I'M Crazy About You

I'M Crazy About You
Episode 65 - Tidur di Hotel


__ADS_3

“Haaahh?? Serius Rin ?” Febby terkejut atas penjelasan Rina padanya. Ia juga tadinya agak bingung akan kedatangan Reza ke rumahnya tadi siang, hanya untuk mengantar tas Widel yang ketinggalan. Sekarang ia menjadi tahu apa yang sebenarnya terjadi siang tadi berkat penjelasan Rina dan Melda yang juga ikut menceritakan. Pantas saja Rina dan Melda datang ke rumahnya malam-malam begini demi bertemu Widel namun sayang, orang yang dicari-cari belum juga menampakkan batang hidungnya dan akhirnya mereka terpaksa menunggu.


Rina mengangguk. “Iya Feb. Itulah kenapa kami datang ke sini”


“Feb, kalau tidak salah kan kamu pernah bilang Tuan Devan minta nomor kamu waktu di restoran mall kapan hari waktu itu. Kamu ada simpan nomor Tuan Devan tidak ?” Tanya Melda.


“Oh, iya Mel, aku simpan” sahut Febby yang tiba-tiba teringat dan segera mencari kontak Devan di ponselnya. Tanpa babibu Febby langsung menghubungi nomor itu.


Rina dan Melda menunggu dengan penasaran. “Gimana Feb ? Tersambung kah ?” Tanya Rina.


Febby menggangguk. Ia terus menunggu sampai akhirnya suara operator yang menjawab bahwa ‘nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan anda’.


“Tidak diangkat Rin” Febby menggeleng.


“Coba telepon sekali lagi” kata Melda.


Febby pun akhirnya mencoba menelpon sekali lagi, namun tetap tak juga diangkat. Dari raut wajah Febby yang murung, Rina dan Melda menjadi tambah khawatir. Sudah sejam lamanya mereka menunggu, namun Widel belum juga pulang.


“Kenapa Widel belum juga pulang ya Rin ? Mel ? Aku khawatir kalau begini. Ini sudah hampir jam setengah sepuluh malam loh” ucap Febby.


“Iya Feb, kami juga khawatir. Tapi kita berpikir positif saja. Aku yakin Widel saat ini bersama Tuan Devan, dan Tuan Devan juga tidak mungkin berbuat buruk pada Widel” jawab Rina.


*****


WIDEL POV


Mataku terbuka, keningku langsung mengkerut melihat isi ruangan kamar yang terasa sangat asing di mataku. Pikiranku bertanya-tanya tentang dimana aku ini sebenarnya.


Baru saja aku membalikkan tubuh menghadap ke sebelah kanan, mataku terbelalak melihat wajah Devan yang kulihat sedang tidur tepat di sebelahku. Pandanganku turun ke dadanya yang tidak tertutup baju. Aku jadi berpikir yang tidak-tidak. Hari ini baru saja kami berpacaran, apakah tanpa kusadari, kami sudah melakukan ‘itu’ ?


Seketika aku langsung mengintip badanku di bawah selimut. Aku mengembuskan napas lega.


Huuh! Untunglah pakaianku masih lengkap, berarti kami tidak melakukan hal ‘itu’.


“Devan” Panggilku sambil menggoyangkan lengannya.


“Dev ?”

__ADS_1


“mmm ??” Devan hanya menggumam tanpa membuka matanya.


“Devan, bangun!”


“Hmm.. kenapa ?” Tanyanya dengan suara serak. Matanya sedikit terbuka.


“Dev, kau bilang mau mengantarku pulang. Tapi kenapa aku malah tidur di sini ? Dimana ini ?”


“Hotel” jawabnya.


“Ho-hotel ?” ulangku.


“APAA?? HOTEL ??” pekikku tiba-tiba.


Devan menutup telinganya dan langsung berbalik membelakangiku, tak ingin tidurnya terganggu olehku.


“BERANINYA KAU MEMBAWAKU KE HOTEL DEV!!!” teriakku, dan tanpa ampun kupukuli lengan, bahu, dan punggungnya. Gimana tidak kesal coba ? Kalau mamaku tahu, apa yang akan ia pikirkan tentangku ? Orang lain pun pasti akan langsung berpikir yang tidak-tidak padaku, dan mungkin akan mencap diriku sebagai perempuan ******. Siapa yang tidak akan berpikir seperti itu ? Aku ke hotel dibawa oleh seorang pria dan tidur dalam satu kamar. Walaupun sebenarnya aku tidak melakukan apa-apa, tapi orang lain pasti akan tetap berpikir yang tidak-tidak.


