I'M Crazy About You

I'M Crazy About You
Episode 42 - Gara-gara Kopi dan Cincin


__ADS_3

Teman-teman kerja Widel menjadi sangat penasaran, kenapa Widel lama sekali di ruangan CEO ? Apa dia belum sadar juga ? Apa Widel sakit parah hingga tak kunjung sadar ? Apa mungkin sebenarnya Widel sudah sadar ? Tapi kenapa belum keluar juga dari tadi ?


“Eh-eh, tuh Widel sudah keluar” ucap Adel pada Rina dan Melda, melihat dari kejauhan.


Tampak Widel yang berjalan keluar dari ruangan CEO. Adel, Rina dan Melda pun langsung menghampiri Widel, menghentikannya berjalan.


“Widel, kamu kenapa ? baik-baik saja kah ?” Tanya Melda.


“Kamu kenapa bisa pingsan Widel ?” Tanya Adel.


“Widel.. Kamu ada hubungan apa sama CEO baru yang tampan itu ?” Tanya Rina yang seketika membuat Widel, Adel, dan Melda pun langsung menoleh padanya. Kenapa pertanyaan Rina seperti itu ?, pikir Adel dan Melda. Sementara Widel berpikir, apakah Rina curiga ?


“Jangan sembarang bicara Rina. Itu tidak mungkin. Ada-ada saja kamu Rin” jawab Widel untuk menghilangkan kecurigaan Rina.


“Iya Rin, kamu ini kalau bicara tidak dipikir dulu” kata Melda menambahkan, dan Adel hanya mengangguk-mengangguk.


Widel pun lanjut berjalan menuju ke mini bar yang ada di restoran untuk membuat kopi. Adel, Melda, dan Rina tentu saja terus membuntuti Widel di belakang seperti ekor yang menempel pada bokong Widel. Mereka bertiga terus saja menyerangnya dengan berbagai macam pertanyaan. Sudah seperti paparazi saja.


“Kamu bikin kopi Widel ? Wah Wah” ucap Rina.


“... Kamu kan tidak menyukai kopi. Kamu membuatnya untuk Tuan Devan ya ?” lanjut Rina yang semakin yakin antara hubungan keduanya, pasti ada sesuatu.


“Iya Widel, benar kata Rina. Kamu buat kopi itu untuk Tuan Devan ya ?” Tanya Melda ulang.


“Iya” jawab Widel datar.


“Wah, sekarang bahkan kamu sudah membuatkan kopi untuk CEO baru itu. Tumben Del, itukan bukan pekerjaan kamu buat-buat kopi begitu” ucap Rina lagi.


“Kalian tidak ada kerjaan lain ya. Sana pergi kerja. Urus pelanggan, daripada sibuk tanya aku terus” ucap Widel yang sudah merasa telinganya panas, diajukan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan dirinya terus menerus.


“Jawab dulu Widel, baru kami pergi. Kamu ada sesuatu kan sama bos baru itu ? Bagaimana kalian bisa mengenal sebelumnya” Tanya Rina tak henti-hentinya, membuat Widel geram dan ingin cepat-cepat pergi dari mereka semua.


“Rina.. Aku hanya seorang kurir biasa, dan Tuan Devan adalah bos besar. Menurutmu, apa mungkin kami saling mengenal ?” Ucap Widel dengan sabarnya.


“Hmm.. Iya juga sih” gumam Rina. “Tapi ?”


“Jangan berpikir yang tidak-tidak. Apa aneh seorang bos minta dibuatkan kopi sama karyawannya ? Tidak kan ?” seru Widel yang terpaksa berbohong sedikit. Bukan Devan yang memintanya membuatkan kopi, tapi ia sendiri yang menawarkan.


“Iya Rin, kamu itu terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak.” Ucap Melda membenarkan, dan Adel ikut membenarkan perkataan Melda.

__ADS_1


“Yasudah. Kalian kembalilah. Aku akan mengantarkan kopi ini untuk Tuan Devan.” Ucap Widel dan berlalu pergi, kembali ke ruangan CEO.


