I Love You Jessica

I Love You Jessica
Aku lelah hidup ngga jelas


__ADS_3

Faris merundung, dia berada disebuah tempat yang sejuk dan rindang pepohonan. Hatinya menangis sedang memikirkan kejadian tadi yang dialaminya. Wanita yang dikenal baik dan pernah dipuji-pujinya itu berbuat senonoh. Bukan sakit hati karena berpisah, bahkan Farispun tidak mengerti bagaimana perasaan yang sesungguhnya terhadap Aisyah. Adakah rasa cinta?


Rasa cinta itu ada, tapi kadarnya sedikit. Perasaan itu tumbuh memang karena sudah sering bersama setahun lamanya. Hanya sekedar itu, tidak lebih. Hubungannya tidak sedekat yang orang pikirkan.


Kalau ada yang bertanya ngapain aja selama setahun ini? Faris hanya berkomunikasi layaknya teman biasa. Ya, itu syarat yang diajukan Faris pada Aisyah untuk tidak melakukan kontak fisik berlebihan selama mereka belum dihalalkan. Dia berpacaran sewarnya saja. Bahkan sekedar saling mengirim pesan pun sangat jarang.


Mengingat balik kejadian tadi membuatnya frustasi, bisa-bisanya Aisyah melakukan itu. Tidak pernah menduga sebelumnya.


Lalu bagaimana jika tadi yang dihadapan Aisyah bukan dirinya? Kenapa Aisyah menjadi wanita rendahan? Bagaimana kalau dia melakukan adegan senonoh tadi dengan laki-laki lain? Apa begitu tidak sabarnya dia menahan sentuhan.


Kalau seandainya bukan Faris, pasti sudah habis dia dijamah oleh laki-laki brengs*k bukan? Aaaarrghhh!! Aisyah memang wanita bodoh. Apakah perasan cinta membuatnya jadi perempuan bodoh, atau memang dia sudah biasa seperti itu?


Dan mengenai Jessica. Dia cemburu terhadap Jessica. Apa maksudnya Aisyah cemburu dengan wanita itu. Bahkan tak pernah terbesit dihati Faris untuk menghianatinya. Kalau kagum iya, sebagai laki-laki Faris memang mengaguminya. Siapa juga yang tidak kagum, Jessica yang kecantikannya diatas rata-rata. Bisa dibilang sempurna Allah menciptakannya. Bila Faris membandingkan dengan Aisyah tentu beda jauh.


Jessica memang lucu, cerewet dan menghibur. Jika dilihat-lihat memang ada sifat yang Faris sukai, yaitu cuek dan kelihatan orang yang tidak banyak menuntut.


Bisa-bisanya dia cemburu dengan Jessica. Apakah Aisyah berfikir Faris berhubungan dengannya? Aneh sekali, batin Faris.


Faris masih berdiam diri ditempat itu, mencoba menelaah kata-kata Aisyah tadi pagi. Namun dia terus menggeleng, Faris tidak menemukan jawaban sesungguhnya kenapa Aisyah berbuat demikian. Apa sikap Faris selama ini menyakitinya?


Aisyaaaah, Faris benar-benar pusing.


***


"Dave?!" Pekik Jessica. Kaget tiba-tiba datang kebutiknya. Waduh, mau ngapain? Wajah Jessica berubah pucat.


"Kok kamu belum pulang? Udah jam segini lho?"


Dave ndusel, ndusel keceruk lehernya ngga tahu malu. Menyebalkan sekali orang ini. Kalau ngga ada orang sudah dicekik dia. "Lagi sibuk! Banyak orderan, tunggu disana kalau mau ngobrol. Banyak karyawan yang melihat." Tolak Jessica segera menyingkir.


Raut wajah Dave berubah seketika, dia benar-benar merindukan gadis itu. Tapi disaat itu juga dia sadar dia bukan siapa-siapa Jessica.


Dave kembali mendekat. "Jangan deket-deket! Jaga jarak social distancing kurang lebih satu meter." Gertak Jessica.

__ADS_1


"Lupa ya, sama temen sendiri, ngga pernah ditanya kabarnya. Kita masih teman kan?"


Jessica melirik tajam mendengar "Temen-temen, temen-temen lama-lama jadi demen. Aku ngga suka kamu nempel kaya tadi!"


Dave semakin menggerutu, "ngga ada ahlak."


"Sesama ngga ada ahlak jangan saling mendahului!" Jessica tidak mau mengalah.


"Ini undangannya udah dicetak, minggu besok acaranya Citra. Aku ngga punya pasangan, aku mau ditemani sama kamu." pinta Dave.


Jessica tak mengindahkan kata-kata Dave. Sudah tau sedang sibuk membantu mengemas pesanan, kedua tanganpun penuh dengan barang. Masih saja mengganggu terus. "Iya tau, nanti ngobrolnya. Tunggu diruangan! sana-sana!" Jessica mendorongnya jauh-jauh.


"Cepat ya, kalau ngga cepat, butikmu aku ledakin sekalian." Ancam Dave bercanda.


