
Orang selalu bilang,
hati mengalahkan pikiran.
Tapi ketika patah hati,
Bukankah kau mengikuti pikiranmu ?
-----
DEVAN POV
Kurasa percuma saja mendekati seseorang yang sudah jelas tak menyukaiku. Untuk apa juga aku bersusah payah mengejar hal yang sangat melelahkan ? Hanya hatiku saja yang akan tersakiti nantinya. Begitu banyak perempuan di dunia ini yang memuja diriku, bahkan rela menyerahkan tubuhnya padaku. Kenapa aku harus masuk di antara dua manusia yang saling mencintai ? Bukankah aku hanya akan menjadi seekor lalat menjijikan bagi mereka ? Betapa tak pantasnya diriku yang menyandang sebutan ‘lelaki idaman’ bagi banyak wanita ini hanya menjadi seekor lalat yang menjijikan itu. Tak akan kubiarkan itu terjadi pada diriku!
Aku pikir.. sudah saatnya aku berhenti mengganggumu lagi Widel...
Terimakasih karena sudah membiarkanku setidaknya merasakan kepedulianmu saat kau merawat luka luarku... dan biarkan aku saja yang akan merawat luka yang tak terlihat di dalam hatiku sendiri.
09.00
Aku sedang duduk memimpin di ruang meeting mendiskusikan tentang masalah kerjasama proyek dengan perwakilan dari perusahaan besar di Jepang.
Tiga jam lamanya sampai akhirnya selesai, dan akupun kembali ke ruanganku.
Huft
Kuhembuskan nafasku berat ketika membanting diri ke sofa, menyandarkan diri dan melonggarkan dasi sambil memijit keningku yang terasa pening sejak tadi.
Tok tok tok
“Masuk!” tegasku.
“Maaf Tuan, nona Widel ingin bertemu dengan Anda. Dia sudah menunggu di lobby sejak jam 10 tadi. Saya sudah mengatakan padanya bahwa Anda sedang ada meeting penting, tapi katanya dia akan tetap menunggu Anda” tutur sekretarisku menginformasikan dengan sedikit membungkuk.
Untuk apa lagi dia ke sini ?
“Suruh masuk” jawabku datar yang langsung dipatuhinya.
***
__ADS_1
WIDEL POV
Mataku langsung menangkap sosok pria yang kucari sedang duduk bersandar santai di sofanya.
“Ada apa ?” tanyanya datar yang tanpa menyuruhku duduk dulu.
“Ponsel Anda tertinggal di rumah saya Tuan, jadi saya kesini untuk mengembalikannya langsung pada Anda” jawabku sambil menunjukkan ponselnya di tanganku.
Devan melirik meja pendek di depannya “Taruh saja di situ” ucapnya datar namun terselip nada yang begitu dingin.
“Baik Tuan” sahutku dan langsung meletakkan ponselnya sesuai dengan yang diperintahkannya.
Ada apa dengannya ? Kenapa dia begitu dingin seperti ini ?
Setelah itu, aku terdiam beberapa saat memperhatikannya yang bahkan tidak menatapku. Ia hanya sibuk menatap layar i-pad nya.
“Kau sudah boleh pergi!” katanya lagi yang seakan mengusirku agar segera pergi dari ruangannya, membuatku tertegun dengan kata-katanya yang tajam dan sikapnya yang mengasingkanku.
Rasanya seperti tersetrum listrik dengan tegangan yang kuat. Sakit dan mengangetkan! Ada rasa nyeri yang menggerayangi hatiku.
“Ba-baik Tuan” suaraku terdengar sedikit bergetar dan terbata, lalu kulangkahkan kakiku perlahan ke arah pintu. Aku berbalik padanya sekali lagi sebelum benar-benar melangkah keluar dari pintu, berharap ia akan melihatku walau hanya sesaat. Namun harapanku musnah, perih yang kurasakan ketika yang kulihat ternyata masih diam di tempat, benar-benar mengacuhkan diriku.
Devan yang berbeda, membuat perasaanku menjadi tak karuan. Aku sebenarnya kenapa? Ia memang seharusnya seperti itu. Dingin dan sombong, itulah dirinya yang sebenarnya. Tapi kenapa hati ini merasa sakit dan tak terima ketika diriku diperlakukan seperti itu kembali saat ia pertama kali melihatku ?
Ada apa dengan perasaanku yang terasa sakit seperti ini ? Apa aku telah merasa kehilangan dengan sosoknya yang selama ini menggangguku ? Bukankah sudah keinginanku sendiri agar ia tak lagi mengganggu hidupku ? Kenapa dengan dirimu Widel ? Apa kau terbuai dengan dirinya yang tampan, muncul berkali-kali dalam hidupmu seolah ia tertarik dengan dirimu ?
Kurasa sudah seharusnya kau sadar diri Widel ! Ia tak mungkin tertarik, apalagi sampai mencintaimu, itu sungguh mustahil! Ia hanya mengganggumu kemarin-kemarin karena ia hanya senang seperti itu. Sama halnya ia senang mempermainkan mainannya yang baru, dan setelah bosan ia akan mengacuhkannya sama halnya seperti yang terjadi saat ini. Itu buktinya! Sungguh tidak ada yang namanya cinta di dunia ini Widel.... Kembalilah ke dunia nyata.. Jangan terkena sihir cinta yang membuat akal sehatmu menjadi tumpul. Bangunlah Widel ! Apa kau lupa dengan prinsipmu ?
