
Antara obsesi dan cinta, itu beda tipis.
-----
“Lepaskan!” bentak Devan pada Wilona yang memeluknya dengan manja.
Wilona perlahan melepaskan pelukannya dan menatap Devan dengan sendu “Kenapa Devan ? Aku kekasihmu, apa salah aku memelukmu ?”
Terlihat aura dingin pada diri Devan, wajahnya kaku bagai es batu “Jangan muncul dihadapanku lagi!” ketusnya lalu berbalik hendak pergi.
“Kenapa Devan ? Apa karena wanita itu makanya kau tak menerimaku ?” ucap Wilona meninggikan suaranya. Devan terus melangkah tak memedulikan perkataan Wilona hingga sebuah pertanyaan Wilona menghentikan langkahnya.
“Apa kau mencintainya ?”
Devan terdiam sesaat lalu menoleh sedikit ke arah Wilona yang berada di belakangnya “Bukan urusanmu!”. Kemudian ia pergi dan menghilang dibalik pintunya.
“Kau mencintainya Devan, aku tahu dari cara kau menatapnya tadi” gumam Wilona dalam hati.
Wilona mengepalkan tangannya erat dan berbicara dalam hati “Siapa namanya ? Widel kah ? Akan kubuat pelajaran untukmu dasar perempuan tak tahu diri!”
***
Disisi lain...
SOMEONE POV
“Nona... ”
Suara dari seorang wanita paruh baya menembus kesadaranku. Perlahan kelopak mataku terbuka dan seketika mengernyit saat bias cahaya yang masuk dari kaca jendela kamarku terasa sangat menyilaukan mata.
“Ada apa bi ?” tanyaku dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
“Maafkan saya nona, dari tadi nona tidak bangun-bangun saya jadi takut nona kenapa-napa”
“Hm.. Memangnya sekarang jam berapa bi ?” ucapku masih berbaring malas sambil memeluk gulingku yang lembut.
“Sekarang sudah jam 3 sore nona, sebaiknya nona bangun dan makanlah dulu, saya takut nanti nona bisa sakit”
“Hm.. baiklah, 30 menit lagi, aku akan turun ke bawah untuk makan”
“Baik Nona”
Cklek
Bibi Ija telah keluar dan aku masih berbaring menatap langit-langit kamarku. Lima menit kemudian, aku beranjak dari tempat tidurku lalu melangkah ke kamar mandi. Aku berendam di dalam bathup yang telah terisi air hangat.
__ADS_1
Kepalaku masih terasa sedikit pusing. Terngiang-ngiang dengan kejadian tadi malam. Ada seorang pria tampan yang duduk di sampingku. Dia berbicara denganku....
Apa kau bicara denganku ?
. . .
Kita akan membuktikan siapa yang akan jadi pecundang, aku..? atau kau!
. . .
“Pria itu...” gumamku.
“Siapa pria itu ?” tanyaku bermonolog.
“Aku menantangnya minum.... lalu.... siapa yang menang setelah itu ?”
Aku berdiri dan langsung memakai piyama mandiku. Segera aku ke dalam kamar, dan mengambil ponselku hendak menghubungi asistenku.
“Frans, saat aku tak sadarkan diri di club, apa kau melihat seorang pria di sampingku ?” tanyaku langsung saat seseorang di sana telah mengangkat panggilanku.
“Tidak nona, waktu saya membawa anda, tidak ada seorang pun di dekat anda”
“Begitu yaa.. Tadi malam aku bersama dengan seorang pria. Kau cari tahulah tentang pria itu, kabari aku secepatnya!”
“Baik nona”
“Ternyata aku yang telah kalah darimu. Siapakah dirimu pria tampan?” gumamku sendiri sambil tersenyum mengingat-ngingat.
***
Siang telah berganti malam, terang berganti dengan gelap. Widel pun kini sudah berada di restoran tempatnya bekerja. Ia baru saja kembali dari mengantar pesanan.
“Widel, aku tak tahu kau ternyata punya kenalan artis” Ucap Melda ketika Widel hendak minum air putih di botol minumnya.
“Haa ? Jangan ngaco Mel” sahut Widel sembari menutup botol minum lalu menaruhnya kembali ke dalam tasnya.
“Wilona..., dia sekarang sedang menunggumu di meja nomor 8. Katanya dia ingin berbicara denganmu”
Mata Widel membulat penuh “APA ?”
Melda menyerahkan sebuah buku pada Widel dan berkata dengan antusias sambil memelas penuh bujukan “Widel.. nih aku titip minta tanda tangannya ya Del... please?”
