
WIDEL POV
Tak kusangka, aku menginjakkan kakiku disini lagi. Berada di depan pintu apartemen seorang pria pencampak wanita.
Dengan berat hati, aku membunyikan bell yang berada di sisi pintu, dan tak menunggu lama, pintu itu dibuka oleh seorang pria yang lain. Bukan Devano Lewis.
“Silahkan masuk nona dan langsung sajikan di atas meja ruang makan sebelah sana” ucap pria itu sopan mempersilahkanku masuk dengan sedikit membungkuk dan tangannya yang mengarahkanku ke ruang makan.
Aku hanya mengangguk dan langsung menuju arah yang ditunjukkan oleh pria itu. Pria itu langsung pergi entah kemana saat aku telah sampai di ruang makan dan bersiap untuk menyajikannya langsung ke atas meja dengan tertata rapih.
Saat sedang mengatur makanan di atas meja, ponselku tiba-tiba berbunyi di dalam saku baju kerjaku. Aku mengambil ponselku hendak mengangkatnya, tapi mataku langsung membelalak tak percaya dengan siapa yang menghubungiku saat ini. Kutatap layar ponselku dengan terpaku melihat nama ‘Devano Lewis’ yang tertera.
Aku memberanikan diri hendak berbalik ke belakang untuk menoleh ke arah sofa besar yang berada di ruang tengah. Berniat melirik diam-diam takut kalau saja pria itu ada disana. Namun saat aku berbalik, betapa terkejutnya aku sampai harus menutup mulutku dengan kedua tanganku saat melihat orang yang kutakuti ternyata sudah berada di belakangku tak kurang satu meter dari kakiku berdiri.
“Tu-tuan ?”
***
AUTHOR POV
Devan tersenyum miring menangkap basah Widel di hadapannya langsung.
“Kau tau, tadi pagi ada seseorang yang tak tahu siapa menghubungiku di pagi hariku yang tenang. Aku mengangkatnya namun dia mematikannya tiba-tiba. Aku menghubunginya berkali-kali namun dengan beraninya dia mengabaikan teleponku. Apa kau tau orang itu siapa ?” ucap Devan dengan nada santai sambil mendekati Widel perlahan dengan tatapan menusuknya. Widel membeku seketika tanpa bisa bergerak kemanapun. Dia seperti tertangkap basah oleh seekor singa yang siap menerkamnya saat itu juga.
Widel menelan ludah dengan keras melihat Devan yang semakin dekat dengannya. Ia hanya bisa termundur dan berhenti saat pinggangnya menabrak ujung meja. Kini ia tak bisa lari kemanapun. Begitu sialnya dia malam ini. Firasatnya memang sudah tak enak saat berada dalam ruang apartemen itu.
Pria itu terus mendekat dan memerangkapi tubuh kecilnya dengan kedua tanganya yang bertopang di atas kaca meja makan. Devan mendekatkan wajahnya ke telinga Widel dan berbisik “Apa kau tahu, orang itu kini berada di hadapanku saat ini”.
Mendengar bisikan itu di telinganya, seketika membuatnya bergidik ketakutan. Wajah Widel yang tadinya cerah, kini menjadi pucat pasi.
“Tu-tuan, saya minta maaf. Sa-saya tidak bermaksud untuk-” ucap Widel dengan suara bergetar.
“Apa kau pikir hanya dengan ucapan ‘Maaf’ bisa mengubah suasana hatiku?” kata Devan pelan sambil menatapnya tajam memutus perkataan Widel.
“La-lalu a-apa yang Anda inginkan Tuan ?” tanya Widel gelagapan.
Devan yang melihat ekspresi Widel yang ketakutan seperti itu, membuat hatinya senang merasa telah berhasil mempermainkan emosi gadis kecil itu. Devanpun melanjutkan rencana liciknya walau sebenarnya sudah tak tahan ingin tertawa sekencang-kencangnya melihat ekspresi gadis itu yang begitu lucu.
__ADS_1
Devan menyunggingkan senyum sensual yang kurang ajar lalu mengangkat dagu kecil Widel dengan sebelah tangannya dan mendekatkan wajahnya hingga Widel merasakan hembusan nafas Devan yang hangat, kemudian ia berbicara dengan nada yang cukup erotis.
“Hukuman apa ya, yang biasa seorang gadis sepertimu berikan untuk seorang lelaki dewasa sepertiku ?” ucap Devan tak lepas dari pandangan tajamnya ke mata bulat Widel.
Melihat Widel yang menegang mendengar perkataannya, membuat Devan semakin senang melanjutkan aksi kurang ajarnya. Ternyata sesenang ini rasanya mempermainkan emosi seorang gadis lugu. Devan lalu berpura-pura mendekatkan bibirnya hendak mencium bibir mungil Widel.
Widel hanya memejamkan matanya paksa, lalu seketika “BRUUKK!!”.
Widel secara impulsif menendang ‘milik’ Devan menggunakan lutut nya sekuat tenaga lalu lari sekencangnya berusaha kabur dari Devan saat pria itu sedang meringis kesakitan sambil membungkuk memegang ‘milik’ kebanggaannya yang mungkin berdenyut keras ketika itu.
Widel berlari menuju pintu, sementara Devan mengejarnya dengan tertatih berusaha menahan sakitnya sambil terus meneriaki nama Widel dengan keras.
“Kau pikir kau bisa kabur semudah itu dari sini nona kecil ?” ucap Devan dengan tertawa jahat. Ia kini sudah berada di hadapan Widel yang masih berusaha membuka pintu yang sayangnya terkunci itu. Widel lalu merogoh ponselnya hendak menghubungi Kak Reza berniat ingin meminta bantuan. Ia lalu mencari nomornya dengan cepat namun ponselnya dirampas tiba-tiba oleh Devan.
