
"Lebih cepat lagi Mas! Cepat, mobil itu sudah berada hampir dibelakang kita…" Jessica setengah berteriak, saat melihat satu mobil orang-orang William ternyata mengejarnya.
"Mas gak bisa sayang, ini mobil butut. Mana bisa kencang. Ya Allah,"
"Aku gak mau balik sama mereka Mas, aku maunya sama kamu."
"Ya, Mas tau sayang."
Faris terus membantingnya stir lebih keras walau kenyataannya, mobil itu seperti disitu-situ saja. Tidak bisa sekencang apa yang diharapkan. Mobil pengejar semakin dekat, Ya Tuhan, selamatkanlah jiwa dan nyawa kedua insan…
TIIIIIN….TIIIINNN!!
"Berhenti !!" Suara teriakan dari belakang mobil.
TIIN….TIIIN !!!
Mobil Faris terus melaju, tapi tidak tentu arah. Malah yang dilewatinya kini jalanan yang sepi.
"Mas, gimana ini…"
"BERHENTI!! Turunkan Nona Jessica sekarang!!" Teriak orang-orang William dari samping. Ternyata mobil keduanya sudah sama sejajar. Tanpa diduga jalan Faris dipotong.
Srriiitt!!
"Astaghfirullah…"
DUGG!! Faris menginjak rem mendadak, menghindari menabrak mobil yang tiba-tiba memotong di depannya. Kepala Jessica sempat terantuk dashboard mobil, beruntung tidak terlalu keras karena tertahan seatbelt.
"Sayang, kamu gak apa-apa?" Tanya Faris panik. "Bayi kita gimana?"
Jessica memegangi jidatnya sedikit kemerahan. "Gak apa-apa, bayi kita baik-baik saja, tapi kita gimana? Sudah tertangkap begini Mas,"
Terlihat beberapa pria berbadan besar keluar dari mobil didepannya.
"Aku gak mau pisah dari kamu Mas, aku gak mau…" Faris kian panik, melihat situasi seperti ini.
"Tenang sayang, mereka tidak akan melukaimu."
"Justru itu yang ku takutkan. Mereka pasti melukaimu Mas. Aku gak rela kamu kenapa-kenapa."
"Jangan khawatirkan aku. Aku hanya takut sama Allah. Aku mencintaimu, nyawaku pun aku ku pertaruhkan untukmu Je,"
Tok tok tok !!
"Buka pintunya!!" Orang-orang William mulai mengetuk-ngetuk pintu.
__ADS_1
Tok tok tok !!
"Buka pintunya kalau tidak, mobil ini akan kami pecahkan!"
"Mas Faris aku…aku akan tetap disini." Jessica terus menggeleng.
PRAKK!!! PRAKK!!!
Satu pria mencoba memukul kaca mobil Faris dengan benda tajam.
"Sayang... " Faris menjeda ucapannya, walaupun sebenarnya dia tidaklah rela mengucapkan hal ini padanya. "Jalan satu-satunya jika kamu ingin aku selamat, kamu ikut dengannya. Agar aku baik-baik saja dan kita bisa bertemu kembali suatu saat nanti…"
"Nggak!! Aku nggak mau pisah sekarang ataupun nanti. Aku gak mau huu… huu....."
Faris memejamkan mata sejenak, menghirup nafas dalam-dalam agar lebih tenang. Ia terus sebut nama Allah berulang-ulang dalam hatinya.
"Ya Allah… astaghfirullah… berikan kami jalan keluar."
"Baiklah, aku akan turun Mas!"
Ucapan Jessica, membuat Faris merasa nelangsa. Faris menatap Jessica nanar. Jessica lalu membuka pintu mobil.
"Apa! Apa kalian mau apa hah!!"
"Kalau saya nggak mau kalian mau apa??!!"
"Kami hanya menjalankan perintah!"
BUGHH!!!
"Aarrgg!!! Sial, dia menendangku!!" Jessica menendang keras bagian sensitif dari orang itu sampai orang itu meringis kesakitan.
"Toolooong! Begaaall…! Tolooong!!!" "Tooloongg!! Begaaalll Toloong!!! Saya mau dibegal tolooong!!!" Jessica berteriak sekuat tenaga, tangannya melambai keatas berharap ada pertolongan datang.