"Kalau ngga sabar pengin pergi keahirat jangan ngajak-ngajak, aku belum ngerasain yang namanya kawin." Celetuk Jessica, Dave langsung tergelak tawa mendengar celotehannya.


"Dave berisik ! Pergi sana!" Usir Caca, rupanya ada yang kesal karena konsentrasinya terganggu.


"Iya kerbau!"


***


"Ica, ayoo minumlah, dikit doang." Dave menyodorkan botol minum miliknya. Mereka berada disebuah club malam, tempat biasa mereka nongkrong.


"Engga Dave dadaku sudah sakit terlalu banyak minum ahir-ahir ini. Kesehatanku sudah terganggu, ini terahir kali aku pergi kesini, aku ingin berubah aku sudah malas. Aku dah capek! Hidup kaya gini-gini terus. Jangan pengaruhi aku lagi."


"Baiklah, kalau memang maumu begitu. Tak masalah, aku pergi dulu." Jessica bingung sendiri. Kenapa Dave marah? Jessica mengejarnya dan menghentikan langkah Dave.


"Tunggu dulu Dave, apa yang membuatmu marah? Hmm? Kamu ngga suka aku menjauhi barang-barang haram itu?"


"Bukan aku tidak suka, aku hanya takut kamu menjauhiku." Dave mejeda perkataannya, "apa karena laki-laki itu?'' tanya Dave menyelidik. "Dia hanya seorang driver online, mana mungkin kamu suka padanya? Sampai membuatmu berubah?"


"Aku berubah bukan karena siapapun. Sekalipun orang yang kamu maksud adalah Faris. Aku berubah karena diriku sendiri. Aku lelah harus mengikuti pergaulan yang tidak jelas ini. Hatiku tidak pernah merasa tenang. Aku ingin damai..." Jessica berkata dengan sedih.

__ADS_1


"Kamu sudah menyukainya?"


Jessica tau, selama ini Dave memata-matainya jelas itu sangat mengganggu. "Suka atau tidak suka, itu bukan urusanmu! Kenapa kamu jadi hobi menguntitku Dave? Kamu sudah salah melanggar privacy seseorang."


"Aku hanya ingin melindungi, karena aku mencintaimu," tangannya terulur menggenggam tangan Jessica dan menempelkan dibagian dadanya "karena kamu sudah lama berada disini."


Jessica menggeleng pelan. "Jangan hancurkan persahabatan kita Dave, kita hanya berteman, kamu sudah aku anggap sebagai kakak. Tidak lebih." Jessica melepaskan tangannya. "Carilah pasangan yang sependapat dan sehobi denganmu. Tolong biarkan aku mencari jalan sendiri."


"Aku butuh waktu untuk menerima kata-katamu Ica. Ditolak berkali-kali sama kamu bikin aku takut memulai suatu hubungan dengan orang lain. Aku harap, kamu membantuku menyikapi masalah ini sebagai seorang teman. Aku jatuh cinta baru sekali ini, meskipun aku sering berhubungan ranjang dengan perempuan. Mungkin itu kedengarannya menjijikan, itu salah satu yang membuatmu menolakku, iya kan?"


Jessica enggan menjawab meskipun itu salah satu alasannya.


"Aku berhenti bermain perempuan sejak mengenalmu dan mempunyai perasaan lebih sama kamu. Disitu aku baru tau, mencintai tidak harus melakukan hubungan seksu*l. Seperti yang sering kulakukan."


"Its ok! Fine ngga masalah, aku bukan laki-laki yang lemah. Hanya karena ditolak satu wanita aku akan menangis? No no no no !" Dave menggerak-gerakkan jari telunjuknya. Jessica tersenyum mendengar ucapan Dave yag seperti itu. Artinya dia tidak marah, Jessica langsung memeluk sahabatnnya dan menepuk pundak kokoh itu setelahnya.


"Hah, sudah kubilang kan. Kamu itu playboy, masa merasa patah hati gara-gara satu wanita sepertiku yang ngga ada apa-apanya. Ngga ada yang menonjol kecuali... Bagian dada."


"Ngga, ngga ngga. Kamu itu spesial, sangat spesial." Ucapnya disertai tawa.


"Maafin aku ya Dave, aku ngga bisa balas perasaanmu. Aku benar-benar minta maaf." Jessica berkata dengan sangat tulus.


"Sudah, tidak apa-apa. Aku akan berubah juga kalau begitu. Aku ngga ingin jadi buaya lagi, tapi mau jadi kucing." Jessica mengernyit. Ahh masa sih batinnya.


Melihat ekspresi Jessica yang seperti tidak percaya, Dave menambahi kata-katanya. "Kucing garong maksudnya!"


"Ppfftttt sudah-sudah ngga ada bedanya kamu Dave dasar bodoh. Sudah sana pergi, katanya mau pergi."


"Iya... Aku mau pergi."


"Pergi kemana, pulang kan?


"Engga ketoilet."

__ADS_1


"Asem !! Udah drama-dramaan ngejar-ngejar kamu daritadi malah jawabannya mau ketoilet. Ngga ada ahlak kamu Dave."


To be continued.


__ADS_2