
Mata Jessica berkaca-kaca melihat pandangan di depannya. Piyama Faris sudah berantakan dan robek dibagian belakang. Mami Indira menangis histeris di pojok kamar dengan posisi meringkuk. William yang merasa terganggu dengan suara gaduh di samping kamarnya langsung bangun dan menghampiri.
"Ada apa ini?" Mendadak lidah William juga kelu melihat pemandangan di depannya.
"Jes, Papi… saya di fitnah, demi Allah, saya tidak seperti apa yang kalian lihat. Saya tidak mungkin berbuat hal sekotor ini." Faris berusaha bersikap tenang walaupun tidak sempurna.
Terlihat tangan William mengepal, sorot matanya tajam dan rahangnya mengeras.
"Bohong Will, dia mau memperkosaku! Huu… Aku hampir kena tadi kalau seandainya putri kita tidak membuka pintunya!" teriak Indira membela diri.
"Jangan fitnah Mi, aku kesini karena kau yang menyuruhku untuk mengecek AC. Kata Mami AC kamar mati, Mami ingin menjebakku? Apa maksudnya Mi? Seandainya Mami tidak menyukai menantu sepertiku, katakan. Mami kurang pintar menjebakku!"
Jessica mundur dari hadapan mereka. Sudah tidak ada lagi rasa haus, melainkan sakit hati yang tidak ada obatnya. Mendadak perutnya sakit dan merasa kram karena stress dan karena kejadian tadi.
Maafin Mama sayang, Mama janji nggak akan sedih lagi. Tenang dan sehat di dalam perut Mama ya nak…
"Je! Aku akan jelaskan," Faris mengejar Jessica dan mencekal kuat pergelangan tangannya karena wanita itu mencoba berlari. Terlihat wanita yang dicintainya itu menatap Faris penuh pengharapan juga keraguan. "Je, meskipun pertemuan kita singkat. Aku harap kamu mengenalku dengan baik. Aku akui, Mami adalah ibu kandungmu, lebih lama bersamamu. Tapi bukan berarti seseorang tidak bisa khilaf akan kesa--"
__ADS_1
"Faris, silahkan kamu pergi dari sini." William langsung memotong pembicaraan Faris.
Faris menghembuskan nafasnya lebih dalam. Mencoba ikhlas di dalam setiap permasalahan yang dia hadapi. Di dunia ini hidup tidak selalu berjalan dengan mulus. Pasti ada cobaan dan rintangan.
"Pergilah segera sebelum aku bertindak lebih."
"Baiklah, saya minta maaf kalau kedatangan saya selama ini menjadi benalu dalam keluarga kalian Pi, maafkan saya. Saya akan pergi dari sini. Saya sudah jelaskan tadi, tapi jika Papi tidak mempercayainya. Tidak masalah bagiku."
"Mas Faris!" Jessica semakin terisak memeluk erat Faris.
Dia langsung pergi ke atas tanpa mempedulikan siapapun, apalagi yang sedang berteriak memanggilnya. Hatinya terlalu sakit untuk bersitatap dengan mereka.
Faris mengemas beberapa pakaiannya. Tidak ada yang dia bawa kecuali hanyalah kenangan selama beberapa bulan ini.
Satu hal yang tertinggal. Cinta...
"Kamu baik-baik ya disini, aku tidak kemana-mana. Aku bersama Bagas kok, kamu jangan banyak pikiran." Ucapnya setelah Faris kembali turun. Tangannya mengelus pundak Jessica pelan.
__ADS_1
Antara percaya dan tidak percaya, Jessica masih meragu. Mami tidak mungkin melakukan hal itu kan? Tapi disisi lain, Faris juga tidak mungkin melakukan itu. Aarrgg! Mana yang harus dia percaya?
Faris beralih menatap William, sementara perempuan yang menjebaknya tadi sepertinya masih berakting syok dikamarnya. Tidakkah William mempercayainya? Baju Faris yang sobek sebagai bukti bahwa bukan dia yang menjadi pelaku, melainkan jadi korban. Korban fitnah yang begitu keji.
"Saya kembalikan kunci mobil ini, saya tidak membawa apapun Pi. Terimakasih telah menerima saya dengan baik selama ini." Faris beralih menatap Jessica. "Kabari aku jika anak kita akan lahir, aku tetap ayahnya."
Kemudian Faris benar-benar pergi keluar dari rumah itu. Terlihat Bik Wena menangis sesenggukan tak jauh dari sana. Tangis Jessica kian pecah, William adalah orang yang tidak bisa dilawan. Jessica tidak berdaya di bawah kekuasaannya.
"Mas Fariiiiissss!!" Teriakannya menggema diseluruh ruangan. Willam menahannya agar Jessica tidak berlari.
Semua orang tahu, William sangat mencintai Indira. Seberapa besar pun kesalahan yang diperbuat Indira padanya, William akan tetap menutup mata.
Terlambat sudah teriakan itu, Faris sudah kembali menaiki mobil bututnya. Mobil yang menemaninya dari dulu dan mungkin akan sampai kapanpun menemaninya sepanjang hidup. Dia akan menjalani hidupnya lagi seperti sebelum mengenal Jessica.
Faris memukul-mukul kepalanya. Menyebut kalimat-kalimat yang bisa membuatnya lebih baik. Dia mencoba membangunkan diri dari mimpinya.
Bangunlah Faris, terimalah kenyataan. Kamu hanyalah seorang yatim piatu yang miskin. Sudah berapa lama kamu bermimpi? Tidaklah kau pantas bermimpi setinggi itu…
__ADS_1