gantinya disana.


Laki-laki paruh baya itu menggeleng selepas Faris pergi, dia mengamati Faris sampai menghilang di belokan.


"Kasihan den Faris, menantu baik kayak gitu kok diusir. Kalau saya jadi Tuan William, lebih baik saya gak nikah lagi daripada mengorbankan anak sendiri. Cinta bisa dicari, tapi kebahagiaan anak tidak bisa dibeli." Gerutu Pak Dodo pada temannya.


***


Tok...tok...tok.


Cklek~


"Mas Faris!" Pekiknya.


"Ssst, tutup dulu pintunya."


"Mas Faris kami rindu, bawa kami pergi Mas! bawa kami pergi!"


"Mas juga merindukanmu dan anak kita sayang," Faris menyeka bulir-bulir airmata yang mulai jatuh dari pelupuk mata istrinya. "Sudah berapa ratus kali air mata ini kamu kucurkan untuk laki-laki sepertiku. Jangan menangis lagi ya,"


"Kenapa pakai baju seperti itu Mas, kamu jelek sekali…" lirihnya protes. Dia paling tidak suka melihat Faris terlihat jelek. Wanita itu mengusap pipi Faris dan membelainya dengan lembut. 


"Aku seneng banget Mas Faris datang huuu… hikss... jangan tinggalin aku lagi Mas Faris. Aku yakin dan percaya sama Mas Faris tidak melakukan itu. Aku mengenalimu Mas Faris, aku mengenalmu huuu… Mami jahat sama aku Mas... Mami jahat..." Jessica menangis meraung-raung layaknya anak kecil.


"Aku tulus mencintai kamu, aku juga tidak menginginkan kemewahanmu." Faris menegakkan kepala Jessica yang tertunduk. "Lihat aku Je, aku cukup sadar diri aku orang tak punya, seandainya Papi tidak memaksaku menikahimu, aku tidak seberani itu menikahimu. Aku percaya diri selama ini karena Papi William selalu membesarkan aku…" Faris menjeda ucapannya.


"Kenapa kamu kurus sekali? Hmm? Mana pipi montok kamu sayang," Faris mengusap bawah mata Jessica. "Kamu kurang tidurkah? Ini buktinya."

__ADS_1


Jessica mengangguk tapi juga dengan airmata yang tidak henti mengalir di mata indahnya.


Faris berjongkok dan mencium perut Jessica. "Bayi kita gimana sayang? Dia sehat kan?"


"Dia sehat walaupun hatiku sakit. Bawa aku pergi dari sini Mas, kita besarkan anak kita sama-sama ya?"


"Je, aku tidak bisa memberikanmu apa-apa. Tapi Insyaallah aku akan berusaha membahagiakanmu… "


Jessica mengangguk cepat lalu mengusap air matanya.


"Tapi bagaimana jika Papi mencari kita?"


"Kita akan pergi jauh dari sini, aku yakin Papi tidak akan bisa menemukan tempatnya. Kamu menulis surat sekarang, katakan maaf kepada beliau bahwa kamu pergi dan jangan mencari kita."


Jessica membawa baju-baju seadanya, tak lupa juga kotak catatan yang selama ini dia tulis. Faris serta merta membantu Jessica, lalu keduanya berjalan mengendap-endap menuju pintu belakang. Dengan gerakan cepat, mobil Faris melaju tanpa memperdulikan nasib security yang akan menjadi korban.


Faris siap dengan segala konsekuensinya. Apapun yang terjadi kepada mereka berdua suatu hari nanti.


Terlihat security memergoki mereka.


"Ka-kaabuuur!! Non Jessica kabur, tolooooong!!"


....


TO BE CONTINUED.


Novel ini insyaallah agak panjang nantinya. Konfliknya banyak, jadi jangan ngarep apa-apa dulu.

__ADS_1


__ADS_2