
Faris tersentak, kasur yang ia tiduri terasa melesak. Menandakan Jessica sedang bergabung dengannya. Faris sedikit melirik Jessica yang sudah berganti pakaian, harum sabun menyeruak di indera penciumannya. Ternyata dia sudah membersihkan diri.
Faris hanya berpura-pura tidur, dia cukup memperhatikan pergerakan Jessica. Dirasa sudah tenang, Faris membuka matanya. Matanya memperhatikan Jessica yang berada di sebelahnya. Matanya sembab, hidungnya memerah. Ya Tuhan, apa Faris tadi membuatnya bersedih? Apa yang dia lakukan tadi dan cara menegur nya salah? Faris merasa tidak enak sendiri.
Pasti Jessica sedih karena Papinya pergi ditambah dengan pertengkarannya. Maklumi saja, Jessica adalah perempuan yang tidak pernah bisa dilarang oleh siapapun.
Faris mengusap pipi Jessica pelan agar Jessica tidak terbangun. Diselipkannya rambut ke belakang agar tidak menutupi wajahnya.
"Maafin aku ya Ca, tadi aku sudah membentakmu." Gumamnya pelan, sebenarnya masih bisa terdengar ditelinga Jessica.
"Kamu belum tidur?" Faris tersentak saat Jessica berbalik badan menghadapnya, lalu menggeleng.
"Aku juga minta maaf tadi aku kaya gitu, maaf ya Fa. Aku butuh waktu untuk bisa menghentikan semuanya."
Faris tersenyum tipis, "tidurlah. Sudah hampir pagi. Nanti harus bangun shalat subuh."
"Aku sedang menstruasi."
"Oh ya sudah, nanti aku nggak bangunin kamu berarti."
Faris memejamkan matanya kembali. "Peluk aku Fa!"
"Hmm," Faris mendekap tubuh cantik itu kedalam pelukannya.
***
Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Keduanya berada di meja makan melakukan sarapan pagi.
"Kamu mau kemana, pagi-pagi udah rapi."
"Mau ketemu Glen, aku mau survei tempat-tempat usaha Papi kamu. Aku yang akan mengurusnya."
"Ooh.. begitu,"
Mereka melanjutkan sarapannya kembali sampai selesai.
"Jess, ada yang ingin aku bicarakan."
"Ada apa Fa?"
"Duduk disana," tunjuknya kesamping dekat TV.
Seyelah keduanya terduduk, Faris mengawali pembicaraan. Keduanya saling menatap.
"Jangan tunda kehamilan, aku ingin menjadi ayah dari anak-anakmu."
Ya, dengan begitu kenakalan Jessica mungkin bisa pelan-pelan berubah. Karena menjadi seorang ibu, harus mencontohkan yang baik untuk anak-anaknya. Jessica tampak berfikir, raut wajahnya seketika berubah gelisah.
"Kenapa? Apa kamu tidak mau mempunyai bayi-bayi yang lucu?" Faris mengucapkan itu sambil tersenyum membayangkan punya anak perpaduan dirinya dan Jessica, pasti sangat lucu dan menyenangkan.
"Hmm iya, nanti aku pikirkan." Jawaban Jessica membuat senyuman Faris surut.
__ADS_1
"Tapi kenapa harus dipikirkan? Kamu keberatan untuk mengandung anak dariku?"
"Bukan begitu, aku rasa belum saatnya."
"Apa yang kamu khawatirkan Jessica, kamu wanita bersuami. Itu wajar bukan?"
"Aku mau ke kamar dulu Fa!"
Jessica meninggalkan Faris yang mematung sendirian, jawaban Jessica sudah cukup membuatnya makan hati pagi ini.
"Jessica, aku mau pergi sekarang!"
Ooh shiiitttt… kata-katanya hanya angin lalu. Beginikah rasanya punya istri? Faris pikir seorang suami yang pergi dari rumah akan mendapatkan pamit cium punggung tangan dan dibalas dengan cium kening. Ternyata hanya angan-angan belaka. Sangat mendongkolkan jiwa.
