I'M Crazy About You

I'M Crazy About You
Episode 40 - Bertemu


__ADS_3

Rembulan dan mentari, semuanya ada di sini


Aku sedang menunggumu sejak berabad lamanya


Sejak lama kisah kita yang belum tuntas terduduk di sini menahan dahaga


Kisah kita yang belum tuntas...


Perjalanan untuk memadamkan dahaga ini akan segera berakhir


Sesuatu yang dulu belum tuntas akan segera tuntas


Langit telah bersimpuh, dua dunia telah bertemu


Di segala penjuru terasa suasana pertemuan


Kisah kita belum tuntas...


[sebuah penggalan lirik lagu yang sudah diterjemahkan dari film bollywood – Hamari Adhuri Kahani]


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di sebuah cafe, terlihat dua orang manusia yang sedang duduk sambil mengobrol dengan serius. Dua manusia itu adalah Devan dan Ervin yang sedang berjabat tangan di atas sebuah dokumen-dokumen di atas meja yang memisahkan mereka berdua.


“Terimakasih Tuan Devan” ucap Ervin menyalami tangan Devan.


“Sama-sama Tuan Ervin, terimakasih telah memilih saya sebagai pembeli restoran anda” jawab Devan sambil tersenyum.


“Saya percayakan Luxury Food pada anda Tuan Devan. Kuharap anda bisa menjaganya dengan baik.” senyum Ervin.


“Tentu saja. Baiklah kalau begitu saya permisi” Devan pamit pergi, ia langsung menuju restoran Luxury Food, bersama asisten pribadinya yang menunggu di mobil.

__ADS_1


Pagi ini, langit terlihat cerah. Devan tersenyum, sebab ia tak sabar akan segera bertemu dengan seseorang yang sangat dirindukannya. Betapa bodohnya dirinya waktu itu, yang dengan cepat melepaskan Widel, padahal dengan sangat jelas ia tahu bahwa wanita itu berbohong, terlihat jelas dimatanya waktu itu. Sekarang ia akan memperjuangkannya sekuat tenaga, sampai wanita itu pun menjadi pasrah tak bisa menolak lagi.


Sudah cukup penderitaannya selama ini. Rasa kesendirian yang terus membakarnya, ia sudah tak sanggup lagi. Bagaimana dan apapun caranya, Devan akan mendapatkan gadis itu. Gadis yang membuatnya sudah gila. Gila karena cinta yang tidak masuk akal, hati yang tidak bisa dikendalikan, cinta yang tidak bisa dipilihnya. Dan mungkin itu lah takdir sesungguhnya.


“Tuan Devan, bagaimana dengan wanita yang bernama Xena itu ? Kapan anda akan mengurusnya ?” Tanya Riko yang sambil menyetir mobil.


“Setelah ini” jawab Devan dengan datar.


****


“Eh-eh... katanya CEO baru akan datang hari ini” kata Rina sambil berbisik-bisik pada Widel.


“Oh yaa ? Secepat itu ?” sahut Widel.


Rina mengangguk. “Iya, aku mendengarnya dari Bu Mega yang berbicara dengan Pak Ervin”


Widel menggelengkan kepalanya sambil terkekeh. Merasa lucu dengan Rina yang kepo tentang apa saja. Sepertinya ia sangat cocok menjadi mata-mata. Ia selalu mendapatkan informasi tanpa ada siapapun yang menyadarinya. Nyaris tak pernah ketahuan.


Widel menggeleng “Tidak apa-apa. Aku hanya merasa senang saja mempunyai teman seperti dirimu” puji Widel membuat Rina tersenyum malu-malu, merasa besar kepala.


“Apaa ? CEO baru sudah datang ?” ucap seseorang yang berjalan cepat melewati Widel dan Rina. Mereka berdua menoleh ke para staf dan karyawan yang ternyata sudah heboh berlari menuju pintu, ingin melihat CEO baru itu.


Widel dan Rina pun mengikuti ke arah orang-orang yang berkumpul di depan pintu, menyambut CEO baru yang disebut-sebut itu.


Sesampainya di depan pintu, Widel hanya berdiri kaku, otaknya seakan berhenti bekerja. Ia mengucek-ngucek matanya berkali-kali, ingin memastikan penglihatannya.


“Bbb-bb-bbenarkah y-yang kulihat ini ?” Ia bahkan tak sanggup bicara. Seakan menjadi bodoh seketika.


Widel membulatkan matanya. “Tu-tu-tut-tunggu, dia melihat ke arahku ?” ucapnya gugu sambil menunjuk dirinya sendiri.