“No!” Widel menggeleng kuat.
“Ayolah Del... please...” ucap Melda dengan tatapannya yang seperti kucing imut sedang meminta makanan.
__ADS_1
Jauh di dalam hati Widel, ia tak ingin menemui artis yang sombong itu. Apalagi harus meminta tanda tangannya, dimana harga dirinya ? Andai Melda tahu, Wilona itu artis yang seperti apa, pasti dia tidak akan sudi meminta tanda tangan dari artis itu.
“Aku tidak bisa Mel.. Tolonglah.. artis yang kau minta tanda tangan itu, sudah menghina dan merendahkan aku Mel... Please.., bukannya aku tidak mau Mel.. tapi aku memang tidak bisa..” Widel berkata dengan halus dengan wajah yang membujuk sendu.
Mata Melda melebar dan menatap Widel dengan tatapan tak percaya “Wilona sudah menghina dan merendahkan kamu ? Bagaimana bisa Widel ? Aku tidak tahu kalau kalian ternyata saling mengenal”
“Ceritanya panjang Mel. Yaudah, aku mau ke sana dulu. Dia sudah menungguku lama”
Widel berjalan keluar dari dapur, dan menuju ke meja dimana seseorang itu sedang menunggunya.
“Ada apa lagi dia mau menemuiku ? Apa yang mau dia bicarakan denganku ?” gumam Widel dalam hati sembari melangkah penuh keraguan.
Wilona terlihat sedang menatap gelasnya yang berisi anggur merah, dan matanya langsung mengarah pada suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Wilona kembali memasang tatapan sinisnya dan terlihat sedang berusaha menahan amarahnya, tampak dari wajahnya yang merah padam dan dadanya yang naik turun tidak beraturan setelah melihat Widel di depannya.
Perasaan Widel kembali tak enak namun ia merasa tetap harus mengikuti permintaan seseorang yang saat ini datang sebagai pelanggan.
Widel menarik kursi yang berseberangan dengan Wilona lalu duduk dengan menyilangkan kakinya.
“Apa yang mau kau bicarakan denganku ?” tanya Widel datar.
Wilona meneguk minumnya sebelum membuka suaranya “Ada hubungan apa kau dengan kekasihku ?”
“Maaf nona, saya tidak mengerti dengan ucapan anda” sahut Widel dengan nada yang sesopan mungkin.
“Jangan pura-pura kau jalang!” Kini Wilona sudah berbicara dengan nada tinggi, hingga beberapa tamu restoran yang duduk di dekat meja mereka menoleh ke arah mereka.~~~~
Widel menarik nafas dalam dan seberusaha mungkin ia berbicara dengan sopan, mengingat ia masih di tempat kerjanya saat ini “Maaf nona, tolong bicara baik-baik. Saya tidak ingin menemani anda dan menerima amukan anda yang tidak jelas. Saya masih punya banyak kerjaan. Kalau tidak ada yang penting, lebih baik saya pergi saja”
PRANGG!!!
“AAHH!!”
Wilona yang sudah mabuk, tak tahan dengan emosinya yang menderu, langsung mengangkat botol anggur di depannya dan memukul keras tepat di kepala Widel hingga botol itu pecah bersamaan dengan darah yang mengucur di kepala Widel. Seketika itu juga, Widel langsung terjatuh dari kursinya. Ia terduduk setengah berbaring dengan sebelah tangan menopang di lantai. Kepalanya terasa berdenyut dengan kencang, hingga membuat penglihatannya kabur, lalu gelap seketika.
Beberapa pegawai resto yang melihat, segera berlari tergopoh-gopoh ke arah Widel, dan disaat bersamaan juga, Ervin pun keluar dengan wajah khawatir bercampur marah, setelah diberi tahu oleh salah seorang pegawainya.
“Cepat bawa Widel ke dalam mobil, lalu kembalilah bekerja, aku yang akan membawanya langsung ke rumah sakit” ucap Ervin pada salah seorang pegawainya.
“Kalau sampai Widel kenapa-napa, aku akan membawa kasus ini ke polisi” sambung Ervin sembari menunjuk Wilona dengan tatapan penuh luapan emosi, lalu pergi menghilang dengan mobilnya meninggalkan Wilona yang mematung di tengah suasana restoran yang kacau.
***
Bersambung...
Spoiler :
__ADS_1
Devan tak sengaja bertemu dengan Reza yang juga sedang menunggu Widel di rumah sakit. Kira-kira apa yang terjadi saat mereka bertemu ?