"Tolooong!!! Toloong!!"
Dan ternyata benar, beberapa mobil yang lewat mulai menepi karena kecurigaan, membuat semua ajudan William panik. "Kaburr woy!! Kaburrr!! Brengs*k!! Siaal!!"
Semua ajudan segera berlari memasuki mobilnya, lalu melaju kencang.
"Anda tidak apa-apa Nona?" Tanya dari salah seorang yang menepikan mobilnya.
"Tidak apa-apa," Jessica celingukan. "Eh Ya Allah, suami saya!" Jessica melihat Faris masih berada didalam mobil, tapi dengan hidung berdarah. Rupanya waktu dia berteriak, dia sampai tidak begitu memperhatikan Faris yang sudah di hajar babak belur oleh beberapa oran William.
Jessica segera mengitari mobil, "Mas Faris, kamu gak apa-apa kan?" Suara Jessica bergetar. Dia merasa bersalah, gara-gara keegoisannya, Faris jadi korban lagi.
__ADS_1
"Mas gak papa." Jawabnya lirih, Bibirnya tersenyum tapi senyumannya yang terlihat pedih. "Kalian gak apa-apa kan?"
"Kita gak papa."
Sang penolong mendekat ke arah mereka. "Nona, apa anda butuh bantuan?"
"Kita akan mencari tempat tinggal, tapi kami takut dibuntuti oleh mereka lagi." Jawab Jessica kepada salah seorang disebelahnya yang dari tatapannya merasa iba terhadap Faris dan Jessica.
"Kalau begitu, saya akan mengikuti kalian dari belakang sampai nanti kejalan yang ramai. Supaya kalian aman."
"Terimakasih Pak, ini sangat membantu kami."
"Baiklah!"
Orang itu lantas tersenyum lalu memasuki mobilnya.
Faris dan Jessica berpindah posisi. Keadaan Faris yang lemah tidak memungkinkan dia untuk menyetir terlebih dahulu. Akhirnya mobil melaju dengan kecepatan sedang. Beruntung Jessica ahli dalam mengendarai mobil. Di belakang juga masih terlihat orang tadi mengikutinya. Mereka berpisah di tempat yang ramai, setelah sebelumnya Jessica mengucapkan terimakasihnya lagi.
***
"Mestinya pakai uangku saja Je, aku juga bisa kalau hanya untuk menyewa rumah ini." Faris sedang di bersihkan luka-luka lebamnya oleh Jessica.
Faris mendesah, merasa tidak berguna menikmati uang istri. Mereka sudah tiba di sebuah rumah kecil, jauh dari keramaian kota, Jessica mengeluarkan tabungannya untuk menyewa rumah itu.
"Mas Faris, simpan dulu uang Mas Faris untuk beberapa hari kedepan. Aku pasti akan menggunakannya. Kita akan membeli banyak keperluan nanti…"
"Pelan-pelan Je, sedikit perih."
"Je, kalian pasti lelah dan lapar. Sudah tiga jam perjalanan kamu menyetir tanpa makan dan minum. Wanita hamil harus banyak minum dan banyak ngemil." Ucap Faris setelah mereka terdiam beberapa saat.
"Iya, sedikit lapar. Lalu apa kabar denganmu Mas, kamu juga pasti merasakan hal yang sama bukan?"
"Baiklah, aku akan mencari makanan untukmu." Faris beranjak berdiri meskipun terlihat sangat lemas. Rupanya, perut Faris juga kena bogem mentah oleh mereka.
"Memangnya Mas Faris sudah mendingan, biar aku cari sendiri saja."
"Aku ini laki-laki Je… Fisik laki-laki diciptakan oleh Allah lebih kuat daripada wanita. Hanya luka lebam seperti ini tidak berpengaruh untukku. Kamu jangan terlalu khawatir."
"Mas Faris, aku ingin memelukmu!"
"Oh iya tentu sayang, sini Mas peluk…"
Keduanya saling memeluk, Faris menciumnya dengan lembut. Betapa besarnya cinta Faris kepada wanita yang kini ada dipelukannya.
New message, From Papi William : Berani-beraninya kamu bawa kabur putriku. Kalian akan kami cari sampai ketemu!
__ADS_1