I Love You Jessica

I Love You Jessica
Lima bulan


__ADS_3

Seorang wanita berambut pirang tengah terbaring di kasur, di pinggangnya sedang melingkar tangan yang kokoh sembari mengelusi perut buncitnya. Berbagai rasa telah dialaminya beberapa bulan belakangan ini. Mulai dari mual, pusing, lemas dan sensitif sama bau-bauan. Kini usia kandungannya sudah lima bulan. Makanan apapun sudah mulai masuk. Hanya saja kalau tidur sudah semakin susah.


Beberapa bulan lalu, kasus Dave sudah selesai. Sahabat yang menemaninya sejak lama itu telah mendekam dipenjara bersama orang-orang suruhannya. Tidak disangka-sangka… Dave, teman terbaik tertanya berbuat tega padanya. Akan menculiknya, berniat memperkosanya dan menghancurkan hidupnya hanya karena cinta.


Jessica sempat merasa kesepian, semua teman-teman klubnya menjauhi dirinya setelah Jessica berubah penampilan dan tidak lagi bergabung dengan mereka. Aneh, padahal kemarin-kemarin masih biasa-biasa saja. Kenapa tiba-tiba mereka menjauh? Dimana salahnya kalau seseorang berubah menjadi baik. Sangat terlihat bahwa mereka berteman tidak tulus.


Tapi tidak apa-apa, berteman dengan sepi lebih baik daripada berteman dengan keramaian tapi hati terasa sendiri. Dia begitu menikmati peran barunya menjadi seorang istri dan akan menjadi seorang ibu.


William saat ini sedang berada dirumah, William sangat bangga dengan perubahan pesat anaknya. Tidak bisa disangka dalam waktu singkat putrinya sudah tumbuh dewasa dan menempuh jalan yang lurus, sebentar lagi juga jadi seorang ibu. Teringat saat saat putrinya yang masih badung, memakai pakaian semaunya sendiri, perokok, pemabuk, dan membuat banyak keonaran lainnya. Juga pernah dikasuskan karena kenakalannya membawa mobil dan menabrak seseorang, yang pada saat itu belum mempunyai Surat Izin Mengemudi. Anak mengesalkan selalu terlihat seperti tidak pernah punya salah. Kepala William menggeleng dan tersenyum kala beliau mengingat itu.


Faris berhasil menyentuh Jessica dengan hatinya sehingga semua terasa lebih mudah. Betapa Faris bersyukur mempunyai istri seshaleha itu. Keluarga kecil yang diimpi-impikannya dari dulu, sekarang sudah terwujud.


"Kenapa belum tidur, hmm? Apa yang kamu pikirkan?"


Tahu saja kalau Jessica hanya tidur pura-pura. "Aku hanya belum bisa tidur."


Faris membalikkan tubuh istrinya, "hadap sini sayang…" Keduanya saling menatap. "Apa yang kamu rasakan, hmm?"


"Nggak apa-apa Mas, memang belum ngantuk aja."


"Ini sudah jam sebelas malam, tidak baik ibu hamil tidur terlalu malam. Ayo berdoa lagi dan pejamkan matamu." Faris mengelus-elus perutnya dan lama-lama Jessica tertidur karena perlakuannya.


***

__ADS_1


"Diminum susunya dulu sayang," Faris mengawasi Jessica yang susah minum susu. Selalu saja, ada saja alasannya.


"Amis, nanti ah bentar lagi."


"Mas akan ngawasin kamu sampai kamu meminumnya."


"Teganya, aku kan nggak mau. Itu bau amis!"


Faris meraih gelas susu itu. "Ayo diminum sekarang mumpung masih hangat. Nanti kalau sudah dingin rasanya semakin tidak enak." Bibir Jessica mengerucut menatap Faris memelas. "Tutup hidungmu agar tidak merasa amis sayang…"


Dengan terpaksa Jessica menenggak susu itu sampai habis walaupun lidahnya terasa getir. "Hump!" Rasanya membuat Jessica menjadi mual.


"Tahan sayang, demi baby kita."


Faris kebelakang setelah berhasil membujuk istrinya. Terlihat William baru saja keluar dari kamar. "Pagi Papi!" Seru Jessica.


"Suamimu mana nak?" Tanya William, beliau duduk disamping Jessica.


"Lagi naruh gelas kebelakang."


"Gimana kehamilanmu hm?" William mengelus perut putrinya. "Gimana kabar cucu kakek?" bisiknya.


Jessica bergelayut ditangan papinya. "Dede baik kakek…"

__ADS_1


"Kamu tau nggak, papi itu senang banget. Nggak percaya sebentar lagi Papi mau jadi seorang kakek. Sudah tau jenis kelaminnya apa belum?"


"Belum Pi, rencananya dua minggu lagi Jeje kedokter."


"Oh iya baiklah, cepat beritahu Papi kalau sudah tau hasilnya ya."


"Oke!"


"Fa,"


"Eh Ya Allah Papi.. gimana kabarnya? Semalam Faris langsung naik keatas karena tidak tega membangunkan Papi. Kata Bibik Papi baru saja tidur begitu."


"Iya baik Nak, kenapa kamu pulangnya malam sekali nak. Kasihan dia tidak ada yang menjaganya kalau kamu pulangnya terlalu malam."


"Nggak setiap hari sih Pi, baru hari ini. Soalnya banyak sekali pengiman barang keluar kota. Jadi Faris membantu menunggu toko karena ada yang ikut mengirim barang."


"Tapi lain kali mending kamu tambah karyawan saja ya Nak, kasihan dia. Cuma kamu kepercayaan Papi. Kamu bisa menjaganya dengan baik."


"Iya baik Pi…"


"Ayo sekarang kita sarapan sama-sama…" Jessica mendahului ke meja makan.


"Dia memang sudah sering lapar minggu-minggu ini. Padahal tadi baru minum susu." Ucap Faris setelah Jessica berlalu pergi.

__ADS_1


"Oh iya? Bagus dong kalau begitu." William menaikkan alisnya. "Tunggu apalagi Fa, ayo kita juga sarapan."


Ketiganya makan bersama-sama saling melepas rindu kepada William. Hanya William yang selalu peduli. Entah Mamanya tidak pernah menjenguk anaknya meski anaknya sedang mengandung cucunya.


__ADS_2