
Pagi yang cerah, tapi tidak dengan Faris dan Jessica. Mereka berdua sepertinya tidak akan pernah menikmati pagi lagi mulai hari ini. Menjalani hidup saja, rasanya enggan karena terasa sangat pahit.
Angin lembut menyapu wajah keduanya yang sedang berada di pelataran hotel, yang tengah berbicara secara tidak baik-baik. Terlihat gurat-gurat kesedihan di kedua pasang bola mata suami istri itu. Kornea mata menelisik birunya langit yang sedikit tertutup awan putih kapas. Seketika pikirannya menyeruak. Bagaimana dengan nasib dirinya dan anak istrinya dikemudian hari?
"Lebih baik Nona Jessica ikut dengan kami Kami bernegosiasi dengan kalian tanpa kekerasan atau suami anda kami habisi sesuai perintah Tuan William."
Laki-laki berdarah biru yang tidak berkurang aura ketampanannya walau sudah semakin tua itu, keluar dari mobil bersama dengan istrinya. Jalannya kian mendekati sepasang suami istri yang sedang dihakimi oleh kekuasaannya.
"TUAN WILLIAM !!" Bentak Faris, membuat William tersenyum mengejek.
Ya, mereka sudah tertangkap basah saat mereka berdua sarapan di lantai satu hotel yang mereka tempati. Beruntung Khizam telah dititipkan oleh bellboys yang kini sedang berada di playground mini, masih dihotel yang mereka tempati.
"Lepaskan putriku dari jeratmu yang sok alim!" Kata-katanya terdengar dalam. Jerat yang bagaimana maksud Faris, dia tidak akan pernah mengerti letak kesalahan terbesarnya dimana...
"Papi!! Kalau Papi membenci Mas Faris kenapa Papi dulu menikahkan kami! Apa Papi sakit jiwa! Setelah menikahkan kami lalu meminta kami bercerai?" Jessica turut bicara walau air matanya susah dikendalikan.
"Karena Papi baru tahu kebejatannya setelah kalian menikah. Dia hanya menginginkan harta kita nak."
"Mas Faris tidak seperti itu Pih, Papi salah…" Bela Jessica terhadap suaminya.
"Kamu melawan orang tuamu apakah itu baik? Pasti kamu terpengaruh oleh dia kan?"
"Kenapa sih Pi, ada apa sama Papi. Kenapa Papi berubah semenjak Mami datang. Apa salah Faris Pi..."
"Ayo Nak, pulanglah bersama kami. Tinggalkan laki-laki ini. Kamu bisa dapatkan suami yang lebih kaya, lebih baik daripada dia." Sahut indira. "Mana cucu Mami nak, pasti dia sudah besar? Iya kan…"
"Kalian tidak mempunyai menantu ataupun cucu dariku semenjak memperlakukanku secara keji. Seandainya ada, dia darah dagingku. Kalian tidaklah berhak." Jawab Faris dengan lantangnya dan membuat jari tangan William mengepal.
"Kurang ajar!! Kamu apakan cucuku!!"
__ADS_1
"Dia sudah mati semenjak Kau hina menantunya!"
Tangan William menunjuk kepada Faris hendak mengumpatnya. "Kamu memang baj*ngan!! Kamu tidak pernah bisa menjaganya bukan?! Anakku tidak pantas bersanding denganmu."
"Kau yang membunuhnya saat Kau mengejarnya beberapa bulan lalu!!"
"Kembalikan putriku?!"
BRAKK!!
Faris menggebrak meja dengan kerasnya. Lelaki yang sesabar dia saja sudah muak rasanya. Apalagi orang lain... Ya, Faris sudah tidak dapat menahan kesakitannya lagi. Perasaan kehilangannya begitu besar terhadap wanita yang ada disampingnya. "Mau sampai kapan kalian mengejar kami hah?! Apa salah saya sehingga saya tidak boleh hidup dengan istri saya sendiri?! Saya bahkan tidak tahu letak kesalahan saya dimana dan sebesar apa kesalahan saya. Saya korban fitnah. Saya tidak pernah melakukan perbuatan asusila, saya juga tidak menginginkan harta apapun dari anda Tuan William! Saya tulus mencintai putri anda!!"
