
Jika hatimu adalah sebuah gunung berapi, bagaimana bisa kamu mengharapkan bunga untuk mekar?
[Kahlil Gibran]
-----
DEVAN POV
Aku bingung dengan apa yang ada di pikiranku dan rasa yang bergejolak dihatiku saat ini. Aku begitu murka saat mengetahui perselingkuhan oleh Angel- kekasihku sendiri. Disaat pikiranku kalut dan emosiku yang sedang memuncak, tiba-tiba ada sesuatu yang membuat darah yang sedang mendidih di kepalaku ini, seketika seperti tersiram air dingin. Byur! seper sekian detik, emosiku seakan menghilang.
Aku terpaku memperhatikan tingkah laku seorang gadis bertubuh mungil di hadapanku. Gadis itu tak lain hanyalah seorang pengantar makanan di sebuah restoran. Baru kali ini aku melihat seorang kurir yang seorang wanita. Dengan tubuh kecilnya, kenapa bisa ? bukannya pekerjaan kurir harusnya adalah seorang laki-laki? Pekerjaan itu sungguh sangat berat untuk seorang gadis kecil sepertinya.
Gadis dengan rambut panjang yang dikuncir seperti ekor kuda itu, terlihat sedang menunduk dan memain-mainkan kakinya di atas lantai depan pintu apartemenku. Digesek-gesekkannya ujung sepatu kanannya seperti sedang menuliskan sesuatu. Tak lama dia baru tersadar kalau aku sudah ada di hadapannya sejak tadi. Ia mendongakkan kepalanya ke arahku dan langsung menyunggingkan senyum lebarnya. Hatiku berdesir!
Dia seorang gadis biasa, tidak terlalu cantik sih, dan bentuk tubuhnya juga kecil mungil. Tapi wajahnya manis dan imut. Entah kenapa, wajahnya begitu nyaman saat dipandang.
Aku memandangnya lekat, dan kulihat buliran air bening sebesar jagung menetes di pelipisnya. Mata bulatnya seperti menyinarkan suatu kepolosan yang alami, sangat berbinar. Oh Tuhan....
Segera kusadarkan diriku dan langsung menyuruhnya masuk. Aku mengambil uang di dalam, tapi gadis kecil itu malah ketakutan saat melihatku bertengkar dengan Angel yang saat itu masih kekasihku.
Lucunya, dia tiba-tiba menangis. Aku pikir karena apa? ternyata hanya karena kakinya yang tiba-tiba kram. Dia menangis seperti anak kecil di hadapanku. Aku memeluknya dengan erat dan menenangkannya dalam pelukanku. Dia membuat bajuku basah karena air mata dan ingusnya yang terus mengalir. Lalu aku menggendong dan mengompress kakinya dengan air hangat agar rasa kram dikakinya mereda.
__ADS_1
Aku juga mengajaknya makan. Makanan yang sudah kupesan dan harusnya kumakan bersama dengan Angel, akhirnya menjadi makan malam bersama dengan gadis kurir itu. Aku senang melihat caranya makan, dia tidak menjaga imagenya seperti pada wanita-wanita umumnya saat makan bersama seorang pria. Dia sangat apa adanya. Dia begitu lahap, tanpa harus canggung di depanku. Gadis itu juga sering merona, dan selalu salting saat aku berusaha dekat dengannya. Dia sering terkejut. Sangat imut!
Tanpa kusadari, bersamanya aku selalu tersenyum sampai lupa akan masalahku dengan Angel. Saat kutanyai namanya, ternyata nama gadis kecil itu adalah Widelia Syaqilla. Nama yang cantik. Widel.
Aku pikir aku tak akan bertemu dengannya lagi, tapi aku melihatnya lagi di sebuah restoran saat aku menunggu Angel di siang hari itu. Aku tersenyum begitu melihatnya, namun senyumku seketika memudar saat melihat seorang pria di depannya, sedang tertawa bersama dengan begitu riang.
Angel ternyata sudah duduk di hadapanku. Aku begitu marah melihatnya, entah karena melihat wajah Angel yang membuat moodku jadi memburuk, atau karena gadis itu yang sedang bersama dengan seorang pria, aku tidak tahu. Aku segera pergi meninggalkan restoran itu. Sepanjang jalan aku terus uring-uringan hingga sampai ke apartemenku.
Lalu, tiba-tiba Riko menginformasikan sesuatu yang membuat senyumku merekah, karena pemilik nomor misterius yang merusak pagiku waktu itu tak lain adalah Widel. Aku jadi punya rencana bagus untuk membuatnya bertemu lagi denganku.
Malam itu, dia mengantarkan pesanan lagi di apartemenku. Aku sengaja menyuruh Riko asistenku agar gadis itu langsung menyiapkan makanan itu di atas meja makan. Aku ingin menangkap basah gadis itu langsung. Dan ternyata perkiraanku benar, ekspresi nya sangat lucu. Dia ketakutan setengah mati. Aku jadi menikmati untuk mengerjainya. Tapi tindakannya begitu tidak kusangka-sangka, dia menendang kejantananku dengan sangat keras. Shit!
