
Mata Jessica terlihat sembab akibat dari cucuran air mata yang tak kunjung berhenti.
Jika boleh memilih, ia tak pernah menginginkan terlahir dari seseorang yang bengis seperti William. Buta sekali pikirannya karena cinta.
Wanita berperut buncit itu duduk di pojok ranjang, sesekali terlihat sedang menyeka bulir-bulir air bening yang keluar dari sudut matanya. Jessica benar-benar dalam keadaan terpuruk.
"Mas Faris! Aku merindukanmu, aku rindu diperhatikan olehmu. Harusnya aku percaya padamu dan ikut denganmu Mas Faris, aku ingin hidup bersamamu walaupun mungkin hidupmu pas-pasan. Aku tidak masalah, asalkan rumah tangga kita utuh. Kita besarkan anak kita sama-sama."
Angin berhembus sangat pelan di balkon kamar wanita yang sangat malang. Sepoi-sepoi desiran angin itu harusnya bisa menentramkan jiwa. Tapi tidak dengan Jessica. Sejak pembicaraannya dengan William empat hari lalu, ia belum keluar kamar. Hingga detik demi detik waktu terlewati, ia akan selalu mengurung diri dikamar. Dia menahan emosinya agar stabil dan tidak meledak-ledak. Dia akan lebih emosional jika melihat orang tuanya. Dia harus ingat, ada bayi yang tumbuh didalam perutnya agar selalu terjaga.
Rasa ingin di dampingi suami saat berbadan dua seperti ini harus ia singkirkan. Ia akan sendiri dalam hari-hari kedepan. Apa maksud dan tujuan Indira melakukan ini?
Dia meraih kotak kecil yang sudah terisi beberapa catatan miliknya. Selama empat hari dia mengisi kesepiannya dengan menulis. Menceritakan kondisi bayinya yang tengah dia kandung, agar Faris kelak dapat membaca apa saja yang dia rasakan. Dia ingin berbagi cerita dengannya.
__ADS_1
Tangan kecil itu meraih pena, mulai menulis dari bait ke bait. Terlihat gurat-gurat kesedihan yang tak kunjung pudar meskipun lantai yang dia pijak terasa begitu nyaman. Kemewahan tidak selalu menjamin kebahagiaan. Faris telah menyentuh hatinya sampai titik terdalam meskipun Jessica belum pernah sekalipun mengungkapkan.
Laki-laki baik itu akan terus bersemayam di hatinya. Sampai kapanpun, meskipun William akan melarangnya bertemu.
***
"Mas sih, terlalu sabar. Coba kalau aku, sudah aku hajar si William. Kenapa sih Mas, kamu itu terlalu baik menerima semua tuduhan itu dengan ikhlas. Mas, marah itu boleh loh! Mas harus membela diri bahwa Mas itu gak salah."
"Apa sih motif dari jebakan itu, aku penasaran. Kenapa wanita itu tega sekali." Bagas masih menggerutu kesal.
Faris tersenyum yang dipaksakan. "Aku tidak tahu, semoga Allah cepat memberinya hidayah."
"Kalau dipikir secara logika nih, kalau memang Mas mau berbuat kayak gitu ngapain juga ngincer nenek-nenek, sementara istri Mas jauh lebih cantik dari segi apapun. Apalagi nenek itu ibunya istrimu. Gila apa?! AH POKOKNYA AKU NGGAK TERIMA Mas digituin!!"
__ADS_1
Faris memeluk sahabat sekaligus saudaranya ini segera untuk menenangkan emosinya. Entah kenapa malah Bagas yang lebih menggebu-gebu dan matanya memerah. Sementara Faris hanya menerima dengan lapang dada atas segala perlakuan yang harus diterima. Bagas berfikir, memang Faris orang yang terlalu baik untuk berjodoh dengan Jessica. Orang ikhlas dan santun seperti dia tidak pantas menjadi menantu William.
Melepas pelukannya, baru kali ini dia melihat Faris sehancur ini. Wajahnya diselimuti dengan raut kesedihan. Cinta bisa mengubah segalanya dalam sekejap mata. Selama empat hari ini Faris sempat merahasiakan masalah ini.
"Kalau aku gak tanya, Mas gak akan ngomong? Mau dipendam sendiri?"
"Aku belum siap mengutarakan semuanya." Faris tertunduk lesu. "Maaf ya, aku malah jadi tinggal disini lagi…"
"Eh eh eh ngomong apa sih Mas, ini rumahmu. Mas sangat berhak tinggal disini, malah seharusnya aku yang pergi."
Terlihat Faris menyeka air matanya.
Bulan lalu, Faris sempat menyisihkan uang untuk membantu Bagas agar mempunyai tempat tinggal tanpa harus menyewa lagi. Tapi ternyata malah untuk ditempati sendiri. Tidak tahu ini adalah bagian dari rencana Allah.
__ADS_1