Akhirnya Faris pergi dengan wajah yang murung. Dia keluar mengendarai mobil avanz*nya dan bertemu dengan Glen di sebuah tempat.
***
"Caca kamu dikontrakan?"
Jessica menelvon Caca untuk memintanya bertemu.
"Hei Bu, ini hari libur apa kamu lupa?"
"Iya aku tau, aku lagi bete. Butuh teman ngobrol."
"Jangan bilang mau cerita masalah, aku juga banyak masalah Bu."
"Huhhhh, ya sudahlah. Kamu juga tidak bisa kuharapkan."
"Aku sama supir saja. Kita ketemu di Cafe Gandaria. Aku tunggu kamu disana, segera."
Tut tut tut.
***
"Ibu itu jahat atau nggak? Aku tuh belum pakai make-up apa-apa. Udah gitu nggak sabaran. Nyebelin." Caca bersungut-sungut kesal, alisnya juga belum sepenuhnya di gambar tapi Jessica sudah teriak-teriak memintanya supaya cepat-cepat.
"Ya udah make-up an disini aja."
"Malu tau."
Mereka memesan makanan yang penuh dengan perdebatan. Kebiasan Caca yang tidak pernah bisa hilang. Memesan sebanyak-banyaknya dengan porsi besar. Kayaknya balas dendam.
"Ngomongnya diet-diet, tapi makannya sebanyak itu."
"Yo wis ben terserah aku to ya!"
"Aku yang rugi kalau gitu. Untung kamu gajinya gede. Bayangin kalau kamu kerja ditempat lain, pasti kamu sudah jual ginjal buat makan."
"Asem !! Tapi, jangan salahkan aku. Ibu yang ngundang aku kesini jadi harus bayar waktuku yang terbuang. Ingat Ibu, waktu adalah uang."
__ADS_1
"Iyaa, perhitungan banget."
"Tadi katanya mau ada yang diomongin?" Caca bertanya, tangannya sibuk memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Dave kemana sih, semenjak tragedi penculikan kenapa dia menghilang gitu aja."
"Iya juga sih. Tapi kenapa emang? Ibu kangen?"
"Hanya bertanya, kan dia teman lamaku."
"Teman gesrek ditanyain."
"Aku nggak pernah gesrek sama dia, cuma temenan biasa."
"Tapi dia punya perasaan, harusnya ibu peka dong!"
"Aku hanya menganggap dia teman, dan Dave nggak mempermasalahkan itu."
"Hati manusia emang siapa yang tahu?"
Jessica menunduk, ada hal yang ingin di utarakan. Tapi takut salah.
"Kenapa lagi sih Bu?" tanya Caca yang seolah-olah mengerti kegundahan atasannya.
"Satu lagi, Faris menginginkan anak dariku Ca,"
"Masalahnya apa?"
"Aku belum siap, nanti kalau aku punya anak akan banyak waktu yang tersita dirumah."
"Lha memang benar tugas isteri itu di rumah kan Kan ada suami ibu yang bantuin."
"Aku nggak yakin."
"Nggak yakin gimana? Faris itu baik lho Bu, banyak cewek yang suka sama dia. Jangan sampai meleng Bu. Itu cowok idaman, nanti ibu bisa menyesal."
"Dia itu ngatur-ngatur aku tau nggak? Aku nggak boleh ini, nggak boleh itu. Banyak larangan itu cukup membosankan!"
"Dan semua itu untuk kebaikan ibu, harusnya ibu bersyukur punya suami sebaik dia."
"Kamu puji aja dia terus!"
"Kalau ibu nggak mau sama dia, kenapa nggak bilang dari awal. Ibu sama dia sudah menikah. Kalau ibu menyesal, lantas memangnya mau jadi janda?"
"Janda hot nggak apa-apalah."
"Ngawur! Sekarang ada dimana Pak Faris? Ibu sudah izin sama beliau?"
"Nggak!"
"Isshh istri durhaka."
__ADS_1
Keduanya berbicara ria dan tertawa lepas. Begitulah cara mengatasi masalah tanpa solusi.
T B C.