I'M Crazy About You

I'M Crazy About You
Ep 26 - Persaingan yang Tak Kasat Mata


__ADS_3

WIDEL POV


Kurasakan sinar mentari pagi nan hangat merayapi wajahku, memaksa kelopak mataku terbuka dengan perlahan. Silau cahayanya membuatku mengernyit. Pandanganku tertuju pada sekeliling ruangan yang didominasi dengan warna putih. Namun, ruangan ini begitu luas dan terlihat mewah.


Dimana aku ?


“Awww” Kepalaku terasa sakit sekali. Aku hendak menyentuh kepalaku namun sebuah selang infus di tanganku membuatku tersadar bahwa sepertinya aku berada di rumah sakit.


Kenapa aku bisa ada disini ?


Otakku terasa sakit saat mengingat apa yang terjadi padaku sebelumnya hingga aku bisa di rawat di rumah sakit seperti ini. Gambaran-gambaran ingatanku perlahan-lahan muncul di memori otakku, mengingat kejadian sebelumnya saat aku berbicara berdua dengan Wilona dan tiba-tiba saja dia melayangkan botol minumannya tepat di kepalaku. Setelah itu gelap, dan aku tak mengingat apapun lagi.


Saat aku ingin bergerak bangun, baru kusadari ternyata sejak tadi ada seorang pria yang sedang duduk tertidur di sisi ranjangku. Kukerjapkan mataku untuk menperjelas indera penglihatanku.


“Devan ?” gumamku.


Aku tersenyum, melihat wajahnya yang tertidur seperti itu. Ia masih tak berkutik.


Sepertinya dia terlalu kelelahan. Apa dia kurang tidur ?


Kupandangi wajahnya yang terbaring di sisi ranjangku. Bulu matanya sangat panjang dan terlihat lentik, rasanya ingin sekali kusentuh. Aku mencoba memanggilnya sekali lagi untuk memastikan apakah dia masih jauh dari alam sadarnya.


“Devan ?”


Tak ada respek darinya.


“Hihi” Aku terkikik, senang karena itu artinya dia tak akan sadar walau aku menyentuh wajahnya.


Kudekatkan jemariku menyentuh ujung bulu matanya yang panjang. Lalu kusapukan ujung telunjukku di sepanjang bulu matanya. Kulihat matanya tiba-tiba berkedut dan segera kutarik tanganku kembali, takut dia akan tersadar. Aku diam sejenak memerhatikannya. Saat kurasa dia sepertinya tidak menunjukkan tanda-tanda akan sadar, perlahan kuarahkan kembali jari telunjukku ke alisnya yang terukir rapih nan tebal, lalu mulai merabanya menelusuri bulu bulu alisnya yang terasa lembut.


Grep


Aku tersentak, tiba-tiba saja dia menangkap tanganku, dan kulihat ujung bibirnya yang sedikit terangkat. Matanya terbuka dan kini dia mengangkat kepalanya lalu menatapku dengan tajam seakan hendak menerkamku. Dia menyeringai, dan senyumnya itu terlihat sangat manis.


“Kau sedang menggodaku ya gadis kecil ?”


Deg deg deg


Aku gelagapan “Ti-tidak.. Tadi aku.. tadi aku... melihat nyamuk di kepalamu karena itu aku-”


Cup


Aku membeku seketika, mataku membulat, karena tiba-tiba saja dia menyerang bibirku dengan sebuah kecupan yang manis.


Anehnya, aku tidak merasa marah padanya, malah perasaan senang yang muncul di dalam hatiku saat dia tiba-tiba menciumku.


“Terimakasih sudah sadar Widel. Apa kau ingin minum ?” ucapnya dengan lembut dan aku hanya mengangguk secara refleks.

__ADS_1


Devan memberiku segelas air putih dan membantuku minum dengan sabar. Setelah aku berhenti meneguk dan menghambiskan air hampir setengahnya, dia menaruh kembali gelas itu ke atas nakas samping ranjang.


“Tunggu sebentar, aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu”


“Emm.. baiklah”


Dia mengelus rambutku dengan lembut lalu mengecup keningku sebelum melangkah keluar dari ruanganku.


Cklek


Oh astaga... ada apa dengannya? Benar-benar pria yang sulit ditebak, kemarin dia bersikap dingin dan acuh padaku, sekarang dia tiba-tiba saja memperlakukanku dengan begitu manisnya.


Huuuhh... jantung ini kenapa juga sih ? Apa kau tak bisa berdetak dengan normal saja ?


Aaaarrgghh. Jika begini terus aku akan terkena penyakit jantung.


Segera kuambil gelas yang berisi air yang sudah tinggal setengah tadi di samping ranjangku, dan langsung meneguknya sampai habis.


Kuatur napasku pelan-pelan sampai akhirnya aku merasa sedikit lebih tenang.


Tak lama kemudian, seorang dokter dan beberapa perawatnya masuk ke dalam ruanganku yang segera disusul oleh Devan di belakangnya.


Dokter itu memeriksaku tak begitu lama, hanya mengecek denyut nadiku, suhu badanku, mataku, dan menanyakan keluhanku. Setelah itu dia mengatur tempo cepat lambatnya laju tetesan botol infusku, kemudian selesai.


“Bagaimana dok ? Kapan dia bisa pulang?” tanya Devan setelah dokter tersebut tampak selesai memeriksaku.


“Kondisinya masih lemah, tapi pasien sudah baik-baik saja. Untunglah tak ada masalah serius di kepalanya, mungkin beberapa hari lagi pasien sudah bisa pulang setelah kondisinya sudah benar-benar pulih. Atur pola makan dan jaga makanannya, usahakan makanan yang berprotein dan bergizi untuk membantu mengembalikan tenaganya. Jangan lupa juga dia harus meminum obatnya secara teratur.”


