I'M Crazy About You

I'M Crazy About You
Episode 44 - Tindakan Bodoh


__ADS_3

Tangan Widel ditarik pergi oleh Devan, dibawanya masuk ke dalam ruangan CEO. Semua mata karyawan yang saat itu melihat, memandangi keduanya dengan pandangan tanda tanya. Apalagi saat itu restoran sedang ramai ramainya, para karyawan dan staf cukup banyak yang bekerja saat itu. Orang-orang yang tidak pernah menaruh rasa curiga pada dua orang manusia itu pun akhirnya menjadi mulai curiga. Ada apa kah di antara bos baru dan karyawan yang bernama Widel itu. Rina yang memang sebelumnya sudah curiga, akhirnya ia bisa menarik kesimpulan pasti bahkan tanpa harus menanyai Widel.


Kalau bisa, ingin sekali Widel menutupi wajahnya, tapi buat apa juga, orang-orang di dalam sini juga sudah mengenalinya. Ia sangat malu, dipandangi orang-orang seperti itu. Batinnya seakan ingin menangis mempertanyakan tindakan Devan yang sangat memancing kecurigaan orang-orang di sini. Widel hanya tidak ingin dipikir yang tidak-tidak oleh orang lain. Dan tanpa diketahui Widel pun, itu memang benar, ada saja karyawan wanita yang iri hati, bergosip-gosip bahwa Widel memakai susuk , atau sihir hitam sejenisnya untuk menggoda bosnya sendiri. Alangkah jahatnya memang sifat dengki itu.


“Aduh, ada apa dengan orang ini ?” batin Widel ketika di tarik masuk ke ruangan Devan. Wajah Devan tampak diam, dingin, dan muram. Ia tak mengatakan sepatah kata pun, hanya membawa gadis itu masuk ke ruangannya, menutup pintu dengan keras, lalu duduk di kursi meja kerjanya.


“Ehem, Tu-tuan ?” Widel memberanikan diri untuk membuka suara. Devan pun menoleh padanya.


“Beraninya duduk santai dengan orang lain, saat masih jam kerja. Apa kau tidak lihat, bagaimana ramainya restoran saat ini ?” Ucap Devan yang berbicara seolah menyangkut pautkan dengan restoran yang sedang ramai kala itu, padahal sebenarnya ia hanya terbakar cemburu.


“Ma-maaf Tuan, tidak akan kuulangi lagi. Maafkan saya” Ucap Widel sembari menundukkan kepalanya, merasa perkataan bosnya itu memang benar, dirinya memang salah.


“Kalau melakukannya lagi, benar-benar akan kuberi surat peringatan padamu, tak peduli aku pernah mengenalmu atau tidak”


“Maafkan saya. Saya janji, tidak mengulanginya lagi” Ulang Widel.


“Sudahlah, lupakan saja” Ucap Devan dengan sok-sok marah.


“Aku buru-buru kembali dari perusahaan, ingin makan siang dengannya, malah dia sudah makan dengan pria brengsek itu” gerutu Devan dalam hati.


“Apa Tuan sudah makan ?” Tanya Widel yang berusaha mengambil hati bosnya yang sedang marah-marah itu.


“Belum sempat. Aku terlalu sibuk.” Jawab Devan ketus.


“Tuan ingin makan apa ? Biar kubawakan di sini untuk Tuan” Widel berusaha tersenyum dan berkata dengan lembut. Ia harus mempunyai kesabaran tingkat tinggi untuk menghadapi pria yang satu ini.

__ADS_1


Devan diam sejenak menatap Widel. “Tidak” tolaknya. Ia tak ingin langsung mau, padahal sebenarnya ia sudah sangat lapar.


“Emm.. baiklah Tuan” jawab Widel yang pasrah sebab tidak mungkin juga ia harus memaksa bosnya sendiri. Devan juga bukan anak kecil yang harus dipaksa-paksa makan.


Devan melirik dengan kesal. Ia ingin Widel membujuknya sampai mau makan, tapi sekali bilang ‘tidak’, gadis itu malah bilang ‘baiklah’. Widel menundukkan pandangannya tak tahan melihat tatapan Devan yang setajam silet itu.


