I'M Crazy About You

I'M Crazy About You
Episode 22 - Sembunyi


__ADS_3

Selang 15 menit, aku kembali dengan membawa baskom kecil yang berisi es batu yang sudah kulapiskan dengan handuk kecil yang tipis.


“Menghadap padaku” ucapku setelah duduk di sampingnya yang masih duduk di pinggir ranjang.


Setelah dia duduk menghadap padaku, aku bergeser sedikit lebih dekat dengannya. Dia menunduk sedikit untuk menatapku. Aku pun memegang pipinya sebelah agar ia tidak bergerak dan langsung mulai menekan-nekan benjolannya perlahan dengan es batu yang sudah dilapiskan handuk tipis.


Sesekali ia sedikit meringis lalu aku berhenti sejenak “Begini saja sudah sakit”


“Pelan-pelan makanya” jawabnya.


“Ini sudah pelan, tahanlah sebentar saja” sahutku sambil terus menekan benjolnya dengan tekanan yang lembut.


Setiap kali dia meringis, aku melirik padanya yang terus saja menatapku, membuatku merasa grogi sendiri dengan tatapan tajamnya “Ehem. Sudah selesai”


“Emm.. aku akan ke dapur. Kau pakailah bajumu lagi” sambungku tak ingin berlama-lama di dekat lelaki itu, karena bisa saja aku akan terkena penyakit jantung dengan cepat.


“Hm”



AUTHOR POV


Devan melangkah ke kamar mandi Widel hanya untuk mencuci muka dan menyikat giginya. “Widel, apa kau punya sikat gigi ?” teriaknya dari dalam kamar mandi.


“Yang baru ada di laci nakas Dev” jawab Widel berteriak dari dapur.


Devan melangkah ke arah nakas dan membuka lacinya. Di dalam laci, tak sengaja Ia melihat sebuah kotak kecil berhiaskan pita satin warna putih. Di bukanya kotak itu dan melihat sebuah cincin yang mengingatkannya dengan kejadian tadi malam saat Reza mengungkapkan perasaannya pada Widel di hadapan banyak orang.


“Dasar norak!” umpat Devan lalu menyimpan kotak cincin itu kembali dan melangkah ke kamar mandi.


Setelah selesai, ia ke dapur, dan memperhatikan Widel yang sedang sibuk membongkar isi kulkasnya ”Kau sedang mencari apa ?”


“Sepertinya aku kehabisan bahan, yang ada hanya mie instan, apa kau mau ?” tanyanya sambil menoleh ke arah Devan yang bersender di dinding sambil menyedekapkan tangannya.


“Aku tidak mau mie!” tegasnya.


“Yasudah kalau kau tidak mau, aku akan memasak mie untuk diriku sendiri” jawab Widel dengan santainya dan langsung mengambil mie dari dalam lemari dapurnya lalu siap untuk memasaknya.


“Mmm.. ma-masakkan juga untukku. Aku ingin mencicipi masakanmu” ucapnya terdengar kikuk.


Widel tersenyum tipis “Katanya tidak mau ?”


“Buatkan saja!” tegasnya.


“Baiklah Tuan pemarah...” ucap Widel sambil tersenyum kecut, berbicara dengan nada ejekan.


“DEVAN! Bukan Tuan pemarah!” ketus Devan.


“Iyaa... iyaa Devan..” sahut Widel sambil sibuk memasak.


Devan terus memperhatikan gerak-gerik Widel yang sibuk memasak, dan menyiapkan dua mangkuk kaca. Sudah sangat lama ia tak memerhatikan seseorang memasak untuknya selain ibunya sewaktu ia masih kecil. Namun sekarang, keluarganya berpisah-pisah karena urusan pekerjaan masing-masing.


Setelah menyajikan mie kuah di kedua mangkuk, dan memberi bumbu, Widel langsung membawa ke atas meja makan dan menyodorkannya pada Devan “Nih makanlah..”


Awalnya Devan menatap ragu pada mie yang tersaji di depannya, namun aroma mie kuah yang begitu menggiurkan membuatnya langsung mengambil garpu dan sendok lalu segera mencicipinya. Suap demi suap ia makan dengan lahap sampai habis tak bersisa.


“Enak kan Dev ?” gumam Widel tersenyum puas sambil melahap mie nya yang juga hampir tandas.


“Hm.. lumayan” jawabnya datar yang seolah menjaga imagenya.

__ADS_1


Tok tok tok


Assalamualaikum.. Widel ?


Suara yang familiar itu membuat mata Widel tiba-tiba melebar. “Febby ?”