Tok Tok Tok


“Masuk” ucap Devan dari dalam ruangan. Widel pun masuk membawa nampan dengan segelas kopi.


“Ini kopinya Tuan” Widel menaruh segelas kopi di atas meja depan sofa tempat Devan masih duduk menyandarkan dirinya.


“Hmm” gumamnya sambil menatap layar ipad yang dipegangnya. “Terimakasih” sambungnya lalu menatap wajah Widel dengan tersenyum. Devan berdiri, diam agak lama menghadap Widel. Ia menatapnya lamat-lamat.


“K-ke-kenapa Tuan ?” Tanya Widel yang mati gaya ditatap seperti itu. Namun Devan tak menjawabnya, ia langsung memeluk gadis itu dengan erat-erat, melepaskan semua kerinduan di dalam hatinya.


“Ehm, Tu-tuan ?” tegur Widel sambil sedikit mendorong dada Devan.


“Sebentar saja. Biarkan aku tetap seperti ini.” Ucap Devan mengeratkan pelukannya. “Aku merindukanmu. Sangat.” Katanya lagi yang membuat jantung Widel berdetak tak karuan. Ia menelan salivanya, takut jika lelaki yang menempelkan badan pada dirinya itu bisa merasakan detakan itu. Ia hanya mengucap dalam hati, berdoa untuk menenangkan jantungnya. Widel sendiri sebenarnya bingung, kenapa laki-laki seperti Devan yang berada sangat jauh dari jangkauannya, bisa seperti ini padanya. Padahal jika dipikir, ia hanyalah gadis biasa, tak cantik dan seksi bak seorang model. Ia terlalu biasa untuk seorang lelaki seperti Devano Lewis.


Agak lama lelaki itu memeluknya, seperti orang yang lama tak berjumpa selama bertahun-tahun. Widel membiarkannya sebentar saja sesuai perkataan Devan. Namun, akhirnya Widel berdehem karena sepertinya sudah lumayan lama. “Apa kau juga merindukanku ?” Tanya Devan yang belum juga melepaskan pelukannya.


Widel diam tak menjawabnya sebab ia tak bisa mengeluarkan kata-kata itu di depan Devan.


“Jawab iya maka aku akan melepaskan pelukanku”


Devan tak melepaskan pelukannya. “Iya apa ?”


“A-aku merindukanmu.” Jawab Widel terpaksa namun sebenarnya itu adalah kejujuran dari hatinya.


Devan tersenyum lalu melepaskan pelukannya. Ia duduk kembali dan mencicipi kopi buatan Widel. Widel tak berpindah dari posisinya berdiri, ia mengawasi Devan dengan wajah penasaran, menunggu komentar dari Devan tentang kopi buatannya. Wajahnya mulai melega ketika melihat senyum yang terulas di bibir Devan. Pria itu menengadahkan kepalanya menatap Widel.


“Kopimu manis.... Sangking manisnya aku seperti akan mati, karena sepertinya tidak lama lagi aku akan terkena diabetes jika lama-lama minum kopi darimu” ucapnya sambil tersenyum.


Raut wajah Widel pun pelan-pelan berubah. Ia berpikir, senyum yang ia lihat barusan adalah tanda Devan menyukai kopi buatannya. Namun ternyata justru sebaliknya.


“Ehm.. A-aku akan membuatkannya lagi dengan minim gula”


Devan malah tertawa melihat wajah Widel. “Tidak perlu. Aku hanya mengerjaimu. Aku bercanda.” Ucapnya di sela sela tawanya.


Widel mengerutkan keningnya. “Ma-maksudnya ?”


Devan beranjak dari duduknya dan mencondongkan kepalanya pada gadis yang terlihat kebingungan itu. “Kopimu enak. Aku suka.” Ucapnya sambil mencubit hidung Widel dengan gemas. Seketika pipi Widel memerah. Ia menggigit bibirnya, menahan senyum.

