I Love You Jessica

I Love You Jessica
Ditarik kedalam


__ADS_3

Selepas pulang dari makan dijalan, Bagas dipakaikan pakaian bersih dan ditunjukkan kamar yang kosong. Keduanya sedang berada diruang tamu sambil berbincang dan menyalakan televisi.


"Makasih ya Mas, aku dikasih baju dikasih kesempatan untuk tinggal sementara, trus mau dicarikan pekerjaan juga. Ternyata masih ada orang baik, sebetulnya aku sudah lama ngga hidup kaya gini. Pengin banget tidur ditempat yang teduh ngga kehujanan atau kepanasan. Aku ngga tau harus ngomong apa sama masnya hiks..."


"Ssshhhh... Ngga usah nangis Gas, kita kan memang harus saling tolong menolong." Faris menepuk punggung Bagas. Faris mengucapkan syukur, setelah mendengar cerita Bagas ternyata hidup Faris jauh lebih beruntung.


"Memangnya Mas ngga khawatir apa, aku kan orang lain. Kok bisa-bisanya percaya, kalau aku orang jahat gimana?" Bagas mencelos pertanyaan seperti itu, tapi Faris menanggapinya dengan wajah tenang.


"Aku ngga khawatirin orang jahatin aku Bagas, tugas kita didunia ini berbuat baik. Dan aku yakin kalaupun misalnya kamu orang jahat, kamu pasti tidak akan pernah tega menyakiti orang yang sudah berbuat baik sama kamu."


"Sesimpel itu?"


"Iya, memangnya harus bagaimana Bagas?"


"Aku mantan tahanan,"


"Lalu kenapa? Aku yakini semua orang jahat bisa berubah, apalagi dirimu." Tidak ada keterkejutan diwajah Faris diapun menjeda sejenak bicaranya,lalu melanjutkan lagi.


"Apa kasus yang membuatmu masuk penjara?


"Aku, aku... Akhhhh huuu.. Huu... Aku merasa bersalah." Bagas menangis semakin kencang.


Melihat Bagas sesegukan, Faris membiarkannya beberapa menit agar suasana hatinya jauh lebih tenang.


"Apa aku boleh mengeluarkan unek-unekku selama ini?" Tanya Bagas.


"Kenapa tidak, bicaralah Gas.." Bagas tampak ragu-ragu lalu berusaha menguatkan dirinya menghirup nafas dalam-dalam untuk mulai menceritakan masalalunya.


"Saat itu, aku membutuhkan uang untuk pengobatan ibuku yang sedang berada dirumah sakit karena terkena penyakit kanker. Biaya rumah sakit tidak main-main, keluar masuk aku dari sana mengeluarkan banyak biaya. Tapi aku bingung mau mencari uang itu dimana, sedangkan ayahku sudah tiada. Panjang ceritanya hingga aku khilaf menjadi pembunuh bayaran." Bagas menghela nafasnya lagi. Faris sangat iba mendengarnya.


"Saat aku akan menusuk sasaran, ada yang memergoki aku. Trus aku ditangkap warga, aku dipukuli hingga babak belur lalu digelandang ke kantor kepolisian. Orang yang akan aku bunuh itu tidak terluka sedikitpun, tapi ibuku meninggal tidak tertolong mas..."


"Aku merasa jadi anak yang tidak berguna saat itu... Hiks ...."


"Innanillahi..."


"Hanya rumahku yang tersisa pada saat itu, tapi habis untuk membayar administrasi rumah sakit dan lain-lain. Saat aku keluar dari bui, aku jadi gelandangan seperti ini."


"Sekarang, masih bisa makan saja aku bersyukur Mas..."


"Sabar Bagas, Allah kirimkan ujian itu karena Allah tau kamu kuat. Percayalah Gas!"

__ADS_1


Entah bagaimana rasanya jadi Bagas, Faris benar-benar pilu mendengarnya.


"Tinggallah disini, aku tidak punya keluarga. Sekarang kamulah keluargaku, begitu juga sebaliknya." Mata Bagas membulat seakan tak percaya. Dia kira Faris sedang bercanda.


"


"Jangan becanda Mas?"


"Aku serius Bagas," Mata Faris menunjukkan kesungguhan.


"Aakhh Huuu.. Huuu... Ya Tuhaaannn Terimakasih... Makasih Maaas huu..."


Bagas kembali menangis tersedu-sedu keduanya langsung saling memeluk terharu.


Hingga hari-hari berikutnya, mereka melakukan aktifitas sehari-hari seperti biasa. Saling membantu satu sama lain.


Bagas sudah bekerja ditoko material yang jaraknya beberapa meter dekat dengan kontrakan. Keduanya membagi tugas untuk mengerjakan pekerjaan rumah, kedekatan mereka layaknya saudara kakak beradik.