Aku berjalan lambat menyusuri koridor dengan wajah sendu sambil menundukkan kepala yang penuh dengan pikiran-pikiran yang terus menghujam otakku.
Brakk
“APA KAU BUTA ?” suara bentakan seorang wanita membuatku tersadar jika aku sudah menabraknya saat sedang berjalan tadi.
Aku mengangkat kepalaku “Ah.. ma-” ucapku terhenti saat melihat Wilona yang ternyata berdiri di depanku saat ini.
Ekspresi Wilona semakin murka ketika melihat wajahku “Kau ? Kau sedang apa disini ? Apa kau sudah menggoda pacarku lagi haa? Dasar tidak tahu diri!”
Telingaku sudah panas mendengar ocahannya yang terus saja menghinaku dan menuduhku yang tidak-tidak “Bukan urusanmu!” ketusku tak ingin terlalu menanggapi ucapannya.
“A-apa ? Dasar perempuan rendahan! Pelacur!!” umpatnya lalu tangannya dengan cepat menamparku tanpa bisa kuhindari.
__ADS_1
PLAKK!!
Aku terhuyung sembari memegang pipiku yang memanas akibat tamparan kerasnya. Sungguh... kesabaranku sudah berada diambang batas saat ini.
Aku hanya terkekeh dengan nada sinis lalu menengadah menatap seorang wanita cantik berpostur tinggi di depanku ini dengan tatapan tajam yang tak kalah menusuk “Kurasa... kau perlu berkaca diri Wilona... apa kacamu di rumah sudah retak hingga tak berbentuk sampai kau tak bisa berkaca ? sehingga kau tak mampu membedakan.. mana perempuan rendahan dan mana yang tidak! Bahkan kau tidak sadar, bahwa dirimulah yang sudah menunjukkan ciri perempuan rendahan yang sebenarnya!”
Wilona melotot dengan mengetatkan gerahamnya “A-apa katamu ? Beraninya kau!” tangannya sekali lagi melayang di udara.
PLAKK!!
Aku menamparnya balik dan mencekal tangannya sebelum berhasil melayangkan tamparan keduanya kepadaku.
“De- Devan ?” gumam Wilona sambil menangis memegangi pipinya dan berlari melewatiku dari samping. Aku memutar tubuhku dan mendapati Devan yang entah kapan sudah berdiri tak jauh dari tempatku berpijak.
Wilona memeluk Devan sambil berkata dengan nada manjanya dan menunjuk padaku “Sayang.. lihatlah wanita murahan ini yang sudah menamparku!”
“Apa kau tidak apa-apa... ” tanya Devan menatap lurus padaku, dan aku hanya mengangguk dengan ragu sebagai jawaban atas pertanyaannya yang menggantung.
“.... Wilona ?” sambungnya dengan nada pertanyaan lalu menunduk menatap Wilona yang memeluknya dengan erat. Seketika itu juga, aku merasa seperti tersambar petir, begitu terkejut kaku, dengan mata yang sudah memanas. Setitik air mataku yang susah payah kutahan sejak tadi, telah lepas begitu saja dari sudut mataku, menggambarkan perasaanku saat ini. Aku berbalik dan berjalan semakin cepat hingga berlari ke arah lift.
Dia menanyakan keadaan Wilona... bukan diriku!
Hah! Kenapa dada ini terasa begitu sesak ?
Aku mencengkram dan terus memukul dadaku berusaha menahan rasa sesak dan gemuruh amarah yang terasa begitu sakit hingga terasa begitu menyesakkan dadaku. Begitu pintu lift terbuka, sampai pada lantai dasar lobby, kulangkahkan kakiku dengan cepat hingga berhenti di parkiran motor.
Aku menyeka air mata di pelupuk mataku lalu kukibas-kibaskan tanganku berusaha mengeringkan mataku yang basah “Hah! Cuaca hari ini begitu panas.. hahah..” ucapku dengan nada sumbang sambil tersenyum getir pada seseorang yang kebetulan berjalan melewatiku dan menatapku dengan tatapan bingung.
“Huh!” Kumantapkan diriku sebelum akhirnya melaju dengan motor maticku.
***
Bersambung...
*Dear pembaca yang mungkin tak sengaja mampir membaca storyku, ataupun pembaca-pembaca setiaku. Terimakasih banyak sudah membaca karya anak yang masih pemula ini...
Jujur, akhir-akhir ini... mood ku sedang naik turun untuk menulis.
Alangkah senangnya jika teman-teman memberi like dan komentar, membuatku berpikir ‘alhamdulillah.. ceritaku ternyata memang benar-benar dibaca’.
Karena itu, teman-teman readersku tersayang, tinggalkanlah jejak kalian selalu seperti like dan komen. Memang sepele sih keliatannya.. tapi sungguh, itu benar-benar obat mujarap bagai mood booster bagiku, membuatku tiba-tiba senang sampai mau lompat rasanya.
__ADS_1
Komentar kalian semuanya aku baca kok. Suwer! Walaupun tidak semua sempat aku balas, maaf. Tapi sungguh, aku like semua komentar kalian kok tanpa terkecuali. Bahagia sekali rasanya kemarin ternyata ada yang kangen up story ku. Sungguh rasanya aku mau teriak. Sebahagia itu rasanya loh. Terimakasih yaaa....