Febby adalah sahabat Widel di kampus. Ia terkadang datang ke rumah Widel hanya untuk mengerjakan tugas, terkadang juga menginap ketika di rumahnya sedang sepi, kadang juga hanya untuk singgah saja.


“Siapa itu ?”


“Shhh... Kau sembunyilah cepat” bisik Widel langsung menarik lengan Devan yang masih terbengong-bengong melihat kelakuannya yang membingungkan itu.


Widel ?


“Ayooo... cepat!!” tegas Widel dengan suara berbisik sambil terus menarik Devan masuk ke dalam kamar.


“Kau sembunyi saja di kamar mandi” ucap Widel pelan lalu mendorong Devan ke kamar mandi dan menutup pintunya.


Kemudian ia membuka kembali “Eh.. jangan di kamar mandi. Febby sering buang air kecil disini.”


Ia kembali menarik Devan, dan melihat ke sekeliling, masih berfikir tempat mana yang bagus untuk bisa bersembunyi, sampai tatapannya berhenti melihat lemari pakaiannya yang kira-kira cukup untuk menampung badan Devan.


“Ah.. Kau sembunyi saja di dalam lemari. Ingat! Jangan keluar sebelum aku memanggilmu” kata Widel lalu mendorong kuat badan Devan, memaksanya masuk ke dalam lemari.


“Apa kau tidak bisa meringkuk sedikit ? Badanmu ini terlalu besar, tidak muat kalau kau tidak meringkuk” tanpa menunggu jawaban, Widel langsung menundukkan kepala Devan dengan paksa lalu menutup pintu lemari dengan cepat.


Widel segera berlari ke arah dapur, dan langsung menyambar dua mangkuk bekas mie tadi lalu menaruhnya di wastafel.


Setelah itu, ia langsung berlari tergesa ke arah pintu luar dan segera membukanya.


“Kenapa kau lama sekali ?” ucap Febby, dengan wajah kesalnya.


“Eh, gimana skripsimu udah sampe mana ?” tanya nya sambil berjalan masuk lalu duduk di sofa tamu.


“Masih yang seperti dulu Feb, belum nambah-nambah. Gimana setiap buka laptop bawaannya pusing.... ngomong ngomong tumben kamu kesini sepagi ini ?” jawab Widel sambil bersandar di sofa.


“Aku tadi dari pasar pagi, lewat sini makanya singgah bentar. Eh Del, aku mau ke dalam bentar ya, mau pipis” Kata Febby yang langsung melangkah tergesa-gesa ke arah kamarku.


“Oh.. I-iya” jawab Widel gugup.


“Semoga saja.. dia tidak curiga” gumam Widel dalam hati.


Widel langsung mengikutinya ke dalam kamar dan duduk di pinggir ranjangnya sambil menunggu Febby keluar dari kamar mandi.


Setelah beberapa saat, Febby keluar dan langsung duduk di samping Widel. “Widel... sebenarnya ada yang mau aku ceritain ke kamu”


“Apa Feb ? Apa kamu lagi ada masalah ?” Aku mengernyit ketika melihat ekspresi Febby yang tidak seperti biasanya.


“Boy selingkuh Del” sahut Febby dengan nada sendunya.


“Apa? Jadi kalian masih pacaran selama ini ? Aku pikir kalian sudah-” ucap Widel sedikit kaget.


Haaassyyimmm!!!


“Widel, siapa yang bersin ?” tanya Febby yang tiba-tiba mencium bau keanehan.


Matilah aku!


“Aaahh ? ku- kucing di luar Feb. Sering dia minta makan pagi-pagi gini”

__ADS_1


Febby menatap Widel curiga “kucing suara lelaki ?”. Ia lalu beranjak mendekati asal suara, semakin dekat dengan lemari pakaian Widel.


“Widel, iphone milik siapa ini ? Kamu udah ganti hp ya ? widih.. inikan iphone terbaru Del..mahal banget ini” sambung Febby ketika melihat ponsel mahal di atas nakas Widel, membuatnya semakin curiga.


“A-anu.. oh... punya teman kerja aku Feb, dia tadi malam kesini, dan meninggalkan ponselnya disini” jawab Widel gelagapan.


“Widel apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Febby dengan wajah seriusnya.


“Apaa ?” Widel seakan tak tahu harus mencari alasan apa lagi.


Haaassyyimmm!!!