Dokter itupun mengangguk dan meninggalkan kami berdua di dalam ruangan.


Devan membuka kantung kresek yang sejak tadi di pegangnya saat masuk ke ruanganku. Kantung itu ternyata berisi sebuah kotak makanan, tercium dari aromanya yang harum menggugah selera makanku yang tadi sempat menghilang akibat bau desinfektan di dalam ruangan ini.  “Kau dengar kata dokter kan ? Kau harus banyak makan”


Aku hanya memerhatikannya, dia lalu menarik kursi lebih dekat denganku dan duduk sambil membuka kotak makanan itu. “Ayo, makanlah dulu”


Dia hendak menyuapiku namun aku hanya terdiam memperhatikan sikapnya. “Tenanglah, ini enak dan pastinya bergizi, aku tadi sempat menyuruh Riko untuk membelikanmu makanan di restoran. Buka mulutmu.”


Akupun membuka mulutku dan melahap makanan yang disuapinya.


“Enak kan ?” tanyanya dengan menyunggingkan senyum manisnya membuat jantungku berdetak tak karuan. Aku hanya bisa mengangguk dan dia dengan sabarnya menyuapiku dengan perlahan.


Cklek


“Sedang apa kau disini ?” ucap seseorang yang tiba-tiba masuk mengalihkan pandangan kami berdua.


“Kak Reza ?” gumamku.


Kak Reza tersenyum dan berjalan mendekat padaku ke sisi ranjang berseberangan dengan posisi Devan. “Widel, syukurlah kau sudah sadar. Aku sangat khawatir padamu” ucap Kak Reza sembari mengusap pipiku dengan lembut.

__ADS_1


Devan terkekeh, entah apa yang dia tertawakan. Ia kembali menyendokkan makanan lagi dan menyodorkannya ke mulutku. “Widel, makanlah lagi. Ingatkan kata dokter tadi ? Harus banyak makan agar kau bertenaga”


Aku merasa suasana menjadi aneh saat Kak Reza datang menghampiriku. Kulihat ekspresi Kak Reza yang tak pernah kulihat sebelumnya, begitu dingin seakan menahan amarahnya. Dia terus menatap Devan dengan pandangan tak suka. “Sini biar aku saja yang menyuapinya. Kau pergilah! Urusanmu sudah selesai disini” ucapnya datar, namun terkesan begitu dingin. Saat tangan Kak Reza menyentuh sendok yang sedang disodorkan Devan, mereka saling bersitatap dengan pandangan tajamnya masing-masing.


Ada apa dengan mereka berdua ?


Devan menoleh padaku dan tersenyum sesaat “Baiklah Widel, karena kekasihmu akhirnya sudah ingat padamu, jadi sebaiknya aku pergi. Jangan khawatir, nanti aku akan kembali.”


“Apa maksudmu haa?” sahut Kak Reza dengan meninggikan suaranya. Namun Devan tidak menghiraukan ucapannya.


“Kak Reza!” tegurku.


“Jangan lupa, setelah makan kau harus minum obatmu. OK ?” ucap Devan lembut.


Aku membalas senyumnya dan mengangguk “Hm.. baiklah.. terimakasih Dev”


Kulihat punggung Devan yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu.


“Dev ? Terdengar akrab ya ?”. Suara bariton kak Reza mengalihkan pandanganku yang sejak tadi menatap pintu yang sudah tertutup. Kini kak Reza memandangku dengan tatapan dingin seakan marah pada sesuatu.


Aku mengerutkan kening, tak suka dengan sindirannya yang seakan sengaja ditujukan padaku “Kak Reza kenapa sih ?”


“Dan lagi, aku tak suka melihatmu memandang dan tersenyum pada lelaki lain apalagi saat di hadapanku!” ucapnya dengan penuh penekanan seperti mengeluarkan ultimatum yang tak boleh dilanggar.


Entah kenapa aku tak suka dengan sikap Kak Reza yang seperti ini. Dia seperti orang yang berbeda kali ini. Entah ada apa dengannya ?


Bukankah saat ia ketemu dengan Devan di pesta kemarin, mereka terlihat sangat akrab, kenapa sekarang begini ? Apa mereka sedang punya masalah menyangkut pekerjaan ? Baiklah, mungkin saja. Aku tak ingin terlalu mencampuri urusan mereka berdua.


“Baiklah Kak Reza, maafkan aku”


“Tidak apa-apa , ayo makanlah sedikit lagi” ucapnya sembari menyodorkan sesuap nasi di mulutku.


***


DEVAN POV


Setelah dari rumah sakit, aku kembali ke apartemenku untuk membersihkan diri. Karena lelaki sialan itu, terpaksa aku hanya bisa datang pukul 2 dini hari untuk melihat kondisi Widel.


Aku merebahkan diri di atas tempat tidurku sejenak untuk melepas penatku sebelum aku mandi dan bersiap untuk ke kantor. Semalaman aku terjaga menunggu gadis itu sadar sampai aku ketiduran entah pukul berapa. Lelah memang, tapi aku senang dia sudah sadar kembali.


Seandainya, aku menyadari perasaanku lebih awal, kau tidak akan bersama dengan lelaki itu sekarang. Tapi, tidak masalah Widel, aku hanya berharap suatu saat nanti kau hanya akan melihatku dan menyadari bahwa aku benar-benar tulus mencintaimu.


***


 


Bersambung... 

__ADS_1


 


Maaf ya baru update, kesibukan di real life ku sudah mulai berdatangan. Janjiku akan up banyak belum juga terwujudkan, tapi masih diusahakan. Terimakasih ya yang masih setia membaca :)


__ADS_2