I Love You Jessica

I Love You Jessica
Apakah itu kamu sayang!


__ADS_3

Faris tengah terduduk di balkon kamar, dia tengah menatap kartu atas nama Aisyah. Dia sudah mengenakan baju formal untuk acara... lamarannya. Detik demi detik semakin berlalu, detik demi detik itu juga dia semakin gusar. Dia tengah bertanya-tanya pada diri sendiri. Kenapa dia harus melakukan ini? Secepat ini? Untuk apa?


Tepatnya dua minggu yang lalu, dia memberi kepastian pada Aisyah untuk melamarnya. Sejak dua minggu lalu, hubungannya sudah semakin dekat. Faris dan Aisyah sering bertukar pesan. Menanyakan kabar, menanyakan kondisi Khizam, dan percakapan pembahasan lainnya. 


Terlintas di benak Faris tiba-tiba mendadak ingin membatalkan acara lamaran ini, dia tidak merasa tidak mantap lagi setelah menatap foto istrinya. Dia rindu yang teramat sangat. Dia sejenak merasa telah menghianatinya. Bagaimana jika seandainya dia sudah menikah kemudian Jessica-- Faris tidak melanjutkan monolognya.


"Mas Faris masih lama di dalam?" Teriak suara dari luar pintu, yaitu Bagas.


"Masuk saja Bagas!" jawab Faris sedikit keras dari dalam dan Bagas membuka pintu mendekati sahabatnya yang sedang hampir putus asa, menghadap balkon dengan pandangan menunduk.


"Kenapa Mas, mendadak ragu?"


"Ya kamu benar Bagas, aku takut salah mengambil keputusan. Aku ingin membatalkannya, aku merasa menghianati istriku."


"Keluarga sudah menunggu di bawah Mas, Papi dan Khizam semuanya sudah bersiap. Semuanya seserahan sudah siap, hanya tinggal Mas saja." Bagas duduk di sebelahnya, mencoba duduk lebih dekat lagi agar lebih nyaman. "Mas, kalau ragu, jangan lakukan. Tidak ada yang memaksamu. Lebih baik urung dari sekarang, karena jika sudah semakin jauh akan lebih sulit melepasnya. Pihak perempuan yang akan lebih malu."


Faris menatap Bagas sekilas, lalu menundukkan pandangannya lagi. Ada rasa bersalah terbesar di hatinya harus membatalkan acara lamarannya dengan Aisyah. Padahal, hubungan Faris dan Bapaknya Aisyah sudah membaik seperti biasa. Tapi sepertinya, jika mendengar kabar seperti ini, pasti beliau akan kembali marah. Dan Aisyah kembali terpuruk. Tapi menurutnya itu lebih baik. Daripada terlanjur menikah tanpa cinta dari seorang suami.


"Mas, jangan sampai salah ambil keputusan ya. Dua minggu menurutku itu adalah waktu yang cukup lama untuk memutuskan sesuatu. Dan aku pikir Mas Faris sudah memikirkannya matang-matang. Tapi ternyata, sudah sampai di sini Mas malah masih meragu."


"Mas mau dapat perawan lagi!" Ucap Bagas menghibur.


Faris terkekeh. "Kamu cerewet sekali, tapi kamu benar. Tapi aku tidak mempermasalahkan itu, perawan atau tidak perawan sama saja!"


"Jadi bagaimana?" Tanya Bagas yang kemudian hanya dibalas senyum oleh laki-laki di sebelahnya. "Dih, dih senyum-senyum. Jangan senyum-senyum gigimu bau pete!" Ejeknya.


"Enak saja, aku wangi begini. Jessica saja sampai tergila-gila dengan bibirku."


Bagas ikut tertawa. "Sudah lama menyendiri membuatmu mesum, ternyata kamu bisa mesum juga yah Mas! Ku kira hanya aku saja." Sela Bagas. "Apa kamu tak sabar ingin menuntaskan air mancur, sehingga baru saja ada tawaran, Mas langsung mengambilnya?"


Faris mengkerut, "bukan begitu, aku sangat bisa menahannya. Hanya saja aku memikirkan Khizam."

__ADS_1


"Halah, bawa-bawa anak!"


"Serius, Papi William malah yang menyuruhku menikah lagi. Agar ada yang membantu merawatnya."


"Mertua macam apa dia?"


"Hussh!" Hardik Faris membuat Bagas sedikit tersentak. "Nanti kedengaran..."


