I Love You Jessica

I Love You Jessica
Orang tua mengambil keputusan


__ADS_3

"Dua Singgit, dua singgit, dua singgit!!"


Dua seringgit atau dua singgit sering diungkapkan oleh Mail, salah satu teman Upin Ipin. Mail sering sekali mengucapkan kata-kata itu bila ia sedang menawarkan barang dagangan kepada teman-temannya. Lucunya, segala barang dagangannya hanya dihargai dua singgit.


"Ya Allah Je, malah nonton upin-ipin."


"Hahhaha… "Jessica tertawa renyah, "kok lucu ya, upin sama ipin palanya gede badannya kecil. Gimana cara pakai bajunya? Hahahah."


Faris meraih remot itu dan menggantinya dengan channel lain yaitu bola PSIS melawan Arema.


"Yaah diganti lagi seru-serunya." Keluh Jessica, bibirnya mengerucut.


Faris mengelus rambut Jessica. "Bentar doang liat siapa yang unggul."


Tok… tok...tok..


Faris menahan Jessica yang akan berdiri membuka pintu. "Biar Mas saja, nih boleh ganti lagi. Ternyata pilihan Mas yang unggul."


"Maaf den, ada Nyonya besar." Ucap Bibi setelah Faris membukakan pintu.


"Mami!" Pekik Jessica.


"Biar nanti Jessica temui Bik, Papi masih ada nggak pergi kemana-mana kan?"


"Enggak den, kalau gitu saya kebawah ya?"


"Iya terimakasih."

__ADS_1


***


"Apa? Mami sama Papi mau rujuk?" Jessica berbinar bahagia mendengar keputusan orang tuanya. "Jeje nggak salah dengar kan?" Jessica masih tidak percaya.


"Benar, kami akan rujuk Nak. Kami akan menua bersama mengurus cucu nantunya. Mami, sudah lama berpisah dengan suami Mami."


Jessica bahagia tapi juga merasa kasihan pada Papinya. Lagi-lagi, Papi yang berhati tulus menerima Mami yang sudah meninggalkannya. Selalu begitu, dulu sebelum mereka menikah, Mami juga pernah berhianat. Tapi Papi kelihatannya sangat senang. Semoga saja sejarah tidak terulang, harapan Jessica.


"Jeje senang kalian kembali menjadi keluarga, tapi Jeje nggak senang kalau kalian berpisah lagi." Ucap Jessica penuh harap. "Kasihan Papi Mi," tambahnya lagi sembari menatap Maminya.


Perlahan Mami berdiri mendekat putrinya. "Tolong beri Mami kesempatan."


Jessica tersenyum lembut, "iya Mi, semoga kalian langgeng sampai akhir hayat."


"Mana suamimu?"


"Mas Faris!"


"Mami, apa kabar." Tanya Faris menyalami ibu mertuanya.


"Baik Nak,"


Papi mendekat, "sebaiknya laki-laki berbicara dengan laki-laki saja. Kita nggak akan nyambung bercerita dengan mereka." Ucap Papi kepada Faris, membuat Faris meringis. Tidak salah lagi, pasti beliau akan mengajaknya main catur.


"Main catur!" Tebak Faris.


"Betul, tembakanmu tidak meleset. Seperti tembakanmu kepada anak saya."

__ADS_1


"Papi!!" Teriak Jessica mendengar kejahilan Papinya. Aneh sekali, mana ada orang tua begitu. Salah minum obatkah? Memangnya tembakan apaan. Faris anak yang polos hanya bisa nyengir kuda.


Lalu mereka berdua menuju ke belakang, membuka benda bergaris kotak-kotak hitam putih dan mulai berpikir untuk menggeser senjata.


***


Mami mengelus perut buncit putrinya. "Nak, gimana keadaan cucu Mami?"


"Baik Mi, dia sehat sekali dua minggu lagi Jeje USG untuk mengetahui jenis kelaminnya."


"Dia nggak rewel kan?"


"Nggak Mi, hanya trimester awal saja. Waktu itu mabuk parah, sampai teler."


"Sama seperti Mami hamil kamu dulu, nggak bisa bangun dari tempat tidur. Pusing banget Nak, semuanya Papi yang ngurusin. Mami ingat dulu ngidam kentang goreng malem-malem aja Papi belikan loh. Hebatnya Papimu selalu siaga."


"Tapi perut Jeje sering kram Mi, suka sakit."


Mami terlihat khawatir. "Kamu sudah periksakan ke dokter Nak?"


Jessica menggeleng.


"Ayo kita ke dokter sekarang!"


"Tapi Mi!"


"Ayo, jangan sampai nunggu beresiko."

__ADS_1


….


To be continued.


__ADS_2