***


Faris merasa lelah dan mengantuk saat jam makan siang. Kemarin, Faris pulang larut malam. Kebetulan Faris menemukan lahan parkir yang lumayan luas dan kosong. Sepertinya kalau dilihat-lihat sedang dibangun. Tak ingin membuang-buang kesempatan dia langsung menepikan mobilnya.


Faris merubah kursi kemudinya menjadi setengah duduk dan langsung mengerjapkan matanya sebentar. Namun sepertinya nasibnya sedang kurang baik. Baru beberapa menit Faris terpejam dimobil, seseorang mengetuk kaca mobilnya.


Mata Faris langsung terbelalak saat mendengar ketukan. Setengah sadar Faris berteriak "Ya pak! Sudah sampai?"


"Sudah sampai kemana? Ke pulau kasur?" Jawab bapak itu cengengesan, sepertinya Faris mengigau.


"Eh astaghfirullah.... Maaf pak, saya tadi ngantuk banget. Jadi ikut numpang parkir sebentar, maaf ya pak."


"Iya setelah ini geser dulu, soalnya ada truk yang mau bongkar muat material disini Mas..."


"Oh iya sudah, kalau begitu saya langsung pergi saja pak. Maaf sekali lagi saya sudah parkir sembarangan..."


"Ngga usah! Disitu saja nggak apa-apa." Suara wanita tiba-tiba menyahut dari samping mobil. Rupanya daritadi Jessica memperhatikan mobil ini dan mengenali wajah sipengemudi saat tertidur.


"Eh, Bu Jessica katanya tadi suruh dipindah." Ucap Bapak tukang bangunan. Mendengar nama Jessica, Faris juga langsung keluar dari mobil.


"Saya permisi dulu Bu," Ucap Tukang bangunan, beliau membiarkan muda mudi inu berbicara.


"Nona, senang bisa bertemu lagi." Faris mengawali pembicaraan. Jessica mendekat dan seperti mengamati Faris lekat-lekat

__ADS_1


Mana ada sih yang parcaya bahwa dia cuma supir taxi online? Dia benar-benar ganteng. Kalau dilihat-lihat sepertinya dia pria yang baik, wajahnya kalem. Tapi kayaknya dia kurang nyaman kalau aku dekati seperti ini. Memangnya aku kurang cantik? Batin Jessica bertanya-tanya.


"E- Ehmm Nona, apa ada yang salah diwajahku?" Faris grogi dipandang wanita cantik sedekat ini, dia merasakan jantungnya terasa lebih cepat berdetak daripada biasanya.


"Iya ada salah, panggil aku Jessica! Aku bukan Nonamu."


"Iya Jessica, permisi tolong jangan sedekat ini."


"Kenapa gak boleh deket-deket. Harusnya kamu beruntung bisa didekati wanita cantik sepertiku. Apa menurutmu aku jelek?"


"Bukan begitu Jess.."


"Lalu?"


"Bukan apa-apa, tidak baik terlalu dekat dengan laki-laki."


"Aku ingin berbicara denganmu, ayo ikut aku kedalam. Kakiku terasa pegal terlalu lama berdiri."


"Tapi aku masih mau jalan lagi, aku harus bekerja Jessica..."


"Aku akan menggantinya nanti lima kali lipat. Kamu sudah banyak menolakku waktu itu. Aku tidak meneriman penolakan lagi, ayo !!" Tidak ada bantahan lagi dari Faris. Jessica menarik paksa Faris memasuki ruangan kerja Jessica yang sudah selesai direhab.


"Kamu sudah berjanji akan datang kerumah, gimana aku membalas kebaikanmu kalau begitu." Jessica terus mengomel tak jelas saat berjalan dari parkiran kedalam gedung. Mendengar wanita secerewet itu Faris hanya geleng-geleng kepala.


"Nah, ini ruanganku. Maaf masih berserakan kertas-kertas dan barang-barang. Tapi sepertinya masih oke sih kalau cuma buat ngobrol." Ucap Jessica ketika masuk kedalan ruangannya. Jessica langsung menutup ruangannya begitu saja.


"Eh eh eh Jessica jangan ditutup pintunya nanti jadi fitnah, kita cuma berdua disini.." Muka Faris berubah panik. Tapi tidak dengan Jessica yang begitu santai dan merespon dengan menaikkan alisnya.


"AC'nya mau dinyalakan. Gimana pula suruh dibuka Fa, ayo duduk santai aja. Paling aku cuma mau perk*sa kamu aja kok gak lebih kkkkk" Ucap Jessica menakut-nakuti.


Ahh sial, batin Faris menggerutu.Faris benar-benar bingung, lagi-lagi terjebak dengan wanita ini yang bisa saja menggoyahkan imannya. Lihat saja bodynya meliuk-liuk bagai gitar spanyol.


Sepertinya aku harus cepat-cepat pergi. Aku ngga bisa jamin kalau nanti kita berdua masih baik-baik saja. Dasar perempuan penggoda !!


.


.


.


.

__ADS_1


Like dulu sebelum lanjut.


__ADS_2