
"Mas, mau kemana? Baru juga pulang." tanya Bagas pada Faris yang sudah bersiap-siap menenteng kunci mobilnya.
"Ini udah jam lima, Aisyah minta dijemput."
"Oohhh ikut ya, aku mau beli sesuatu" pinta Bagas, dia segera mencari-cari sandalnya untuk ikut pergi.
"Iya..." Faris menuju kemobil dan menyalakan mobil.
***
"Jauh ya Mas, tempat kerjanya bojomu itu?"
''Sebentar lagi sampai," mata Faris fokus mengemudi.
Setelah sampai didepan butik Jessica, terlihat Aisyah bersama teman-teman yang lain yang sedang menunggu jemputan. Begitu juga terlihat Jessica yang sedang mengintruksi para pegawainya. Sedikit terdengar Jessica meminta agar besok datang lebih pagi karena pesanan online sedang membludak.
"Mas, tunggu aku dulu ya. Aku mau kesupermarket sebentar." Bagas izin pergi kesupermaket yang kebetulan tak jauh dari butik Jessica.
Setelah beberapa cemilan dan kebutuhan lain terbeli, Bagas kembali kedepan butik membawa beberapa kantong kresek. Ketika mendapati Faris sedang berbicara dengan Jessica dan Aisyah, Bagas tidak terlalu fokus dengan apa yang ada didepannya, hingga bertabrakan dengan seseorang.
BRUKK !!
Bagas terjatuh dan sialnya tertimpa badan besar, membuatnya mengerang kesakitan. Kantong belanja yang berada ditangannya jatuh berserakan. Faris, Aisyah dan Jessica langsung menoleh kesumber suara gaduh itu. Rupanya Bagas tidak bisa serta merta terbangun karena bobot yang menimpanya lebih berat.
"Astagaa! Bagas, Cacaaa !" teriak Jessica, Faris tidak bersuara tapi langsung menghampiri menolong kesusahan mereka.
"Kenapa bisa begini, kalau jalan hati-hati." ucap Faris, Aisyah memunguti barang belanjaan yang terjatuh berserakan.
"Ini gara-gara mahluk besar ini !" jawab Bagas yang menahan marah dan malu.
"Enak aja, ini semua salah kamu. Dimana-mana kalau berpapasan itu, kita harus berada disisi kiri. Kamu malah jalannya ketengah terus!" jawab Caca kesal.
"Alahhh... Biasanya juga aku jalan ngga pernah nabrak. Kamu tuh yang badannya super besar, jumbo, lebar, buntelan karung." Bagas dan Caca saling mengejek satu sama lain. Aisyah dan Jessica hanya menanggapi degan tawa lucu.
"Huusssttt sudah-sudah!" Lerai Faris membuat mereka berdua terdiam. "Mendingan kita pulang sekarang, kalian berdua sama-sama salah. Lain kali kalau jalan lebih hati-hati."
"Aku yang dirugikan karena dia menimpa tubuhku. Bisa dibayangkan betapa beratnya dia." Bagas tidak mau kalah.
"Sudah, sudah Gas jangan diperpanjang, ayo kita pulang sekarang." Faris terus melerai keduanya.
__ADS_1
"Rencananya kita mau makan bersama dikontrakan kalian Gas biar rame. Aku kepengin tau gimana rasanya masakan kaliaaan." mendengar suara Jessica, emosi Bagas seketika meredam.
Kelima orang itu segera memasuki mobil Faris, dengan Faris berada dikemudi dan Aisyah disampingnya. Ditengah, sudah ada Jessica yang menempati tepat dibelakang Faris. Cacapun memasuki mobil dan duduk disebelah Jessica.
"Hei, hei, hei !" Bagas melotot kepada Caca. Lebih tepatnya tidak suka dia berada disitu. "Kamu tau ngga kalau kamu duduk disitu?"
Caca menatap balik Bagas yang masih saja marah padanya. "Memangnya kenapa?" tanya Caca.
"JEBOLL !" jawab Bagas membuat mereka hampir tertawa namun ditahannya karena Caca mengerucutkan bibir dan wajahnya pun mendung sebentar lagi bisa hujan kalau ditertawakan. Tapi meskipun begitu, mereka tetap duduk tenang bertiga ditengah.
Sesampainya dikontrakan, mereka semuanya berkumpul ditengah dengan hidangan cemilan seadanya. Faris yang menyiapkan teh dan beberapa gorengan dan buah dibantu oleh Aisyah. Hmm makan-makan dan cemilan besar.
"Ini sih penipuan !" celetuk Jessica yang sedang membuka tutup kaleng. Rupanya isinya tidak sesuai.
"Kenapa Bu?" tanya Aisyah, dia bersikap sopan kepada Jessica karena dibutik, semua bawahannya memanggilnya begitu.
"Kalengnya khong gu*n isinya rempeyek kacang. Ini juga kalengnya tango isinya krupuk soto." Jawab Jessica dengan raut wajah kecewa. Tidak sesuai ekpektasi.