__ADS_1


Devan pun duduk kembali, dan menyuruh gadis itu untuk ikut duduk bersamanya. Ia menyeruput kopi buatan Widel sedikit demi sedikit sambil melirik gadis yang duduk di sofa sebelahnya itu. Gadis itu hanya menunduk sambil memainkan kuku-kuku jemarinya.


“Mana cincin itu ?” benak Devan ketika memperhatikan ada yang kosong di jari Widel.


“Sebelumnya gadis itu selalu memakai cincin pemberian Reza. Namun, sekarang kenapa ia tidak memakainya ? Apa mereka sudah putus ? Atau mungkin hanya lupa ?” Kepala Devan terisi penuh dengan banyak pertanyaan.


Devan berdehem sebelum memulai pertanyaannya. “Widel, ke-kenapa kau tidak memakai cincin ?” Tanyanya dengan ragu-ragu.


“Cincin ?” Widel mengerutkan keningnya. Devan mengangguk.


“Cincin itu.. Yang pernah diberikan Reza untukmu” ucap Devan, sebenarnya malas sekali menyebut nama pria itu.


Widel mengerutkan keningnya. “Emm.. Tuan, sebaiknya kita tidak membicarakan masalah pribadi di sini” Kata Widel yang merasa tidak pantas saja berbicara perihal masalah pribadi jika berada di tempat kerja. Apalagi membicarakannya dengan atasannya sendiri. Sungguh bukanlah hal yang pantas.


“Karena kita berada di tempat kerja ?” Tanya Devan lalu berdiri dan berjalan mendekati Widel. Gadis itu mengangguk sambil bergeser duduk lebih jauh dari jangkauan Devan. Namun lelaki itu tetap mendekatinya sampai gadis itu sudah duduk di pojokan sofa. Kini Devan berdiri tepat di hadapannya, membungkukkan bahunya sedikit dan mendekatkan kepalanya di wajah Widel. Dengan cepat Widel memundurkan kepalanya ke belakang hingga badannya menyender pada sandaran sofa.


Tangan Devan menjangkau sandaran sofa dimana punggung Widel bersandar. Ia menahan Widel dengan kedua tangan yang berpangku pada sandaran sofa.


“Tu-tuan mau apa ?” ucap Widel gelagapan.


“Mau apa ?” Tanya Devan ulang dengan senyum devilnya.


“Tu-tuan, ki-kita di tempat kerja” ucap Widel yang tak bisa berkutik.


“Memangnya kenapa ? Aku hanya mau melakukan ini” Devan semakin mendekatkan wajahnya hingga hidungnya menyentuh hidung Widel. Gadis itu memejamkan matanya dengan keras sambil menahan napasnya kuat-kuat dengan bibir yang tertutup rapat. Devan tersenyum, menatap ekspresi Widel yang seperti itu. Ia tahu wanita itu sedang menahan napasnya. Devan hanya diam sejenak,  kemudian bangkit dan duduk di tempatnya semula.


Widel membuka matanya perlahan-lahan, dan akhirnya bernapas lega ketika Devan ternyata tak melakukan apapun padanya. Lelaki itu kini tampak memandangi layar ipadnya lagi.


“Em.. Tu-tuan. Jika tak ada yang perlu kulakukan lagi, aku akan keluar” ucap Widel dengan hati-hati.


“Tetap di sini” jawab Devan datar. Ia pun berdiri dan berjalan mengambil jasnya yang digantung di tiang gantungan baju yang di sediakan di sudut ruangan dekat dengan meja kerja. “Aku ada urusan sebentar. Jangan kemana-mana. Jangan mengantar pesanan. Kau mengerti ?” ucapnya sambil mengenakan jasnya.


“Baik Tuan” Widel menggangguk. Devan pun berjalan dan berhenti tepat ketika ia akan membuka pintu. Pria itu menoleh, “Siang nanti, jangan lupa makan” ucapnya dan berlalu pergi.


Bersambung...


Sorry lama update, authornya lagi buntu. Hehehe...


Beri semangat dong :)

__ADS_1


__ADS_2