I'M Crazy About You

I'M Crazy About You
Episode 31 - Perkara Teflon Terbakar


__ADS_3

Berdamailah dengan perasaanmu sendiri Tuan. Aku tahu itu memang tak mudah, tapi kau harus berusaha. Kau menyiksa dirimu sendiri dengan sok sok menyibukkan diri.


Bibir Devan terangkat sedikit tersenyum kecut mengingat perkataan wanita aneh itu. Tidak ada yang salah dari perkataannya. Wanita itu memang benar.


Devan terkekeh sembari beranjak dari sofa, menuju kamarnya lalu berbaring di tempat tidurnya yang bernuansa gelap. Digerakkannya lengannya menutup matanya yang telah memerah. Sebutir air mata telah jatuh mengalir membasahi pipinya yang kini tampak lebih tirus.


Berusaha memejamkan mata tidak membantunya bisa tidur sama sekali. Ia hanya menangis dalam diam. Tak tahan lagi dengan rasa sesak di dadanya, Devan bangkit mengambil sebotol bir di dalam kulkas. Kini ia telah duduk di ruang makan sambil menuang bir ke dalam gelasnya lalu meminumnya sampai habis dengan sekali teguk. Ia menuang lagi, lalu meneguk kembali. Begitu terus, entah berapa gelas yang telah ia minum, ia tak sadar sama sekali. Ia hanya berharap dengan cara itu, ia bisa menghilangkan rasa sakitnya.


***


Drrttt.... drrrtt... drrrtt.....


Drrttt.... drrrtt... drrrtt.....


Jari telunjuk Devan terangkat sedikit merespon getaran ponselnya yang terasa tepat di samping telinganya. Ia tertidur di atas meja makan dengan botol bir yang berserakan.


“Ehmm...” gumam Devan tersadar dari tidurnya. Ia meluruskan punggungnya di sandaran kursi. Matanya menyipit menyesuaikan cahaya matahari pagi yang masuk di retina matanya. Kemudian meraih ponselnya yang sudah berhenti bergetar.


2 miscall from Riko


Devan berdiri sembari memijit lehernya yang pegal. Sebelah tangannya memegang ponsel menghubungi Riko kembali sambil membuka kulkas mengambil sebotol air dingin dan menuangnya ke dalam gelas.


“Hm.. Ada apa ?”


“....”


“Baiklah, kapan kau kesini ?”


“....”


“Oke”


Setelah meminum segelas air, ia berjalan ke ruang tengah lalu merebahkan punggungnya di sandaran sofa. Badannya terasa sakit semua. Ia memijit kepalanya yang masih terasa pusing.


Devan mengembuskan nafasnya pelan. Terlintas wajah Widel di pikirannya.


“Apa kau bahagia sekarang ?” ucapnya bermonolong.


“Kuharap kau selalu bahagia”


Ia mengusap wajahnya lalu membaringkan kepalanya di atas sandaran sofa sambil memejamkan matanya sejenak.


Triing triiingg triiingg (tanda bel berbunyi)


Devan mengembuskan nafasnya lagi, baru sebentar ia memejamkan matanya, ia sudah kedatangan tamu lagi pagi-pagi begini. Dengan malasnya ia beranjak dari duduknya, berjalan untuk segera membuka pintu.


Cklek


“Astaga kau kacau sekali Tuan” Senyum Xena menghilang melihat kondisi Devan yang sangat amburadul, wajahnya

__ADS_1


yang kusut, lingkaran hitam dimatanya, rambutnya yang acak-acakan, bajunya yang kusut, dan bau alkohol yang masih tercium di badannya.


Devan hanya diam dan hendak menutup pintunya kembali yang segera di tahan oleh wanita itu.


“Eh eh... Biarkan aku masuk dulu, kumohon” dengan segera Xena memasang wajah permohonan.


Devan menghela napas, lalu membuka lebar pintu dengan pasrah. Xena tersenyum dan langsung berjalan masuk.


“ckckck” Xena berdecak melihat botol-botol bir yang berserakan di meja makan. Ia mulai memungut satu persatu botol dan sampah yang berserakan lalu membuangnya di tempat sampah dapur. Sementara Devan hanya berdiri tak jauh di belakang wanita itu, memperhatikan, menebak-nebak apa yang akan di lakukan wanita ini di rumahnya.


“Kupikir kau ini kaya raya Tuan, apa kau tidak memiliki ART ?” tanya Xena sambil menoleh sesekali pada Devan.


“Tidak”


“Hm.. tidak heran! Seorang anti sosial sepertimu” ucap Xena dengan memasang ekspresi kasihan menatap Devan lalu melanjutkan aktivitasnya di dapur membuka laci satu persatu entah apa yang dicarinya.


“Baiklah.. karena aku menyukaimu, mulai sekarang aku akan menjadi ARTmu” ucap wanita itu dengan bangganya sembari memakai celemek yang didapatnya di salah satu laci dapur.