Ia sudah berbicara sendiri tanpa sadar, sementara karyawan dan staf yang lain heboh menyapa dan ada juga yang tersenyum-senyum, ada juga yang bahkan berbisik-bisik membicarakan aura dan ketampanan bos baru mereka sambil terkagum-kagum, tapi semua itu tak didengar lagi oleh Widel.

__ADS_1


“Apakah ini mimpi ?” ucap Widel lalu menampar dirinya sendiri dengan keras.


“Awww” ringisnya. Matanya semakin membulat. “I-i-i-ini bukan mimpi ?”


Pria yang dilihatnya bahkan sudah ada di depannya, tersenyum, lalu melewatinya diikuti oleh ramainya karyawan yang berkumpul di luar.


Widel membeku di tempat, tak bergerak sama sekali, hingga Melda menyentuh pundaknya, membuatnya sontak berteriak kaget karena tak sadar sama sekali.


“Kamu kenapa Widel ? Seperti melihat hantu saja” Tanya Melda yang bingung dengan sikap Widel yang aneh, dan tiba-tiba berteriak seperti itu. Wajah Widel pun memucat dipenuhi keringat dingin, sangking pikirannya seperti tak sanggup menerima kenyataan. Seseorang yang tak ingin dilihatnya, tapi sebenarnya dirindukannya, tiba-tiba datang dan menjadi bosnya. Semua itu sulit diterima akal pikirannya.


“Aah.. tidak apa-apa.” Ucapnya pada Melda lalu mengembuskan napasnya perlahan untuk menenangkan diri. “Aku hanya kaget, kau tiba-tiba menyentuh pundakku”


“Ohh.. ayo masuk ke dalam” ajak Melda sambil menarik tangan Widel. Orang yang ditarik malah seperti terlihat diseret, sangking tak sanggupnya dia memunculkan wajahnya di depan pria yang menjadi bos barunya itu. Ia ingin pingsan saja, atau ingin menghilang seketika. Ia hanya ingin bersembunyi saat ini.


Widel tak sanggup mengangkat kepalanya, ia terus menerus menunduk sambil mengigit bibir bawahnya. Ia hanya mendengar suara orang itu saat ini.


“Perkenalkan, saya Devano Lewis, CEO baru kalian. Tuan Ervin, mempercayakan restoran ini padaku. Kuharap kalian semua menerimaku dengan baik.” Ucap Devan sambil tersenyum sambil melirik-lirik ke seseorang yang berdiri di bagian kerumunan karyawan sambil terus menundukkan kepala. Devan pun melangkah mendekati seseorang itu, membelah ramainya karyawan yang langsung memberikan jalan. Widel sampai tak tahu karena ia tak melihatnya, sebab ia hanya menunduk dalam-dalam.


Devan berjalan dan sengaja menjatuhkan penanya tepat di hadapan Widel. Ia pun menunduk ingin mengambil penanya, dan Widel menjadi seratus kali lipat lebih kaget. Kalau saja bola matanya itu bisa keluar dari matanya, mungkin ia akan sudah menjadi buta, sangking terlalu besar membulatkan matanya. Ia melihat Devan sedang berjongkok di depan kedua kakinya, dan lelaki itu sempat-sempatnya menatap matanya sambil tersenyum. Devan berdiri, dan Widel pun mau tak mau harus mengangkat kepalanya.


“Oh ya, satu lagi. Selama aku masih menjadi CEO di sini, gaji kalian semua akan ku naikkan sebesar dua puluh lima persen” ucap Devan ketika sudah berdiri dan berbalik membelakanginya, berjalan tiga langkah di depannya dan menatap ke seluruh karyawan yang melingkarinya, sambil sesekali berbalik badan lagi untuk melirik pada gadis lucu yang bernama Widel itu.


Semua orang tentunya senang dengan pengumuman itu. Siapa juga yang tidak senang ketika gajinya dinaikkan. Mungkin hanya Widel yang berekspresi lain, menjadi pucat seperti orang sakit.


Devan kembali menoleh pada Widel dan berjalan tiga langkah mendekati wanita yang hanya diam itu. “Apa anda sakit nona ?” Tanyanya yang lalu memegang dahi Widel. Yang ditanya pun dengan seketika menjadi tontonan seluruh karyawan yang ada pada saat itu, semua mata tertuju padanya hingga ia rasanya ingin mati saja saat ini.


“Ti-ti-tidak Tuan. Ss-sa-sss-sa-saya ba-” Widel sudah tak mampu berbicara. Ia langsung pingsan tepat di hadapan Devan yang dengan sigap menangkapnya.


Bersambung...


Jangan lupa beri like, komen, dan vote yaa😘😘

__ADS_1


__ADS_2