I Love You Jessica

I Love You Jessica
Lalu aku harus bagaimana?


__ADS_3

Sudah dua hari pengantin yang dibilang masih baru itu terlibat perang dingin. Faris lebih banyak beristirahat dengan Bagas dikontrakan. Ternyata, hidup sederhana itu lebih menenangkan. Bukan menyesali pernikahannya dengan Jessica, karena Allah yang menetapkan sesuatu padanya itu bukan karena kebetulan semata. Tapi ada maksud dan tujuan baik tertentu yang Faris sendiri tidak tahu.


Pada kenyataan, dulu dan sekarang jelas berbeda. Jika dulu hidupnya bebas dari pikiran, sekarang Faris harus mengurusi emosi yang menurutnya tidak perlu. Siapa juga yang tidak mau rumah tangganya baik-baik saja. Ya tapi Faris tetap manusia biasa. Melihat kelakuan istrinya membuat dia sedikit khawatir. Khawatir tidak berhasil membawanya ke jalan yang benar karena Jessica sudah menyelam terlalu dalam ke dunia kelamnya.


"Lagi anget-angetnya malah ditinggal tuh bini seksi." Ucap Bagas pada Faris yang sedang tiduran di karpet menonton TV.


Faris tersenyum tipis tanpa menoleh. "Anget-anget emangnya bubur ayam."


"Ya kali, kan masih baru." Bagas menjeda ucapannya. "Gimana? Udah belom?"


Faris terperanjat dengan pertanyaan Bagas. "Maksudnya?"


"Hewww itunya! Masa nggak tau dikasih kode."


"Oh… iya sudah kenapa? Kalau mau ya tinggal nikah."


Bagas membulatkan matanya. "Serius? Rasanya gimana?"


"Nggak ada rasanya, kan nggak dimakan."


Senyuman Bagas langsung surut dan mencebik kesal. Faris adalah laki-laki yang lempeng tidak bisa diajak kompromi kalau menyangkut hubungan ranjang. Padahal Bagas sudah penasaran bagaimana ganasnya suami istri itu. Bagas hanya menebak-nebak dalam hatinya. Pasti Jessica yang memulai.


"Ya udah aku balik dulu ya Gas."


"Hmm iya deh Mas, ati-ati ya. Makasih makan malamnya!" Faris tadi memang membawakan nasi goreng untuk mereka makan malam mereka berdua.


Faris meninggalkan Bagas setelah dirinya berpamitan dan mengucapkan salam.


***


"Faaa! Kamu baru pulang?" Tanya Jessica, dia sudah menunggu Faris berada diruang tamu.


"Iya Je," balasnya singkat.


"Sudah makan belum,kita makan malem bareng?"


"Aku baru saja makan bareng dengan Bagas. Kamu makan aja sendiri ya."


Jessica menelan kekecewaan. Inilah kali pertama Jessica merasa dirinya diabaikan. Ternyata rasanya sakit, berarti ini yang Faris rasakan dari kemarin-kemarin? Jessica merasa berdosa padanya.

__ADS_1


Faris memang menjawab pertanyaan Jessica setiap kali Jessica bertanya. Tapi hanya seperlunya saja. Tidak lagi berbasa-basi, Faris membatasi diri agar hatinya terjaga dari sengatan rasa sakit. Kenyataan yang pahit untuknya adalah saat Jessica lebih nyaman dengan pria lain daripada dirinya.


Salahnya dimana kalau seorang suami mengingat kan kebaikan? Apa perlu menceriakan aib keluarganya sendiri kepada orang lain? Buat apa? Minta dikasihani? Begitukah caranya Jessica selama ini menjalani hidup? Dengan mengumbar aib rumah tangganya sendiri dengan laki-laki lain yang sudah jelas-jelas menyukainya. Itu adalah hal yang paling fatal dalam berumah tangga.


Faris pikir selama ini Faris tidak menuntutnya macam-macam. Bahkan dia juga tidak pernah mengeluh jika harus mengurus dirinya sendiri. Mulai dari makanan, pakaian dan lain-lain. Tidak ada yang dilakukan dari Jessica untuknya kecuali penentangan. Faris sudah terbiasa hidup mandiri sedari kecil. Tapi masih saja Jessica merasa kurang nyaman dengannya.


Jessica mengekor dibelakang suaminya, mengikutinya sampai kekamar. "Fa! Sampai kapan kamu mendiamkanku. Aku butuh kamu bicara, maafin aku ya Fa."


Faris menatap sekilas. "Aku sudah memaafkan kesalahanmu. Dan aku selalu memaafkan kesalahanmu. Tapi kamu akan tetap mengulanginya terus dan terus. Begitu seterusnya. Jadi aku bisa apa?"


"Tapi kamu tetep aja dingin sama aku. Aku nggak mau diginiin Fa, rasanya nggak enak. Kita itu tidur satu kamar, nggak enak diam-diaman begini Fa..."