"Ha.... Haa... Haaaa..." Mereka semua tertawa. Tapi walaupun begitu, Jessica tetap memakannya. Jessica bukan termasuk pemilih makanan sebetulnya. Walaupun dari kecil terbiasa makan makanan yang sehat dan mahal, tapi tetap saja makanan-makanan seperti itu masuk keperutnya.
Sementara didapur Bagas sedang mengulek sambal dan meracik beberapa masakan. Beruntung Jessica membawakan beberapa bahan masakan. Kalau tidak, makan malam bisa gagal karena bahannya dikulkas sedang kosong. Mereka tidak delivery karena Jessica penasaran ingin menikmati bagaimana rasanya masakan para laki-laki itu.
"Hiiitaaam, orangnya hitam. Baunya busuk, ngga mandi-mandi...πΆπ΅" Bagas bernyanyi dengan tangan masih bergoyang diatas ulekan. Kebetulan ada Faris yang nongol kedapur akan membantunya.
"Hehehe. Kirain ngga ada orang."
"Kalaupun ngga ada orang, kan kedengaran sampai depan. Suaramu kan keras." Jawab Faris. "Ini wajan buat apa?" tanya Faris, tangannya sudah memegang spatula.
"Itu buat ngrebus minyak."
"Manasin minyak kali."
"Iya kan buat goreng ikan,"
"Mau goreng ikan apa nih, aku nyalain kompornya ya." Farispun menjetekkan kompornya.
"Tadi sih mau goreng ikan bandeng, tapi banyak durinya, trus ngga jadi deh."
"Trus jadinya ikan apa?"
__ADS_1
"Ikan lele, tapi aku ngga seneng, trus ngga jadi juga."
"Lah gimana sih, trus jadinya mau goreng ikan apa nih Gas?"
"Ikan patin mas, eh tapi ngga jadi ding. Ikan patin susah, trus jadinya mau goreng ikan nila."
"Yaa ampuun Bagas, kenapa dari tadi jadi muter-muter. Kenapa ngga ngomong aja mau goreng ikan nilaaa..."
"Iya Maaaas aaaaaaa !!"
"Itu dah dicuci sama dikasih bumbu tinggal digoreng aja." Faris sempat menjewer kupingnya karena kesal.
Satu jam kemudian, dengan dibantu oleh para ciwi-ciwi, semua masakanpun matang. Dan makanan siap tersaji diruang tamu. Karena memang ruang makannya ngga ada jadi apa boleh buat.
Semuanya makan dengan lahap. Kemampuan memasak mereka ngga diragukan lagi. Sama-sama enak seperti yang mereka makan dari olahan tangan perempuan.
"Ini ikannya masih tersisa satu, ayo siapa yang mau ngabisin." tawar Bagas kepada yang lain.
"Ngga ada yang mau ikan itu Bagas, ikan yang kamu goreng gosong." jawab Faris.
"Ini bukan gosong, tapi kekeringan." Padahal sudah jelas gosong, tapi tetap saja hasil gorengnya ngga mau dibilang gosong. Faris menggeleng-gelengkan kepalanya. Huuhh! terserah kamu lah.
Alhasil, Bagas sendiri yang memakannya sampai habis. Mau itu gosong apa engga, rasa ngga ada bedanya dimulut Bagas.
Setelah selesai makan, mereka shalat maghrib berjamaah dengan Faris yang menjadi imamnya. Ada rasa tentram dihati Jessica, suara merdu Faris membuat hatinya tersentuh dan sempat meneteskan airmata.
Entah sudah berapa lama dia tidak melakukan itu, sehingga gerakan-gerakan dan doanya sedikit lupa. Jessica berdoa dalam hatinya agar bisa dipertemukan dengan imam seperti Faris yang bisa membimbingnya kelak.
Takjub!
Setelah selesai shalat, Faris menoleh kebelakang dan saat itu juga senyum mengembang dibibirnya. Takjub melihat wajah Jessica yang berbalut mukena putih. Betapa cantiknya dia, sejuk dipandang dan terlihat anggun. Seakan pandangannya tak mau berpindah dari objek itu sebelum Bagas menyenggol sikutnya.
"Kamu cantik..." Ucap Faris menatap Jessica dan blusshh, wajah Jessica langsung merona dibuatnya. Rasanya beda, banyak orang lain yang memujinya seperti itu selama ini tapi tidak berefek apapun. Tapi saat Faris yang memuji Jessica langsung merona, wajahnya kemerah-merahan.
Tapi dibalik dua kata yang keluar dari mulut Faris, ada yang sedang bergemuruh hatinya. Ya, Aisyah yang sedang terbakar cemburu. Bagaimana tidak? Dia memuji perempuan lain dihadapannya.
"Maaf, Jessica terlihat cantik kalau memakai mukena." Ucap Faris untuk meredakan kecemburuan yang sangat ketara diwajah Aisyah.
.....
__ADS_1
To be continued.
Like sebelum next kebab selanjutnya yah.