
Faris sedang mengumpulkan peluru-peluru ikhtiarnya yang tersisa. Ia belajar mengikhlaskan semua yang terjadi. Ia mencoba lebih sabar dan legowo. Faris mencoba memprovokasi hatinya yang bertentangan dengan logika. Namun semua hanya sia-sia baginya. Rasa ikhlas yang ditanamkan dalam logika tidak bersahabat dengan hatinya. Dia masih bermimpi berdampingan dengan sang istri Jessica.
Faris menepikan mobilnya ke pinggiran kota. Jok kursi kemudi dia rebahkan untuk dirinya agar bisa terbaring. Hari ini masih sangat pagi, sebentar lagi akan tiba suara adzan subuh yang menggema di seluruh penjuru negeri. Dia menunggu datangnya waktu itu.
Matanya menatap kosong atap-atap mobilnya, pikirannya menerawang pergi entah kemana. Tidak pernah terfikir hidupnya akan sepelik ini. Jodoh adalah pilihan Tuhan yang tidak pernah salah. Tapi Faris tidak menyangka hanya sampai disini. Bahkan buah hati sudah berada di dalam kandungan istrinya yang sebentar lagi akan terlahir ke dunia. Rasanya baru kemarin mengucapkan akad nikah dan hidup bahagia, belum sempat Faris mengetahui jenis kelamin anaknya. Tuhan sudah lebih dulu memisahkan mereka.
Jari-jarinya menghitung setiap dzikir yang keluar dari dalam hati, dia harus banyak menyebut asma Allah agar selalu berfikir jernih. Dia tidak ingin terpengaruh bisikan setan untuk berbuat tindakan yang keluar dari larangan-Nya.
"Sedang apa kamu sayangku, Jessica, anak bayiku, baru saja aku meninggalkan kalian. Sekarang aku sudah merasa serindu ini... Bagaimana jika berhari-hari lamanya, aku bisa mati. Aku bisa mati..."
"Kau jahat Pak William, kau yang menikahkanku. Tapi kau juga yang memisahkan kita."
"Aku memang bukan laki-laki yang baik Jessica… banyak kekurangan didalam diriku, tapi mana mungkin aku berbuat sekotor itu. Bisa saja jika aku berbuat lebih, tapi kamu lebih cantik dari segala-galanya. Kamu bidadari bagiku Jessica, tidak ada yang lain dapat menggantikan posisimu. Aku tidak bisa melihat wanita lain selain dirimu."
__ADS_1
"Ya Allah, dengan menutup mata saja aku selalu merasakan ada diriMu di dekatku. Jangankan pernah berfikir mengkhianati ikatan suci pernikahan, mendustai Engkau saja aku merasa takut, sedang Kau Maha melihat."
Jamaah masjid yang terlihat hilir mudik sudah semakin lengang setelah shalat subuh dilaksanakan. Tersisa Faris dan beberapa orang saja disana. Entah sudah berapa lama Faris bersujud, orang-orang sampai menaruh curiga kepadanya. Terlihat seseorang mendekatinya, menepuk pelan pundak laki-laki rapuh yang telah didzolimi itu, terdengarlah suara isak tangis. Hingga seseorang itu kembali mengurungkan niatnya. Membiarkan laki-laki itu hingga perasaannya jauh lebih baik.
Sementara di tempat yang berbeda, terdengar suara isak tangis dari seorang perempuan. Sesekali di tengah isakannya terdengar ia sedang berbicara lirih. Banyak yang sedang diracaukannya. Salah satu nama yang diucapkan dari mulut mungilnya, yaitu ayah bayi yang tengah dia kandung. Sesekali pikirannya pergi melayang ke tempat lain. Ketempat cintanya berada. Tapi keadaan dirinya yang sedang berbadan dua membuatnya berpikir berkali-kali.
"Papi, jika Mas Faris bersalah pun Jeje akan menyusulnya. Jeje mau pergi Pi, jangan halangi aku."
"Aku yang tidak baik untuknya Pi, Papi salah. Hanya kesalahan yang dilakukan Mas Faris satu kali, Papi melupakan banyak kebaikan yang pernah Faris lakukan. Juga belum tentu dia melakukannya, benar apa kata Mas Faris tadi, bukan berarti Mami tidak bisa khilaf akan kesalahan. Kita sama-sama manusia kok Pi... "
"Apa yang merasukimu Pi, sedangkan Papi yang menikahkan kami, tapi Papi sendiri yang memisahkan. Anak ini membutuhkan ayahnya,"
"Papi masih bisa menjagamu, aku tidak ingin cucuku menderita hidup kekurangan dengan laki-laki itu jika kau pergi bersamanya. Kamu tidak melihat apa yang dilakukannya tadi? Ibu kandungmu saja masih syok, lihat ibumu!! Lihat bagaimana keadaannya sekarang!!"
__ADS_1
"Bisakah Papi menyebut namanya? Dia bukan orang lain. Dia suamiku, menantu Papi."
"Papi tidak mengenalnya lagi." William lalu berteriak memanggil security. "Dodo!! Security!!!" Terlihat Pak Dodo lari tergopoh-gopoh melewati pintu dan menghadapi William, laki-laki yang diwajahnya sudah tersirat aura kemarahan.
"Ya Tuan, ada yang bisa dibantu?"
"Jaga semua akses pintu. Jangan sampai dia keluar." William menunjuk anaknya. "Kalau sampai dia kabur, kamu akan tau akibatnya!!"
"Papi… apa yang menyebabkan Papi menjadi semengerikan ini Pi, Kau menyakitiku Pi…" Jessica mengusap air matanya yang luruh. "Tidakkah Papi ingin membahagiakan aku? Selama ini Jeje menjadi anak perempuan yang nakal karena perceraian kalian. Kalian tidak tahu bagaimana perasaanku, sekarang kalian menambah lukaku lagi. Apa yang mempengaruhimu Pi?"
BLAMM!!!
Pintu kamar tertutup dengan kerasnya, meninggalkan Jessica seorang diri.
__ADS_1