I Love You Jessica

I Love You Jessica
Hidup tapi seperti mati


__ADS_3

Dua tahun sudah, Faris tidak menemukan Jessica. Faris terus menyibukkan diri mengurus semua usaha William dan merawat anaknya yang sudah berusia dua setengah tahun lebih. Laki-laki itu hidup, tapi bagaikan orang mati.


Tubuh yang dulu gagah, tampan, kini tubuh itu tampak kurus tak terurus. Faris lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidak lagi mengurus tubuhnya.


Lagi-lagi rasa ikhlas yang ia tanamkan dalam logika, enggan bersahabat dengan hatinya. Hatinya masih selalu berharap istrinya kembali.


William sudah sering sakit-sakitan. Keluar masuk rumah sakit sudah menjadi makanannya. Begitu beliau stabil, beliau pulang kerumah, tapi begitu drop lagi, William ke rumah sakit lagi. Begitu seterusnya.


Kamu sudah berada di surgakah Je? Kamu sudah bahagia ya disana. Berapa lama lagi ya, aku bisa melihatmu?


Aku sebagai suamimu meridhoimu sayang. Kamu istri yang shalihah. Siapa bilang kamu tidak pantas untukku. Justru akulah yang tidak pantas untukmu. Aku suami yang belum sempat membahagiakanmu. Maafin aku ya sayang.


"Aku turut berduka cita atas kematian istrimu." Ucap seorang perempuan tak jauh dari Faris terduduk. "Maaf aku baru tahu bahwa Jessica telah tiada." Sambung wanita itu.


Faris menoleh ke sumber suara. "Tidak apa-apa. Semua sudah berlalu, tapi aku yakin dia masih ada. Dia hanya lelah, dia pasti akan kembali." Jawabnya yang sama sekali tidak terkejut.


"Boleh aku duduk?"


"Duduklah."


Perempuan itu lalu duduk di sebelahnya. "Kenapa kamu duduk di sini Mas Faris, ini sudah malam."

__ADS_1


"Hanya ingin duduk saja," jawab Faris tanpa menoleh. Dia masih fokus memandangi wajah istrinya di layar ponselnya. Terkadang matanya terpejam membayangkan senyumnya.


Perempuan itu mengelus lembut punggung Faris yang terhalang baju tebal. Faris yang merasa aneh lantas menatap wajah perempuan itu. Aisyah.


"Maafkan kesalahanku yang telah lalu." Ucapnya lembut.


"Aku sudah melupakannya." Jawab Faris singkat.


"Kamu begitu terpukul atas kepergiannya?"


"Ya itu pasti, bahkan hampir gila. Tapi itu tidak seberapa di bandingkan dengan putraku yang ditinggal sejak bayi. Kini dia sudah berusia dua setengah tahun. Selalu menanyakan bundanya."


"Aku mengerti penderitaanmu Mas!"


"Aku hanya sekedar lewat saja. Kebetulan cafe ini tempat favorit aku."



"Aku sering kesini di jam-jam sekarang ini. Aku tidak pernah melihatmu. Kamu berbohong."


"No! Aku gak bohong, aku memang baru saja tiba dari M***** kota kelahiranku." Jeda Aisyah, dia membiarkan pelayan menaruh pesanannya di meja. "Anak kamu dengan siapa kalau ayahnya keluyuran?"

__ADS_1


"Dia sudah tidur, anak kecil tidurnya tidak terlalu malam. Dia bersama orang lain yang menjaganya di rumah."


"Oh,"


"Kamu sendiri?" Takut Aisyah salah mengartikan pertanyaannya, Faris menyambungnya. "Maksudku, kenapa malam-malam seperti ini perempuan keluyuran. Tidak baik."


"Aku hanya tidak bisa tidur, dan aku memutuskan untuk kesini saja. Berburu WIFI."


Faris sempat terkekeh. "Kamu pesan kopi satu, tapi nongkrongnya sampai pagi."


"Hahahha…. Iya, kadang kalau tidak enak dengan pelayan, aku akan menambah makanan ringan. Seperti gioza atau dimsum."


"Pesanlah yang banyak, aku akan membayarkanmu. Karena aku akan pulang saat ini."


"Ku pikir kamu mau menemaniku." Sergahnya.


"Aku tidak biasa dekat dengan perempuan, apalagi berdua di satu meja."


"Oke, tapi lain kali jangan terlalu baik membayarkan makanan orang lain. Sikap baikmu bisa saja di salah artikan." Aisyah lagi-lagi menepuk punggungnya. "Kamu tidak pernah berubah. Kamu laki-laki baik." Aisyah tersenyum. "Aku akan membayarnya sendiri, terimakasih tawarannya."


"Baiklah, salam buat keluargamu. Aku pergi dulu. Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


Didalam mobilnya, ucapan Aisyah terngiang dibenaknya. 'Sikap baikmu, bisa saja di salah artikan'. Faris menggeleng tanpa tahu maksud ucapan Aisyah barusan, kemudian ia mengemudikan mobilnya kembali ke rumah.


__ADS_2