
"Aku baru ketemu Papi sebentar, kenapa Papi pergi lagi?" Jessica begitu sedih ditinggalkan lagi oleh Papinya yang baru saja terbang. Keduanya masih berada di Bandara.
"Jess, Papi kamu disana mengemban tugas besar. Beliau ngga bisa cuti terlalu lama, kamu bisa menelvonnya bila kamu merindukannya." Ucapan Faris tidak membuat Jessica lebih baik.
"Kamu itu ngga tau Fa! Aku yang merasakannya. Aku punya kedua orang tua yang lengkap tapi aku ngga bisa merasakan kasih sayangnya. Apa aku harus diculik dulu seperti kemarin, agar mereka menemuiku..."
Jessica tertunduk lesu, Faris mengusap punggungnya berupaya menenangkan. "Kamu masih lebih beruntung, aku bahkan tidak mempunyai semuanya." Faris menatap Jessica dan tersenyum, "bahkan secara ekonomi pun aku masih pas-pasan. Jessica, harusnya kamu lebih bersyukur."
Jessica meneteskan airmatanya dan membenamkan kepalanya didada Faris. "Huu... huuu..."
Dibalik ketegaran, pecicilan dan kecerewetan Jessica ternyata hanyalah cover untuk menutupi kesedihannya. Perempuan itu sebenarnya adalah perempuan yang rapuh. Faris mengerti, itulah sebabnya hidup Jessica tak tentu arah.
Jessica melepas pelukannya dan mengusap airmatanya lalu mengerucutkan bibir. "Aku laper!"
Nah, seperti ini lebih baik. Batin Faris.
Faris lebih suka Jessica cerewet daripada nangis seperti tadi.
"Ya udah ayo kita makan." Ajak Faris dan menenteng tas Jessica, karena dia mendahului jalannya. "Kenapa tasnya ditinggal, emangnya siapa yang mau bawa kalau aku ngga ada." Keluh Faris sembari menggelengkan kepalanya.
Keduanya menuju bakmi GM tepatnya didekat lobby. Mereka sudah duduk dan mulai memesan makanan.
Setelah menyantap makanan, Faris dan Jessica menuju keluar lalu emesan taxi.
"Pak antarkan kami ke Butik dijalan X, nanti saya beri tahu alamatnya." Ucap Jessica pada driver.
"Baik Bu..."
"Kamu mau kebutik?" Tanya Faris menoleh kesamping, dilihatnya Jessica sedang memainkan ponsel.
"Iya, hanya mengecek sebentar. Kata Caca lagi ada masalah pengiriman barang, customer ada yang complain karena barang tak kunjung sampai. Kenapa kamu ngga mau ikut Fa? Apa mau kamu mau balik aja?"
"Ya udah kita berangkat berdua pulang juga berdua. Ngga ada yang jagain kamu," Faris mengingat Jessica baru saja diculik, dia harus extra menjaga istrinya. William sudah menitip Jessica sepenuhnya kepadanya.
"Oke."
***
"Hai pengantin baaruuuu ciyeee!!" Teriak Caca dan beberapa karyawan lain.
"Mulai deh, pasti kalau ada pengantin baru kalian sibuk ngebuly." Jessica memutar bolanya malas. "Fa mau tunggu didalam atau duduk disini?" tanya Jessica.
"Ya sudah, aku tunggu didalam."
Faris berlalu pergi ke ruang khusus Jessica. Dia merebahkan dirinya dikasur single bed didalamnya. Dia ingat betul, awal bertemu Jessica, Faris ditarik kedalam ruangan ini. Faris tersenyum membayangkan awal-awal mereka bertemu. Jodoh tidak ada yang tau, padahal waktu itu Faris masih mempuyai tambatan hati yang lain...
Diruangan yang lain, Caca masih saja menggoda bos perempuannya. "Ciyee udah belum? gimana enak nggak?"
__ADS_1
"Enak. Kenapa? Mau?" Jessica menjawab dengan santai. Telinganya sudah cukup bebal menghadapi orang gendut didepannya.
"Ya ampun Bu, ama siapa?"
"Sama Bagas kalau mau, nanti aku nikahin gratis plus bulan madu ke labuan bajo."
"Ihh engga, bagasi bau apek."
"Tinggal disemprot aja pakai parfum, beres kan?"
"Ngga ada niatan berjodoh dengan dia. Huek."
"Jangan begitu, benci bisa jadi cinta."
Caca bergidik ngeri membayangkan bagaimana kalau dia bercinta dengan Bagas... "Aaaahhhh !! Engga Bu, engga! Amit-amit jabang bayi monyet."
"Okkey skip skip skip. Kita masuk ke pokok permasalahan, apa kendalanya?"
Caca menjelaskan secara gamblang dimana pengiriman itu tersendat, dan mereka segera menghubungi jasa pengirim dan masalah selesai. Tinggal bagaimana memberi tahu costumer agar mereka harap memaklumi. Kesalahan seperti ini memang sering terjadi dan menurut mereka adalah hal yang wajar.
Setelah semua selesai, Jessica masuk kedalam ruangannya. Jessica melihat Faris begitu pulas tertidur. Jessica hampir lupa bahwa dia telah menguras energi Faris semalam, Jessica menatap punggung Faris dan mengulum senyum.