Suara bersin terdengar lagi di dekat lemari pakaian Widel. Dengan cepat, Febby langsung membuka lemari itu dan Devan yang merasa sudah terancam akan ketahuan, segera ia menahan pintu itu dari dalam agar pintunya tidak bisa terbuka. Namun sia-sia saja, pertahanannya tidak memakan waktu lama, ia langsung terjatuh ke luar begitu pintu lemari itu berhasil terbuka. Devan segera berdiri dan hanya menyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Mata Febby melebar sempurna, dan mulutnya berbentuk huruf ‘O’ saking terkejutnya. Setahu Febby, Widel tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang pria. “Astagaaaa Widel ? Kamu ternyata menyembunyikan seorang pria di dalam kamarmu sendiri!”


“Bu-bukan begitu Feb.. Dia itu-” sahut Widel panik.


“Apa dia pacarmu Del ? Waahh.. parah juga seleramu yaa... tampan seksi begini. Ini mah sempurna Del...! Diam diam ternyata kamu bisa juga yaa Del.. ” ucap Febby memotong perkataan Widel sambil menatap tubuh Devan dari atas hingga ke bawah, seperti melihat sebuah maha karya yang luar biasa. Sementara Devan hanya tersenyum tipis merasa kikuk dengan situasi memalukan seperti ini.


“Bu-bukan Feb.. Dia bukan pacarku.. Dia hanyaa.... hanyaa.... temanku” Widel bingung menyebut Devan sebagai apa, karena dia tidak merasa Devan bukanlah temannya apalagi pacarnya.


“Mencurigakan sekali ? Bukan pacar tapi gebetan yaaa ?” goda Febby sambil menyipitkan matanya pada Widel.


“Bukan ih! Kenalin dia Devan, Devan kenalin ini sahabatku Febby” ucap Widel saling memperkenalkan keduanya satu sama lain.


“Hai..” sapa Febby menyunggingkan senyum manisnya sambil mengulurkan tangannya.


Devan pun membalas uluran tangan Febby “Hai.. Senang berkenalan denganmu”


“Kalau dia bukan pacarmu.. Mending dia sama aku aja Del, cocok kan?” ucap Febby masih mengagumi sosok Devan di depannya.


“Idih.. cocok sama kamu ? jauh Feb bagai langit dan bumi! Jangan ngayal!” jawab Widel lalu menjitak kepala Febby.


“Yee.. becanda Del. Oh ya jadi kamu sampe sekarang masih jomblo aja nih ?” tanya Febby masih penasaran.


“Eh..? Aku.. aku udah jadian sama Kak Reza Feb. hehe” jawab Widel dengan malu-malu.


“Kak Reza...... ? Haaa??? Kak Reza Adhitama ? Kalian benaran jadian ?” teriak Febby begitu terkejutnya saat mengingat Reza sang idola kampus di waktu itu.


“Iyaa Feb, tadi malam dia ngajakin aku ke pesta, dan tiba-tiba dia ngungkapin perasaannya sama aku. Katanya dia mau nungguin aku sampai selesai kuliah dan langsung melamarku” tutur Widel.


Febby menutup mulutnya dan matanya melebar penuh “Oh my God, ini berita besar Del.. Sumpah aku tidak menyangka yaa Kak Reza sama kamu.. memang sih dulu waktu kuliah, dia kan kayaknya suka sama kamu tuh Del, tapi kamunya aja yang kurang peka”


Telinga Devan memanas saat mendengar nama Reza yang terus di sebut-sebut apalagi menyinggung kejadian yang menjengkelkan tadi malam “Ehem.. Aku permisi pulang dulu kalau begitu.. Ada meeting penting di kantor pagi ini”


“Eh.. Devan kok buru-buru. Tinggallah sebentar lagi, aku akan buatkan kopi” ucap Febby.


Devan menatap Widel sebentar yang bahkan tidak menahannya pergi. Widel hanya diam tanpa mengucapkan apa apa “Tidak perlu. Saya sudah terlambat” jawab Devan lalu berlalu pergi dengan langkah cepat.


“Oh baiklah. Hati-hati” kata Febby sambil berjalan mengejar Devan sampai ke depan rumah.


Sementara Widel hanya menatap punggung Devan yang menghilang dari balik pintu. Dia tak tahu harus mengucapkan apa, dan harus melakukan apa. Dia merasa kikuk merasa dia bukanlah siapa-siapa bagi Devan. Ia ingin mengejar namun langkahnya terhenti. Akhirnya ia berbalik lalu duduk di samping ranjang. Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang asing di atas nakas.


Ponsel Devan ketinggalan.


Widel langsung meraih ponsel itu lalu berlari ke depan rumah mengejar Devan, namun sayang.. Devan baru saja pergi.


__ADS_1


__ADS_2