
Tidak ada lagi yang terlihat elegan di mata Faris kepada wanita tua di depannya. Tubuh yang biasa terlihat molek dengan tas branded sekarang tidak ada. Rambut yang biasa tertata oleh hair stylist itu sudah tidak nampak indah lagi. Wajah yang biasa terpoles make-up tebal pun kini tidak ada lagi. Yang ada hanyalah wajah polos, tua, berseragam biru dan menyedihkan. Ya, sekarang Faris menemui tersangka itu. Orang yang menghilangkan tiga nyawa kesayangannya kini berada tepat di depannya. Mungkin jika orang itu bukanlah Faris, beda lagi perlakuannya, lebih tepatnya pasti melakukan tindakan lebih. Namun Faris sadari, apapun yang akan dia lakukan semua itu tidak akan bisa mengembalikan keadaan.
"Cucumu masih hidup, dia aman bersamaku." Ucap Faris setelah terdiam beberapa saat. Terlihat manik mata jahat itu menangis terisak-isak.
"Di-dia masih hidup?"
Faris mengangguk.
Rupanya Indira ingin bertanya lebih tapi tidak berani menatap manik mata Faris, rasa bersalahnya begitu besar.
"Satu laki-laki memang sengaja terbunuh oleh anda nyonya Indira, tapi dua nyawa lainnya secara tidak sengaja terjadi karena ulahmu. Oh iya, saya juga lupa. Anda juga menghilangkan nyawa adik saya yang dulu anda kandung."
Sela Faris. Ya Tuhan, terbuat dari apa hati wanita ini?
"Anda juga sudah memfitnah saya. Mengobrak-abrik seluruh hidup saya. Mungkin jika anda tidak memfitnah saya, semua akan baik-baik saja. Sedari dulu saya memang sudah benar-benar ikhlas karena kematian ayah dan ibu saya, yang saya percayai itu semua adalah takdir." Sela Faris dia menghirup udara lebih dalam mengisi rongga paru-paru.
"Anda tau sudah berapa banyak orang yang anda sakiti termasuk suami dan anakmu sendiri... Tolong jadi saya sebentar saja Nyonya. Bisa anda bayangkan, karena anda, hidup saya menjadi terlunta-lunta tanpa orang tua dan hidup sebatang kara. Tapi itu tidak menyedihkan bagiku. Selama anda belum datang ke kehidupan kami, kami baik-baik saja. Tapi Nyonya, yang lebih menyedihkan adalah kenapa anakku yang tidak tahu apa-apa harus menjadi korban kejahatanmu!"
"Itu yang saya sesalkan. Dia bahkan masih minum ASI bundanya. Itu sangat masalah bagiku."
"Sekarang anda sudah tau kan, seberapa besar dosa anda? Sekalipun anda bersujud seribu kali, anda tidak akan pernah bisa mengembalikan nyawa yang hilang."
__ADS_1
Indira tidak dapat berbicara apa-apa, hanya tangis penyesalan yang dia tunjukkan. Kini masa tua yang seharusnya indah malah harus mendekam di penjara untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya di masa lalu.
"Mami tau maaf Mami tidak akan mungkin kamu terima setelah apa yang Mami lakukan. Tapi Mami akan tetap meminta maaf meskipun kau menolaknya."
"Seandainya Nyonya meminta maaf dari dulu, mungkin kejadiannya tidak seperti ini. Saya akan tetap dapat hidup berdampingan dengan Jessica dan kalian tetap dapat berbahagia menikmati hari tua dan bersenang dengan cucu kalian. Ketahui lah Nyonya, saya orang yang pemaaf, tapi kini semua sudah terlanjur karena kebengisanmu." Faris menggeleng lalu tersenyum samar.
"Maaf Bu Indira, waktu anda sudah habis."
"Sa-saya minta maaf Faris! Aku yakin anakku masih hidup! Mami minta maaf!!" Teriaknya saat tubuh Indira ditarik petugas masuk kedalam sel.
***
Sepulangnya dari sel, Faris menuju ke rumah sakit menemui William yang masih terbaring lemas dengan beberapa alat menempel di tubuhnya. Tidak ada dendam di hati Faris saat melihat manusia lemah di depannya.
"Iya Tuan William, maaf saya datang terlambat."
"Kenapa kamu menjengukku?"
"Tidak ada alasan untuk tidak menjenguk anda Tuan William."
Ada tetes air mata yang mengalir dari kedua sudut matanya.
__ADS_1
"Harusnya aku tidak mempercayainya."
"Semua sudah terjadi, yang penting sekarang Tuan segera pulih. Karena ada yang ingin bertemu denganmu." William menatap Faris, memperjelas pendengarannya. "Kau harus sembuh Tuan William, kita harus mencari Jessica. Anaknya masih sangat membutuhkannya."
"Cucuku masih hidup. Cucuku masih hidup?" Pupil mata itu membulat penuh menandakan tertarik dengan pembicaraan Faris barusan.
"Ya, dia bersama saya sekarang ada dirumah Bagas dan Caca."
Ada sedikit senyum terpancar di wajahnya. "Kamu bilang dia sudah tidak ada,"
"Kalau saya bilang ada dia akan kau bawa Tuan, tidak tahu nasibnya lebih baik atau lebih buruk."
William berusaha bangun dari tempat tidurnya. "Aku ingin menemuinya dan mencari putriku, dosaku sangatlah besar kepadamu dan putriku. Aku harus mencarinya."
Faris menahannya. "Tuan keadaan anda masih belum stabil."
"Tapi aku harus mencarinya."
"Semoga Tuan cepat sembuh."
"Kenapa Kau mendoakanku sembuh?"
__ADS_1
"Seorang muslim wajib saling memaafkan meskipun hal itu paling sulit." Ucapnya singkat.
"Aku berjanji akan bertaubat dan melakukan kewajiban mulai sekarang!" Serunya bersemangat membuat Faris tertegun, hampir tak percaya seorang William mau bertaubat.