I Love You Jessica

I Love You Jessica
Kado spesial untuk Faris


__ADS_3

Tepat hari ini adalah ulang tahun Faris. Jessica sedang sibuk membuat kue ulang tahun, khusus buatannya sendiri.


Entah kenapa dia jadi rajin di dapur sekarang. Keadaan dapur sudah seperti kapal pecah karena ulahnya.


Bibik Wena hanya bertugas bersih-bersih saja karena urusan masak memasak belakangan ini sudah Jessica kerjakan sendiri. Makanannya pun sudah terasa enak, tidak hambar lagi. Dia benar-benar ingin menjadi istri yang baik untuk Faris dan selalu dicintai oleh suaminya.


Mengelus perutnya, Jessica menarik nafas lebih dalam…


Semenjak hamil, nafas Jessica terasa pendek dan mudah lelah. Dia menarik kursi untuk mengistirahatkan badannya sebentar. Sedikit lagi kue yang dibuatnya selesai… rasanya, kaki sudah mau copot.


"Non, biar Bibik bantu… Non kelihatannya pucat banget, Non baik-baik aja kan?" Bibi merasa kasihan melihat majikannya ngos-ngosan dan lemas.


"Nggak apa-apa Bik, ini sedikiiiit lagi selesai."


Bibi memang sudah curiga sejak lama. Baru sekarang, beliau memberanikan diri bertanya. "Kok akhir-akhir ini Bibi perhatikan Non kurang sehat. Sudah diperiksakan ke dokter?"


"Aku lagi hamil Bik…" ucapnya setengah berbisik.


"Alhamdulillaaaahhh…" Bibi menutup mulutnya, responnya sangat luar biasa terharu. Dipeluknya Jessica yang sudah dianggap anaknya itu erat-erat. "Selamat ya Non. Huu… alhamdulillah… pantesan udah beberapa minggu belakangan kok Non kelihatan kuyu Non… Huu… Ya Allah…" Bibi menangis tersedu, Jessica jadi ikut terbawa suasana dan ikut menangis.


"Den Faris sudah tau Non?"


"Aku mau kasih kado Bik, entar kalau dia pulang. Ini hari ulang tahunnya, makanya saya bikin kue…"


"Oh iya, syukurlah… lagian momennya pas banget."


"Hehehe iya nggak tau kenapa bisa gitu."


"Berapa minggu Non?"


"Sudah ke delapan minggu Bik."

__ADS_1


"Semoga sehat sampai lahiran yaah.."


"Aamiin…"


"Jangan merokok lagi ya Non, nggak boleh kalau ibu hamil merokok. Bahaya buat kandungan."


"Hmm iya udah lama nggak ngerokok lagi Bi, pernah coba kemarin-kemarin sebelum tahu lagi hamil. Ternyata udah nggak cocok lagi, malah batuk-batuk."


"Syukurlah, Den Faris bawa pengaruh baik buat Non. Bibi teh sangat bersyukur."


"Apalagi aku yang jadi istrinya hehehe."


"Oh iya pasti dong Non, sudah sini lebihnya biar Bibik yang kerjain Non nggak boleh terlalu capek."


Bibi merebut pekerjaan yang sedang dilakukan Jessica agar Jessica tidak terlalu lelah. Bibik juga memberi tau larangan dan anjuran untuk majikannya karena ini pengalaman pertama Jessica. Ada banyak hal yang belum Jessica ketahui.


***


Karena tidak kunjung keluar, Faris langsung menaiki tangga. Dia sudah sangat rindu dengan istrinya, seharian ini Jessica tumben tidak menghubunginya ataupun mengirim pesan.


"Sayaaang!"


"Happy birthday to you, happy birthday to you…" Terdengar suara merdu menyanyikan lagu upang tahun. Jessica keluar dari kamarnya membawakan kue ulang tahun dan lilin menyala di tengah-tengah kue. Faris yang mengetahui kejutan itu merasa terharu dan merasa sangat dispesialkan.


"Ayo ditiup lilinnya, kenapa malah diam Mas Faris,"


Lagi-lagi Faris mematung saking bahagianya punya istri yang begitu sangat perhatian. "Wuushh." Lilin pun padam.


"Potong kuenya Mas Faris, ini kue buatanku!"


"Kamu melakukan semua ini Je?" Tanya Faris menatap istrinya penuh arti, dibalas dengan anggukan. "Terimakasih Je, mestinya kamu jangan terlalu capek, nanti bisa sakit lagi. Kan kuenya bisa beli aja sayang.."

__ADS_1


"Aku nggak sakit kok." Jessica meletakkan kue itu di meja, mendekatkan wajahnya pada Faris. "Selamat ulang tahun suamiku, doanya sudah aku sampaikan setiap sujud terakhir. Supaya Mas panjang umur sehat selalu, diberi kebahagiaan dunia akhirat."


"Aamiin, makasih sayang. Kamu memang istri teromantis… Cup…" kecupan mendarat di bibir istrinya.


"Aku punya kado spesial." Jessica berujar setelah keduanya terdiam beberapa saat di dalam pelukan.


"Apa sayang?"


Jessica meraih tangan Faris dan meletakkannya ke permukaan kulit perut Jessica, membuat Faris berbinar bahagia. "Hallo Papa! Aku sudah berada disini. Usiaku sudah delapan minggu, aku sebesar buah ceri sekarang."


Faris berkaca-kaca. "Be-benarkah? Kamu hamil sayang? A-aku akan jadi ayah?"


Jessica mengangguk.


Faris langsung bersimpuh dan bersujud mengucap syukur, dia menangis tersedu-sedu. Satu hal ketika bahagia, Faris akan mengingat Allah lebih dulu yang sudah memberikan rezeki yang sangat luar biasa itu padanya.


Jessica mengusap pelan punggung Faris. Dia tidak menyangka, responnya akan sedarmatis ini. Faris benar-benar pria yang baik. Pelan kepala Faris terangkat, pandangannya tertuju perut Jessica. Dia mencium perut Jessica berkali-kali. "Terimakasih Je, sudah mau mengandung anakku. Terimakasih Je!!" Faris memeluk tubuh Jessica dan menumpahkan air matanya. Rasanya bahagia sekali.


"Aku janji akan jadi suami dan Ayah yang baik untuk kalian. Aku janji! Hiks..."


"Iya Mas Faris, aku percaya sama kamu."


"Mas sudah panik, tadinya Mas kira kamu sakit sayang. Kamu bohongin Mas ya? Jahat kamu! Bikin Mas khawatir."


"Nggak gitu juga Mas, niatnya emang mau ngasih tau sekarang biar surprize."


"Makasih ya Je, makasih, makasip, cup...cup...cup…" Faris membombardirkan ciumannya tanpa ampun.


"Stoooppp!! Ampuunn!!"


…..

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2