Beberapa detik kemudian Faris menyadari dirinya sedang diperhatikan. "Eh, Jess udah selesai?" Faris terbangun dan mengerjapkan matanya. "Maaf aku ketiduran,"
"Udah kok dah selesai."
"Kenapa ngga bangunin aku?"
"Ya sudah kita pulang ya, udah malam. Anak-anak melembur semua? Jam segini kok mereka masih ada disini."
"Iya hari ini saja, besok mereka libur bulanan selama seminggu. Karena mereka ngga ambil libur sabtu minggu. Jadi mereka ngambil jadwal liburnya sekaligus."
"Ooh... Ayo kita pulang."
Keduanya pulang memakai taxi lagi.
***
"Kamu naik duluan aja Fa, aku keatas nanti. Mau ngadem dulu dikolam." Ucap Jessica.
"Apa perlu aku temani?"
"Ngga perlu, kamu tidur aja dulu. Nanti aku nyusul ya."
"Iya."
Faris menaiki tangga dan menuju kekamar mereka meninggalkan Jessica yang sepertinya moodnya belum kembali setelah kepergian Papinya beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
Faris memaklumi, William dan mantan istrinya begitu tak mempedulikan psikis Jessica yang sudah lama ditinggalkan sendiri. Orang tua macam apa itu. Uang tidak akan pernah bisa membeli semuanya.
Dua jam berlalu Jessica tak kunjung naik keatas. Kini jam menunjukkan pukul satu dini hari. Apa yang dilakukannya dikolam? Faris menjadi tak tenang, matanya pun tak kunjung terlejam. Tak perlu menunggu lebih lama lagi, Faris segera turun untuk mengetahui apa yang Jessica lakukan.
Faris tersenyum mendapati Jessica yang sedang merebahkan diri dikursi santai dan menatap langit-langit yang bertaburkan bintang.
Tapi.... Ada yang mengganjal dihatinya. Ternyata benar. Tidak salah lagi, benar dugaannya. Mulut Jessica sudah berasap. Faris benar-benar geram melihatnya. Dia sendiri yang laki-laki saja menghindari semua itu. Tuhan memang melarangnya untuk kebaikan manusia itu sendiri. Tapi manusia yang jelas-jelas tau masih saja melanggarnya dengan berbagai alasan.
"Jes kamu minum apa?" dilihatnya, Jessica sedanng menenggak wine. Faris memang laki-laki polos. Tapi bukan berarti dia tidak tahu minuman-minuman seperti itu.
"Hanya wine, kadar alkohol 9-16% tergolong rendah. Minuman itu tidak membuatku begitu mabuk tenang aja."
Ya Tuhan, Jessica benar-benar PR yang berat untuk Faris.
"Kamu harus bisa meninggalkannya. Alkohol itu haram seberapa kecil kandungan didalamnya tetap saja tidak boleh kamu konsumsi." Ucap Faris menegaskan.
Jessica menatap tajam laki-laki yang berstatus suaminya itu. "Aku bisa melepasnya, tapi aku butuh waktu. Tidak bisa seratus persen aku berhenti. Mesti ada tahapannya."
Faris menghirup nafasnya lebih dalam, "baiklah. Tapi ingat Jes, kamu harus segera meninggalkannya."
"Ya, aku tau ini berdosa."
"Buang rokokmu Jes!"
"Hahhhh apaan sih! Diam nggak!" Jessica bersuara keras. Sepertinya efek dari alkohol itu yang menjadi pemicunya.
"Jangan tinggikan suaramu Jessica, aku suamimu sekarang. Walaupun aku tak berharta sekalipun, derajat suami lebih tinggi daripada seorang istri."
"Berisik tau ngga! Sana pergi!''
Astaghfirullah... Faris mendesah pelan. Benar-benar mengesalkan, dia ngga tau bahwa Faris sedang memanggul beban yang sangat berat. Seorang suami bisa tergelincir masuk kedalam neraka jahanam jika Faris tak berhasil menuntun istrinya kejalan yang benar.
Ya Tuhan... Bantu Faris, bantu Faris...
Faris membuang botol itu dan memecahkannya.
PRANG!!
"Buang semua! Buang! Kamu pikir aku ngga liat dimana tempat membelinya? Jangan mengaturku!"
"Kamu istriku, kamu sepenuhnya tanggung jawabku!!" Faris membalas ucapan Jessica tak kalah tinggi. "Buang rokoknya Jessica..."
Jessica tak bergeming, dia melanjutkan duduk santainya dan merokok kembali.
Tampaknya, Faris tidak bisa berlama-lama disini. Dia harus meninggalkannya karena amarahnya bisa memperburuk situasi. Mungkin benar, ada tahapan-tahapannya. Jessica tidak bisa melepas semuanya serentak sekaligus.
Faris meninggalkan Jessica sendiri yang tetap tidak mau dihentikan dari aktifitasnya. Wanita itu cukup keras kepala, dia juga butuh waktu untuk menenangkan dirinya sendiri. Dua rakaat, cukup untuk bermunajat kepada-Nya. Memohon petunjuk.
__ADS_1
....
TO BE CONTINUED