"Papi… sudahlah Papi, hentikan pertikaian ini Pih, Jeje sudah lelah... hiks…."
"Kalau kamu lelah, kamu ikut kami. Akan ku nikahkan kau dengan seseorang yang lebih baik lebih kaya darinya." Tatapan William beralih pada Faris yang saat ini sedang menggenggam erat tangan istrinya. Hatinya berkecamuk. Beginikah nasib orang kecil, sampai cinta pun takkan pernah bisa ia dapatkan… "Talak anakku segera!!"
Deg!!
"Orang tua yang menyarankan anak-anaknya untuk bercerai itu ibarat manusia yang sengaja merobohkan masjid yang berdiri kokoh Tuan William."
Faris menjawab dengan lantang tanpa keraguan. Membuat William merasa tertohok, ada setitik rasa iba dihatinya. Tapi pengaruh wanita disampingnya sepertinya lebih besar daripada rasa welasnya saat ini.
"Ceraikan putriku!!"
"Papi !!"
"Ayo pulang atau dia," tunjuknya kepada Faris. "Tidak akan selamat!"
Jessica menoleh kepada Faris, air matanya tak terbendung semakin luruh membasahi pipi cantiknya.
__ADS_1
"Sayang, dengarkan aku. Jika kamu ingin bertemu denganku lagi suatu saat nanti, ikutlah bersama mereka. Bersabarlah hingga waktunya tiba."
"Nggak Mas, nggak! Aku ingin tetap bersamamu, sekarang ataupun nanti."
"Sayang, jika kamu egois. Aku takkan selamat. Kita mungkin tidak bisa bertemu lagi. Mas mohon sayang, bersabarlah. Keadilan pasti Allah tegakkan untuk kita."
Keduanya saling memeluk dengan hati tersayat. "Khizam aman bersamaku, kami akan menunggumu kembali. Mas janji akan mendidiknya dengan baik. Percayalah. Jangan katakan pada mereka Khizam masih disini… biarkan mereka tahu Khizam telah tiada.." ucap Faris berbisik di telinganya.
Jessica menganggukkan kepalanya lembut. "Aku mencintaimu Mas…"
"Ya aku juga mencintaimu. Aku menunggumu hingga kamu kembali bersama kami. Hubungi aku dengan nomor yang sama. Aku takkan menggantinya."
"Lepaskan putriku! Jangan pengaruhi dia!" William menodongkan pistolnya sekedar memberikan ancaman.
Keduanya lalu terpaksa melepas pelukan.
"Bawa aku kembali, jangan sakiti suami saya." Semua ajudan William terlihat saling menatap. "Ayo bawa aku!"
Ada rasa sakit dan tak rela diulung hatinya. Jessica berbalik kembali memeluknya sebelum benar-benar pergi. Ya Tuhan... sakit sekali rasanya harus berpisah dengan dua laki-laki yang sangat di cintainya.
"Mas, aku pergi dulu ya… Mas harus sehat, jangan pikirkan aku. Aku pasti baik-baik saja. Jangan sedih lagi ya, kita masih berada dibawah langit yang sama kok, Aku titip Khizam…" bisiknya dengan pandangan berkabut. Bagaimana mungkin ada seorang ibu yang tenang meninggalkan anak bayinya.
"Tau gak Mas, kamu adalah laki-laki terbaik, termanis dan teromantis yang pernah kumiliki. Kamu laki-laki yang sholeh Mas, terimakasih sudah menyentuh hatiku. Mengajarkanku banyak kebaikan. Aku mencintaimu… Dadah Mas, titip salam rinduku untukmu ya. Sudah lah, aku gak kuat lama-lama didepan kamu. Nanti aku nangis lagi… dah sayang!"
Jessica ditarik oleh ajudan ke dalam mobil, tangannya melambai kepada Faris. Mengatakan perpisahan.
Malam kemarin hari ini adalah pertama dan terakhir kalinya Jessica willblood menyatakan cinta pada Haikal Faris. Faris mengusap air matanya kasar. Lalu berjalan linglung, menuju ke play ground menemui putranya yang telah ditinggalkan oleh seorang ibu. Hatinya benar-benar basah. Entah kapan lagi mereka akan bertemu kembali.
Faris hanya bisa berharap keadilan Tuhan...
__ADS_1
TO BE CONTINUED