"Beliau kalau lagi baik ya baik, tapi kalau sudah terpengaruh jahat, bisa bikin gedeg ati kayak dulu. Aku sih gak akan lupa!"


"Jangan di biasakan mengingat-ingat kesalahan orang lain Bagas, kita juga banyak kesalahannya. Beliau sekarang sudah berubah."


"Pantas saja pakai peci tiap hari."


"Hem, mudah-mudahan istiqomah."


"Aamiin..."


Pertanyaan Bagas membuat raut wajah Faris murung lagi. Padahal dia baru saja tertawa karena celotehnya. "Yaaah galon lagi galon lageee... pemirsa!!"


"Beri aku waktu lima belas menit lagi!" Ucapan Faris membuat Bagas melongo.


"Karepmu lah Mas, besok sekalian juga gak apa-apa! Tapi lihat itu lho, dibawah kasihan yang sudah menunggu lamaaa...!"


"Please Bagas! Please! Papi William pasti tahu dan sabar menunggunya..."


"Oke kalau begitu aku bilang ke mereka lima belas menit lagi. Tapi janji setelah ini Mas Faris turun, jadi apa enggak, tetap jelaskan ke mereka. Orang tuh punya banyak kerjaan bukan cuma nungguin kamu tok Mas, owalaahhh!"


"Ok!" Jawab Faris singkat.


Faris kembali termenung, dia berdiri menghadap atas langit yang berwarna kebiruan. Hanya ada awan sedikit, dan terlihat segerombolan burung beterbangan. Sesekali bunyi kencangnya mengejek dirinya. Dirinya, adalah laki-laki yang tidak bahagia. Bahkan sudah setengah umur hidupnya masih juga belum berbuah manis.

__ADS_1


Lima, sepuluh, lima belas menit telah berlalu. Laki-laki yang masih meragu itu masih saja tidak bergeming atau pun beranjak dari renungannya. Ditekannya dalam-dalam pigura kecil foto istrinya di dadanya, yang mungkin suatu saat nanti dia takkan melihatnya lagi di kamar ini, jika dia memang akan Tuhan takdirkan hidup bersama orang lain.


Tok tok tok !!


Ketukan pintu kembali berbunyi, Faris menutup matanya ketika mendengar ketukan itu. Kemudian, Faris menghirup nafas dalam berulang-ulang. Menormalkan keraguan, walau keraguan masih saja menyelimuti hatinya.


Tok tok tok !!


"Masuk!" Jawab Faris dengan suara tercekat tanpa menoleh.


Terdengar derap langkah kaki yang lebih halus daripada langkah kaki Bagas yang masuk sebelumnya. Derap kaki itu semakin mendekati dirinya yang masih meratapi nasib. Wangi parfum orang yang masuk itu berbeda dari sebelumnya, atau penciumannya yang salah? 


"Kamu kah orangnya Bagas?" Tanya Faris, "Aku ingin membatalkan acara lamaran ini, aku tidak bisa. Aku masih mencintai istriku." Ucapnya lantang.


"Kenapa kamu tidak menjawabku? Bantu aku jelaskan kepada orang tua Aisyah ya Bagas!" Sambung Faris setelah terdiam beberapa saat. "Kita kesana sama-sama menjelaskan baik-baik kepada Aisyah ya Bagas, bantu aku…"


Lembut, terasa tangan halus dan kecil memegang pundaknya. Entah kenapa, Faris merasa jantungnya berdebar-debar. Lebih cepat daripada sebelumnya. Siapakah sebenarnya orang itu?


"Mas Faris..."


Suara lembut itu? Suara itu Faris mengenalnya! Faris sangat mengenalnya. Suara yang dulu setiap hari menghiasi hari-harinya. Apakah Faris sedang berhalusinasi? Apakah benar, dia... Jessica?


Pelan Faris memberanikan diri menoleh, dan ternyata...


"Sa-sayang! Kau kah itu??" Ucapnya histeris. Faris melihat wanita bercadar di depannya. Tapi Faris mengenali mata indahnya. Terasa jantung Faris seperti meledak.


Dengan gemetar, tangan Faris terulur membuka niqab yang wanita itu kenakan. Saat niqab itu terbuka, terlihatlah jelas wajah yang nyata...


Greb!


Hanya pelukan yang mampu mewakilkan segenap rasa dan seluruh ungkapan isi hati.

__ADS_1


__ADS_2