
Enam bulan berlalu semenjak kelahiran Khizam. Bayi laki-laki itu tumbuh berbadan gembul, kepalanya sudah tumbuh rambut yang lebat. Jessica suka sekali dengan rambut anak ini, pasti besarnya punya banyak jambang seperti ayahnya.
Khizam sudah mulai bisa membalikkan tubuhnya dari terlentang hingga tengkurap, merangkak, dan juga duduk. Khizam anak bayi yang sehat dan aktif, sudah bisa cooing dan mulai bisa makan selain ASI. Jessica mengurusnya dengan sangat telaten, mungkin karena anak pertama jadi sedang semangat-semangatnya.
Khizam yang mewarisi kecantikan dan ketampanan Ayah dan Bundanya menjadikan Khizam bayi yang mempunyai paras sempurna.
Didepan Faris duduk sudah terhidang sandwich, kentang, susu dan omelet untuk sarapan mereka berdua. Ruangan itu multi fungsi, bisa untuk makan, menerima tamu, atau duduk-duduk malas dan lain sebagainya. Maklum, mereka masih merangkak usaha.
"Mas sarapan sendirian nih?" Tanya Faris pada istrinya, pasalnya dia sudah memulai sarapannya tapi Jessica masih sibuk menyuapi Khizam.
"Mas duluan aja kan Mas udah mau berangkat, kalau nungguin aku kelamaan nanti." Jawab Jessica tanpa menoleh, Khizam makannya belepotan. Jessica mengusap mulut Khizam yang sedang sibuk mengunyah tapi juga sedang mengoceh. "A aa aa uuu…"
"Mau bilang apa sayang… "
Faris mendekati istrinya dengan membawa satu piring omelet yang sudah hampir dingin. "Biar Mas suapin kamu ya, aaa…"
"Kamu so sweet banget sih, makasih Mas Faris." Jessica lalu membuka mulutnya.
Setelah sepuluh menitan menyuapi Jessica, Faris mengganti pakaian. Berangkat saat istri masih kerepotan dan belum sarapan tentu membuatnya merasa bersalah. Jika tidak bisa membantu mengurusnya karena pekerjaan, setidaknya Faris bisa menyenangkan hati Jessica meskipun dengan cara sesederhana itu.
Faris tau, Jessica adalah wanita yang jarang mengeluh dan mengucapkan apa yang dirasakannya. Tapi beruntungnya Faris laki-laki yang peka sehingga, rumah tangga mereka begitu bahagia karena bisa saling melengkapi.
Selama beberapa bulan terakhir, Faris menekuni usahanya. Membuka toko material kecil-kecilan yang saat ini, mungkin bisa dikatakan berkembang pesat. Faris mengambil langkah berani, meminjam modal usaha kepada sejumlah rekan, dibantu dengan sejumlah uang tabungan Jessica. Faris punya pengalaman saat mengurus toko material William saat itu. Ya, Faris mengambil ilmunya dari sana. Alhamdulillah, berkat ketekunan dan keuletan Faris, usaha itu sangat mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari dan bisa membuka lowongan pekerjaan.
***
__ADS_1
Hari sudah sore pukul lima waktu setempat, pengiriman-pengiriman barang sudah selesai waktunya penutupan. Awan terlihat mendung, lwbih gelap dari biasanya.
Segelap hidupnya saat ini...
Beberapa menit yang lalu, Jessica mengirimkan pesan. Ada orang yang tidak dikenal wara-wiri terlihat bolak-balik dekat rumahnya. Dan itu membuat Faris tidak tenang. Faris sudah terlalu cinta dan bahagia bersama anak istrinya. Kekhawatiran William mengambil kebahagiaannya membuat Faris semakin cemas. Faris menyarankan Jessica agar mengungsi dulu ditempat aman, dan saat ini Jessica sedang tidak berada dirumah. Faris mengendarai mobilnya menuju ke hotel. Setelah ini, Faris berniat akan meninggalkan rumah itu.
Sesampainya di hotel…
"Assalamualaikum…"
"Waalaikumsalam," Jessica menjawab salam dari Faris saat bersamaan pintu itu dibukanya.
"Kamu sama Khizam gak apa-apa kan?" Tanya Faris posesif, dia segera memeluk istrinya dengan erat.
Sedang cemas seperti ini, Jessica masih saja bisa tertawa.
"Nanti biar Mas yang belikan." Faris menjawab tanpa melepaskan pelukannya. Hatinya begitu sakit, membayangkan istrinya tadi membawa Khizam dan tas besar dengan segala kerepotannya menuju kemari.
Melepaskan pelukannya, Faris melihat Khizam yang sudah tertidur pulas di kasur dengan empeng yang masih menempel di mulutnya. "Dede gak rewel kan?"
"Nggak Mas, dede anteng kok." Mereka berdua menuju ke sofa bed. "Setelah ini kita mau kemana?"
"Kita beli rumah baru di dalam komplek, yang pasti aman dan gak ada yang mengintai kita lagi…"
"Memangnya sisa uang tabungannya masih ada?"
__ADS_1
"Masih, kamu tenang saja…"
"Mas, sampai kapan sih hidup kita tenang." Jessica menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya. "Aku lelah hidup kayak gini, hidup sederhana gak masalah buatku Mas, tapi jalan hidup kita yang gak sederhana ini membuat kita selalu was-was."
"Jangan mengeluh dengan rencana Allah sayang. Percayakan pada Dia, maha pemberi kehidupan."
"Iya Mas Faris, maaf sudah mengeluh…"
"Gak apa-apa…"
"Aku… aku mencintaimu Mas Faris,"
"Apa kamu bilang?"
"Kenapa mesti diulang-ulang. Kan jelas tadi ngomongnya."
"Tapi aku suka mendengarnya, karena ini pertama kali kamu mengatakannya sayang. Meskipun Mas tau betul kamu juga punya perasaan yang sama."
"Ya aku cintalah sama kamu. Kalau gak cinta mana mungkin aku ngejar-ngejar kamu Mas. Aku mau menikah denganmu karena aku cinta sama Mas Faris. Emang Mas Faris pikir gimana?"
"Kamu gak pernah bilang cinta dari dulu."
Bagi Jessica, mengatakan cinta tidak selalu dengan perkataan. Tapi tindakan. Dan dia sudah menyatakannya setiap hari.
Jessica tidak menjawabnya, malah mengajak suaminya berbaring. Melakukan seperti apa yang biasa mereka lakukan. Malam itu menjadi malam yang panjang untuk kedua insan yang sedang melakukan kewajiban.
__ADS_1