“Oh, Kau mau menghubungi kekasihmu hah ?” tanya Devan dingin.
“Kalau Iya memang kenapa ? Maaf Tuan dengan ketidaksopananku sebelumnya. Aku benar-benar sudah tak tahan dengan sikap kekurangajarmu itu padaku. Kau hanya berani menindas seorang perempuan lemah. Dasar kau pria gila! Psikopat!” ucap Widel penuh kemarahan tampak dari wajahnya yang kini merah padam karena emosi.
“Apa? Apa kau bilang ?” Tanya Devan tak percaya mendengar kata-kata gadis itu.
“Beraninya anak kecil sepertimu!” ucap Devan menggeram marah.
“A-apa ? A-anak kecil ?” tanya Widel penuh amarah tak terima disebut anak kecil oleh pria itu.
“YA! ANAK KECIL SEPERTIMU!” ucap Devan perlahan dengan lantangnya.
“Cih! Jangan sampai kau malah ‘Jatuh Cinta’ pada ANAK KECIL SEPERTIKU” ucap Widel menekankan tiga kata terakhir dengan lantang seraya mendongakkan kepalanya pada Devan dengan tatapan menantang. Devan tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan gadis kecil yang tak masuk akal itu.
“Kau bercanda! Mana mungkin aku jatuh cinta pada penyihir kecil sepertimu. Yang ada Kau yang akan tergila-gila pada pria sempurna sepertiku!” ucap Devan disela-sela tawanya.
“Hah! JANGAN HARAP! Dimataku, kau hanyalah pria gila psikopat yang hanya bisa menindas seorang wanita!” ucap Widel tajam dengan tatapan menantang.
“APA?? Dasar Kau-” Kini Devan telah emosi dengan perkataan Widel yang memaki dan merendahkan dirinya. Devan hendak memukul Widel tapi berhenti saat Widel malah berharap agar dipukul olehnya seperti semakin menantangnya.
“Cih! Kau mau memukulku ? Pukul lah, AYO PUKUL!” ucap Widel semakin mendekat, dan menjinjit pada Devan berusaha menyodorkan wajahnya memberikan kesempatan Devan agar segera memukul wajahnya.
“Dasar kau penyihir kecil!” ketus Devan mengurungkan niatnya memukul gadis kecil itu.
__ADS_1
Sampai saat akhirnya ponsel Widel yang masih berada digenggaman Devan tiba-tiba berdering membuat mata Widel kembali melotot.
“Oh, ibumu yang menelepon penyihir kecil” ucap Devan menyeringai kurang ajar sambil terus mengangkat tangannya setinggi mungkin. Widel melompat sekuat tenaga untuk meraih ponsel itu namun nihil. Pria itu terlalu tinggi baginya.
“Kira-kira apa ibumu akan senang mendengar suara ‘desahan nikmat’ seorang pria di ponsel anak gadisnya tercinta ?” ucap Devan tersenyum menggoda dengan nada sensual yang dibuat-buat namun terselip nada mengancam.
“Jangan macam-macam kau pria gila, brengsek! Dasar psikopat!” ancam Widel yang kini sudah sangat muak mencoba mengatur nafasnya yang menderu karena emosinya.
“Oh.. Kau masih berani rupanya. Kalau begitu..........” ucap Devan hendak menekan tombol hijau di layar ponsel Widel.
“Baiklah, Apa mau Anda Tuan ? Mohon kembalikan ponsel saya!” ucap Widel melembut. Ia telah menyerah karena sadar tak ada yang dapat ia lakukan saat ini.
Devan tersenyum jahat sebelum berkata, merasa ia telah menang dari gadis kecil dihadapannya ini.
“Baiklah. Karena sangat tak mungkin seorang anak kecil sepertimu melayaniku di ranjang, kita coba hukuman yang lain saja. Berhubung aku saat ini sudah tidak punya pasangan, maka kau harus mendampingiku ke pesta penting besok malam” jawab Devan tersenyum puas penuh kemenangan.
“Tapi besok malam saya kerja Tuan. Mohon pengertiannya. Saya tak bisa melakukan itu” tolak Widel cepat.
“Kalau begitu berhentilah dari pekerjaanmu itu” perintah Devan santai.
“Kau ini memang gila!” ucap Widel menggelengkan kepala sambil terkekeh.
“Kenapa? Aku bisa memberikanmu pekerjaan dengan gaji berkali-kali lipat dari pekerjaanmu itu” ujar Devan tak mau kalah.
“Tidak Tuan, melihat dirimu yang psikopat seperti itu, pasti pekerjaan tak beres yang akan kau berikan padaku nanti” jawab Widel tetap menggeleng.
“Apa kau bilang ? Ooh.. kau menolak yaa?” ucap Devan lalu melirik ke layar ponsel Widel yang masih berdering. Widel yang menangkap maksud ancaman Devan akhirnya menyerah.
“Baiklah. Baiklah Tuan. Saya menyetujui persyaratanmu. Tapi saya juga punya persyaratan untukmu” ucap Widel sambil menahan lengan Devan yang hendak menerima telepon dari ibunya.
“Apa syaratmu ?”
“Kau harus memberikanku pekerjaan yang halal dengan gaji tiga kali lipat dari pekerjaanku semula. Bagaimana ? sepakat ?” ucap Widel sembari mengulurkan tangannya pada Devan.
“Oke. Itu mudah bagiku” jawab Devan meraih uluran tangan Widel lalu berjabat tangan tanda sepakat.
Bersambung...
__ADS_1