"Aku juga tidak merasa enak bila berdekatan denganmu Je, kamu merasa tersiksa denganku. Sampai-sampai kamu mengadu pada orang lain."


"Fa, maafin aku Fa. Tolong ajari aku hal-hal yang tidak boleh dilakukan sebagai seorang istri. Aku mau nurut sama kamu Fa."


"Untuk apa Je? Kamu pasti tidak suka, nanti malah kamu membentakku lagi. Cukup sampai disini, kamu cari sendiri saja apa yang menurutmu baik."


"Fa! Kenapa kamu jadi begini?"


"Lalu harus bagaimana Je, berbasa-basi denganmu? Membahas emosi yang tidak perlu? Aku membatasi diriku agar tidak sakit hati karena bentakan dan penolakanmu untuk dinasehati Je. Sudah aku tegaskan berulang kali maksudku baik, semua yang aku katakan itu hanya untuk melindungimu. Berpakaian sopan akan membuatmu lebih dihargai sebagai seorang perempuan. Aurat yang ditampakkan di depan orang asing, sehingga bisa menimbulkan fitnah. Kamu keluar tanpa izin suami terlebih dahulu dan pergi bersama orang yang bukan makhram. Kamu harus mengerti seberapa banyak letak kesalahanmu Je."


"Je!! Bangun Je! Kamu kenapa??" Faris meletakkan kepala Jessica dipangkuannya. Faris menepuk-nepuk pipi Jessica berulang-ulang.


"Bik!! Bik Wena!!! Bik Wena!"


"Iyaa Tuuaaann… " Bibik Wena menghampiri mereka berdua. "Astaga! Ya Allah kenapa ini si Non, kenapa Tuan?"


"Nggak tahu, cepat ambilkan kompresan sama kayu putih ya Bik. Hubungi dokter juga."


"Iya Tuaan…"


Bibik Wena kembali setelah mengambil kompresan dan kayu putih.


"Je, maaf ya Je. Aku ngomongnya keterlaluan ya, maafik aku Je… aku mencintaimu Je, jangan sampai kamu kenapa-kenapa." Faris sangat panik melihat Jessica seperti itu. Faris membawa Jessica ke kamarnya disusul oleh Bibik Wena. Badan Jessica yang panas segera dikompres sembari menunggu dokter datang.


"Maafin aku ya Je, lain kali aku nggak begini. Badan kamu panas Je, kamu nggak apa-apa kan? Sudah dua hari aku ngga perhatikan kamu." Jessica nggak kunjung sadar juga, kenapa?


"Tuan, Non Jessica memang susah makan dua hari ini." Ucap Bibik Wena yang ikutan panik.

__ADS_1


Faris menatap tajam Bibik Wena. "Astaga Bik, kenapa nggak bilang?"


"Ya ini sudah Tuan," bibi menjaga ucapannya. "Non Jeje selalu nungguin Tuan makan. Tapi kalau Tuan nggak makan, Non Jeje juga nggak mau."


"Ya ampun Je… kan kamu punya perut sendiri. Kenapa mesti nungguin aku. Kesehatan sendiri kenapa nggak diperhatikan." lirih Faris, tangannya sibuk mengompres istrinya.


"Saya kebelakang dulu ya Tuan, sebentar lagi dokternya datang."


"Iya Bik, makasih…"


"Sama-sama."


Beberapa menit kemudian dokter Candra datang.


Tok tok tok.


"Iya masuk saja dok," kebetulan pintu terbuka setengah. Lalu dokter masuk kedalam kamar.


"Malam Pak Faris, kenapa dengan Bu Jessica? Pingsan?"


"Iya dok, tolong periksakan istri saya, belum sadar juga sudah tiga puluh menitan. Dia juga demam."


"Iya, baik Pak Faris." Dokter mengambil stetoskop dan memeriksakan kondisi Jessica.


Setelah beberapa menit melakukan pemeriksaan, Dokter melepas stetoskopnya. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sebentar lagi juga Bu Jessica bangun. Tolong diperhatikan makannya juga ya Pak, istirahat juga yang cukup. Saya akan berikan resep obat dan juga vitamin. Nanti bisa ditebus di apotek terdekat."


"Jadi istri saya nggak apa-apa ya Dok.."


"Oh iya, tenang… Bu Jessica nggak apa-apa cuman butuh lebih banyak istirahat yang cukup dan juga makan yang teratur."


"Makasih dok."


"Iya Pak sama-sama, saya pamit."


"Bangun ya Je... jangan terlalu lama pingsan, kamu mengkhawatirkanku. Aku mohon Je."


Faris terus berusaha menyadarkan Jessica, menepuk dan mencium pipinya berulang-ulang sebagai permintaan maafnya.


....

__ADS_1


TO BE CONTINUED.


__ADS_2