Aku jadi semakin tertantang untuk semakin mempermainkannya. Dan sungguh tidak kuduga, dia dengan berani memakiku dan menatapku dengan pandangan menantang. Dimana ketakutannya tadi ?. Tiba-tiba dia berubah menjadi sangat berani saat ia sudah terdesak. Dia juga mudah emosi, dan suka menjawab ucapanku. Dia berani melawanku.
Tenyata dia marah padaku karena telah mencuri ciuman pertamanya, dia berkata kalau aku sudah mengotori mulutnya, dan dia merasa jijik karena itu. Sungguh aku terpaku mendengarnya, sex sudah merupakan hal yang biasa bagiku. Tapi gadis itu.. ciuman saja belum pernah dan dia sudah menjaga kesuciannya selama ini. Jujur... Aku salut padanya!
Karena merasa bersalah, aku berusaha menghargai usahanya itu. Aku mencoba memberinya selembar cek agar dia senang, tapi tak kusangka dia malah merobeknya dengan begitu ganasnya. Semua wanitaku rata-rata sangat menyukai uang. Saat mereka marah, aku membujuknya dengan uang atau membelanjakan mereka dengan perhiasan atau barang branded yang sangat mahal, mereka pasti sangat senang. Tapi gadis ini... sungguh di luar dugaanku. Dia menjadi sangat marah padaku, dan aku pun tak sadar sudah memeluknya dan meminta maaf padanya. Aku bingung apa yang harus kulakukan untuk membuatnya tenang ? Dia menolak uangku. Jadi dia mau apa ? Suatu yang tak kusangka dia hanya ingin es krim yang kutawarkan padanya. Gadis yang aneh!
Saat sedang menungguku di sofa, dia tertawa terpingkal-pingkal menonton acara komedi di televisi. Aku sangat senang melihatnya seperti itu. Dan saat dia menyebut namaku, ada suatu perasaan aneh yang bergejolak di dalam hatiku.
Lalu tengah malam, aku sangat senang mendapatkan pesan darinya, dan kujawab langsung dengan cepat, menyuruhnya untuk menemuiku di kantor saat jam makan siang esoknya. Sungguh aku tak sabar untuk menemuinya.
__ADS_1
----
Hari ini dia datang tepat waktu sesuai dengan janji. Aku penasaran apa yang mau dia bicarakan denganku. Apakah dia akan menanyakan tentang pekerjaan yang aku janjikan padanya ? Apa dia sudah resign dari pekerjaannya ?.
Ternyata aku salah besar. Dia mengunjungiku hanya untuk memberitahuku kalau dia tidak bisa menerima tawaranku, dan menolak permintaanku.
Aku mencoba mengingatkannya kembali, tapi dia tetap menolakku. Sungguh, mendengarnya yang terus menolakku dan tidak bisa menurutiku, hatiku begitu gelisah dan perih. Aku mencoba segala cara untuk membuatnya menuruti permintaanku bahkan sampai harus menggertaknya dengan keras. Tapi dia tetap teguh. Gadis itu malah menduga kalau aku tertarik dan menyukainya. Itu tidak mungkin, karena dia bukanlah tipe gadis yang kusukai selama ini. Gadis yang kusukai, haruslah cantik, mulus, tinggi dan seksi. Gadis itu sama sekali tidak termasuk dalam daftar itu. Mungkin aku hanya penasaran padanya, dan menganggapnya sebagai mainan kecilku yang menyenangkan.
Namun perkataannya terakhir, membuatku membeku. Dia menyuruhku untuk membuktikan perkataanku padanya kalau aku benar-benar tidak tertarik dengannya. Bukankah itu artinya aku harus menjauhinya ? Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Belum ada wanita yang membuatku tak bisa berkutik seperti ini.
“Riko, hubungi Wilona, suruh dia bersiap-siap nanti sore, aku akan mengajaknya untuk mendampingiku ke pesta penting nanti malam” ucapku pada Riko.
Wilona adalah teman satu kampusku dulu saat mengambil S2 di Amerika. Sekarang dia menjalani karirnya di Indonesia sebagai artis papan atas yang sedang naik daun. Aku tahu dia sangat menyukaiku sejak dulu, dan dia pasti senang aku mengajaknya ke pesta. Aku akan mencoba membuka hatiku padanya, agar pikiranku normal kembali. Dia wanita yang cerdas, cantik, dan sangat seksi. Sangat sesuai dengan kriteriaku.
Benar, harus seperti ini. Mungkin dengan begini, aku menjadi lelaki yang normal kembali. Mungkin pikiranku sudah kacau dengan Angel dan gadis aneh yang tiba-tiba muncul di kekosongan hatiku yang membuatku tidak waras lagi.
“Baik Tuan” jawab Riko sambil membungkukkan badannya lalu menghilang di balik pintu.
Kini, aku duduk termenung di sofa. Pikiranku berkecamuk dan sangat gelisah. Kubuka dua kancing atas kemejaku dan melonggarkan dasiku. Aku mengusap wajahku dengan gusar. SIAL!! Umpatku.
__ADS_1