“Aww. Aw aw. Sakit Widel!!” ringis Devan sambil memegang bagian tubuhnya yang telah aku pukuli. Mau tidak mau ia langsung terbangun dan bangkit dari ranjang.


“Apa kau gila ?? Lihat jam berapa sekarang ?”


Sontak aku langsung melihat jam di pergelangan tanganku.


Pukul 02.25


Aku menatap Devan. Ia tahu apa arti dari tatapanku yang seperti orang sekarat.


“Sudah, sekarang lebih baik kau lanjut tidur, besok pagi aku akan mengantarmu pulang”


Devan kembali duduk di tepi ranjang di sebelahku. Alisku mengkerut melihatnya. “Kau mau tidur dimana ?” Tanyaku tepat ketika ia hendak berbaring di sampingku.


Devan menoleh. “Hmm.. oke.. oke.. baiklah. Aku akan tidur di sofa, dan kau tidurlah di sini” ucapnya lalu mengambil bantal dan membawanya ke sofa, kemudian berbaring dan mencari posisi nyamannya untuk tidur.


“Dev ?” panggilku lagi.


Devan membuka matanya lagi, padahal baru saja ingin memejamkan matanya. “Apa lagi sih sayang ?”

__ADS_1


“A-aku lapar” ucapku pelan sambil menundukkan kepalaku.


Devan pun bangun, dan melangkah ke arahku. Aku pikir, Devan akan mengeluh atau marah-marah karena aku terus mengganggu tidurnya. Nyatanya aku salah.  Ternyata ia mengambil kotak makanan KFC dari atas meja, kemudian duduk di tepi ranjang sampingku. “Aku membelinya jam sepuluh tadi, takut kau akan bangun kelaparan seperti ini. Ternyata aku benar kan ? kau memang bangun kelaparan. Ini, makanlah. Cuci tangan dulu sana”


“Kenapa tadi tidak membangunkanku ?”


Devan terkekeh. “Kau tidur seperti orang mati, mana tega aku membangunkanmu. Sudah, sana, cuci tangan.”


“Hm.. Baiklah” Aku berjalan, pergi untuk mencuci tangan namun kakiku terhenti tepat sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Aku lalu berbalik melihat Devan. “Dev ?” panggilku lagi. Devan masih duduk di tepi ranjang sambil memegang kotak nasi.


“Hmm.. kenapa ?” sahutnya sambil mengangkat alisnya.


“Terimakasih” ucapku sambil tersenyum kikuk lalu berbalik cepat dan masuk ke dalam kamar mandi.


Devan sempat-sempatnya memikirkan aku yang akan bangun kelaparan. Mungkin dia juga tidak ada pilihan lain selain membawaku ke sini karena ia juga tak tahu alamatku yang baru. Ia juga tak tega membangunkanku. Tapi aku malah meneriakinya tadi.


Setelah mencuci tangan, aku kembali duduk di samping Devan seraya mengambil kotak nasi itu dan langsung memakannya. Walaupun makanannya sudah dingin, tapi entah kenapa terasa lezat sekali. Entah karena pengaruh lapar, entah memang makanannya yang enak. Aku tak tahu lah, yang jelas aku makan dengan lahap, seolah tak makan berhari-hari.


“Pelan-pelan makannya, ayamnya tidak akan lari” ucap Devan sambil terkekeh.


Aku mengangguk-nganggukkan kepala, sambil menyobek daging ayam kentucky itu dengan gigiku. “Oh ya, apa kau sudah makan Dev ?” ucapku sembari mengunyah.


“Belum”


Seketika aku langsung berhenti mengunyah dan diam menatapnya.


“Hahahaha... Kau berharap aku bilang begitu kan ?”


Sialan!!


“Aku tidak sebodoh itu lah. Mana mungkin aku tahan lapar demi tunggu kamu bangun. Bagaimana kalau kamu malah bangunnya pagi ? Yang ada aku malah tidak bisa tidur karena kelaparan Widelku sayang” lanjutnya masih sambil terkekeh.


“Baguslah, kalau kamu sudah makan. Aku hanya tidak mau berbagi makanan” ucapku kesal dan melanjutkan makanku.


“Iyaa deh.. iyaa.. Kalau begitu, makannya dihabiskan. Aku mau lanjut tidur” sahutnya lalu berdiri dan kembali tidur di sofa.


Bersambung..~~~~

__ADS_1


__ADS_2