I Love You Jessica

I Love You Jessica
Pusing dan hampir limbung


__ADS_3

"Bu? Ibu nggak apa-apa?" Caca melihat Jeje berjalan sempoyongan memegangi kepalanya setelah lama duduk. Dia membantu menopang tubuh Jessica yang limbung.


"Nggak apa-apa, cuman agak pusing tadi abis duduk. Aku memang punya tekanan darah rendah."


"Risma! Ambilin kursi cepat!" Teriak Caca, dengan sigap Risma membawakan kursi plastik.


"Ayo duduk lagi Bu!" Caca menatap Risma yang juga sama menatapnya. Tepatnya khawatir pada Jeje, "minta tolong lagi yah… ambilin minum."


"Oke!"


Beberapa menit kemudian Risma kembali membawa air putih dan langsung di minum oleh Jessica.


"Sebaiknya Ibu tiduran aja dulu, nanti biar saya yang mengurus semuanya. Yang penting saya pinjam ruangannya."


"Iya Ca, anterin aku ke dalam ya. Kepalaku berputar-putar."


"Iya, saya telepon Pak Faris yah?"


"Jangan! Beliau sedang meninjau pembangunan kontrakan di pinggiran kota, jauh kasihan kalau harus balik. Beliau baru saja berangkat. Saya nggak apa-apa cuma butuh istirahat." Caca agak keberatan dengan jawabannya. Padahal sedang begini tapi nggak mau diperhatikan.


"Ya sudah, nurut aja sama Ibu deh." Akhirnya mereka berdua masuk kedalam ruangan.


Baru saja merebahkan dirinya di kasur, Caca merasa aneh. "Ca, kok aku pengen muntah sih?"


Belum sempat Caca menjawab Jeje membungkam mulutnya. "Hummpp." dan melarikan diri ke kamar mandi. Disana dia memuntahkan seluruh isi makanannya. "Huueekk… Hueekk… Hueekk.."


Caca yang melihat senyum-senyum sendiri, dia lantas keluar memberitahu salah seorang temannya untuk membelikan testpack. Lalu Caca kembali dengan membawa aroma terapi, makanan dan minuman hangat.

__ADS_1


Di lihatnya, Jessica sudah duduk di atas ranjang sedang memijat-mijat tengkuknya. "Sudah mendingan Bu?"


Jessica mengangguk.


"Ibu kapan terakhir menstruasi?" Jessica terdiam tampak sedang mengingat-ingat jadwal menstruasinya.


"Aku udah telat semingguan. Maksudmu aku hamil gitu Ca?" Binar wajah di Jessica terlihat jelas meskipun dia belum tahu pasti.


TOK...TOK...TOK…


"Masuk!"


Risma membawakan satu kantong plastik berisikan testpack dan diserahkan kepada Caca. "Terimakasih ya Risma!"


"Sama-sama teteh!"


"Testpack?" Tanya Jessica menatap asistennya.


Jessica berusaha berdiri walaupun lemas lalu menerima test pack itu untuk dipakainya lalu kembali masuk ke kamar mandi.


Harap-harap cemas, tubuh Jessica gemetaran. Jantungnya berdebar lebih cepat. Dia mencoba menutup matanya hingga hasilnya keluar. Semoga berhasil, semoga positif… semoga positif… Faris pasti sangat senang.


Jessica membuka matanya perlahan, dan "Aaakkhh !!" Tubuh Jessica ambruk ke bawah. Ingin loncat tapi tertahan takut perutnya terguncang.


"Bu! Ibu baik-baik saja kan?"


Dor! Dor! Dor! Caca menggedor-gedor pintu toilet mendengar Jessica berteriak.

__ADS_1


Ceklek!


"Garis dua Ca!!" Ucapnya saat dia membuka pintu. Matanya sudah menggenang air mata.


"SELAMAT !!! Ibu mau jadi orang tuaaa!!" Keduanya berpelukan. "Ya ampun nggak nyangka banget sumpah. Tokcer banget Ibu sama Pak Faris." Caca sudah mengoceh tidak jelas. Sementara Jessica malah sekarang sedang memikirkan bagaimana cara memberitahukan Faris.


Berarti pusing-pusing dan kram-kram perut dari kemarin itu hamil ya. Jessica nggak ngeh.


Melepas pelukannya, Jessica menatap asistennya. "Ini kejutan buat Faris, tapi gimana caranya ngasih tahu beliau yah. Biar terasa spesial gitu."


"Kapan ulang tahunnya Bu?"


"Sebenarnya bulan ini sih, tapi akhir bulan. Ini aja baru tanggal 20."


"Ya ampun Bu, kan cuma nunggu sampai sepuluh hari."


"Tapi aku nggak sabar ingin berbagi kebahagiaan sama suami Ca. Dia udah berharap banget, aku nggak sabar pengen liat gimana expresinya nanti."


"Hihi sabar atuh Mahmud! Nanti kasih kado itu aja biar surprize…"


"Iya-iya deh."


"Tapi harus langsung ke dokter OBGYN dulu Bu, periksakan kandungan. Minum susu hamil juga, penting buat pertumbuhannya. Kasihan dia, jangan di biarkan."


"Oke Ca, nanti anterin aku ke rumah sakit yaa."


"Siaaap..."

__ADS_1


….


TO BE CONTINUED.


__ADS_2