Devan hanya terkekeh dengan omong kosong wanita itu yang terkesan lucu baginya.


Xena menoleh “Kenapa ?”


“Terimakasih atas tawaranmu itu, tapi aku tidak membutuhkan ART. Setelah kau selesai dengan aktivitasmu itu, kau boleh keluar” jawab Devan lalu berjalan meninggalkan wanita itu di dapur.


Xena hanya melirik sebal lalu melanjutkan aktivitasnya. Ia mulai menghidupkan keran air lalu mencuci piring dan gelas yang bertumpuk di wastafel.


***


Sekarang aku berada di kamar, menghadap cermin menatap diri yang tampak mengerikan. Aku tertawa miris melihat diriku yang kini telah hancur hanya karena seorang wanita. Kuusap wajahku gusar dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Kuhidupkan shower membasahi kepalaku yang terasa berat, berdiam diri beberapa saat dengan menopangkan tanganku ke dinding. Aku merasa sedikit lebih baik.


Setelah selesai mandi, aku bersiap untuk segera ke kantor. Memilih setelan formal di wardrobe, lalu mengenakannya.


Menatap diri lagi di cermin kaca yang seukuran tinggi badanku, menyisir rambut, dan memakai gel sedikit agar tampak lebih rapih.


“Well done” ucapku setelah melihat pantulan diriku yang tampak lebih baik. Kemudian mengambil ponsel dan tas


kerjaku di atas meja kerja, lalu berjalan keluar kamar.


Baru saja beberapa langkah keluar dari kamar, hidungku mencium seperti bau hangus terbakar. Dengan segera aku


berlari ke arah dapur dan benar saja!


“APA YANG KAU LAKUKAN ?” teriakku.


Kepulan asap hampir memenuhi area dapur, kulit telur, potongan wortel, kentang, dan sayur-sayuran berserakan di


meja dapur, maupun lantai. Belum lagi kulihat api yang berkobar di atas teflon.

__ADS_1


Wanita aneh itu hanya menoleh dan tersenyum kepadaku. “Ohh ini ? Aku pernah melihat koki di rumahku memasak dengan cara seperti ini, jadi aku pernah diajarkannya sekali” katanya dengan santainya sambil memegang teflon dengan api diatasnya.


“Si-siapa yang menyuruhmu memasak ?” tanyaku sudah hampir tak bisa berkata apa-apa lagi melihat kondisi dapurku yang kini memprihatinkan.


“Karena aku ingin” jawabnya dengan enteng sambil menyengir tanpa rasa bersalah sama sekali.


Ingin rasanya aku mencongkel bola matanya itu dengan dua jariku!


Aku berjalan cepat mengambil air di wastafel. Dengan segera kumatikan kompor yang sedang digunakannya lalu menyiramkan air di teflon yang terbakar itu.


“APA YANG KAU LAKUKAN ? AKU MASIH MEMASAK!” teriaknya dengan kesal.


“KENAPA KAU TERIAK ? AKU YANG HARUSNYA MARAH! KAU APAKAN DAPURKU ?” balasku dengan suara tinggi, menatapnya sambil berkacak pinggang.


Dia menatapku dengan sangat kesal lalu melirik teflon terbakar yang kini telah padam itu.


“Aku ingin membuat steak daging. Sudah hampir jadi kalau saja kau tak menyiramnya” ucapnya dengan murung.


Aku ikut melihat apa yang dilihatnya. Sepotong daging hangus yang terendam air.


“Ss..steak daging ???” tanyaku tak habis pikir, menahan tawa membandingkan steak daging di ekspektasiku dan realita yang ada.


“Kau mau pergi ?” tanyanya masih dengan ekspresi murung.


“hm, kau ? kapan kau mau pergi dari rumahku?”


“Nanti, setelah kau selesai makan” jawabnya sembari mengambil mangkuk lalu mengisinya dengan sup dari panci.


“Makan apa ? Steak daging ?” ucapku dengan tertawa kecil dan dia langsung menatapku dengan galak.


“Sup. Makanlah” jawabnya sambil menyajikannya di atas meja makan.


Aku berjalan lalu duduk di dekatnya. “Apa kau yakin ini bisa dimakan ?”


Diambilnya sendok dan langsung mencicipinya sendiri. “Bisa” ucapnya dengan polosnya.


Aku hanya tersenyum menahan tawa sejak tadi sambil menyendok sup itu dan memakannya.


Rasanya benar-benar aneh.


Aku menoleh padanya yang menatapku dengan penasaran.


“Bagaimana ?”


“Enak” jawabku dan akhirnya dia tersenyum.


Bersambung...


 

__ADS_1


*****


Setelah berbulan-bulan lamanya, sempat ingin hiatus, tapi ada rasa ingin menyelesaikan cerita ini. Baru bisa melanjutkannya sekarang. Maaf ya semuanya...


__ADS_2