“BAWAKAN AKU MAKANAN SEKARANG JUGA!!” bentak Devan yang membuat Widel terjingkak kaget, ia memegang jantungnya yang serasa akan copot.


“Ba-baik Tuan” Widel menjawab cepat, lalu segera berlari keluar dari tempat yang sangat mencekam seperti neraka itu. Namun, sesampainya di luar pintu ruangan Devan, Widel bingung harus membawakan bosnya itu makanan apa. Ia takut akan salah lagi, jadi dengan sangat terpaksa ia kembali masuk ke ruangan pria itu dan menanyakan langsung pada Devan, daripada ia salah lagi, malah akan membuat masalah menjadi semakin runyam.


Cklek


“Ada apa lagi ?” ucap Devan ketika melihat pintunya terbuka, dan melihat gadis itu kembali lagi.


Devan mengembuskan napas kesal. Mau makan saja harus repot begini, banyak ditanya. “Yang enak” jawabnya datar.


Widel sebenarnya masih bingung, makanan di restoran ini semuanya lezat, yang didengarnya itu sama saja seperti bukan jawaban untuknya. “Em, Tu-tuan.. Ma-makanan di restoran ini enak semua Tuan. Jadi Tu-tuan ingin makanan seperti apa ?” Tanya Widel dengan terbata-bata.


Devan tersenyum geram sekali. Ia begitu kesal dengan wanita yang sayangnya ia sukai itu. Devan pun berdiri dan melangkah mendekati Widel sampai membuat gadis itu memundurkan kakinya ke belakang. Semakin Devan mendekat, semakin ia mundur, hingga punggungnya terbentur dinding. Devan menghimpit gadis itu yang sudah terperangkap di tembok. Ia menyentuhkan sebelah tangannya di dinding tepat di samping kepala Widel.


“Kalau memakanmu saja bagaimana ?” Tanya Devan sambil menggerakkan ujung jari telunjuknya menyapu wajah Widel dari atas ke bawah, benar-benar geram dengan gadis kecil satu ini.


Widel gelagapan. “Sa-saya akan membawakan makanan anda” ucap Widel hendak kabur dari celah tangan Devan, namun ditahan cepat oleh pria itu.


“Tu-tuan.. Biarkan saya pergi”

__ADS_1


“Kenapa harus membiarkanmu pergi ? Aku sekarang ingin sekali memakanmu. Dagingmu ini pasti lembut sekali” ucap Devan sambil mengeluarkan lidahnya, seolah melihat makanan yang lezat.


Widel menelan salivanya seperti menelan gumpalan nasi bulat-bulat. “Apa orang ini sebenarnya adalah psikopat ?” gumamnya dalam hati. Ia ketakutan melihat Devan yang sepertinya serius akan memakannya saat ini juga.


Saat Devan hendak memajukan wajahnya seperti akan menggigit lehernya, Widel memejamkan matanya dan mengeraskan kepalan tangannya, dan....


BRUUUGGG!!


“Arrgghh!!” Devan meringis, keluar darah dari lubang hidungnya. “KAU MENINJU KU ?” bentak Devan tak percaya dengan apa yang dilakukan Widel terhadapnya. Wanita itu membuka matanya takut-takut. Widel menutup mulutnya seketika saat melihat darah di hidung Devan. “ASTAGA! Tu-tuan berdarah.” Seru Widel hendak memegang darah itu.


“Astaga, apa yang baru saja kulakukan ? Matilah aku... Habislah riwayatku hari ini” batin Widel dengan raut wajah yang panik.


Devan mengusap darah di hidungnya. “WAHH WAHH..!! KAU BENAR-BENAR...” ucap Devan dengan suara meninggi sambil mengarahkan telunjuknya pada gadis itu.


Widel menggigit-gigit kukunya merasa sangat panik. Otaknya sibuk mencari cara bagaimana cara menurunkan emosi pria di hadapannya yang sedang meledak-ledak ini. “Apa yang harus kulakukan ? Bagaimana caranya agar emosinya meredam ? Kalau di film-film....?” gumamnya dalam hati. Ia harus mencoba apapun yang dia bisa agar hari ini ia selamat dari singa yang mengamuk itu.


Widel mulai menjinjitkan kakinya, dan memegang pundak Devan. Dengan cepat ia mendaratkan bibirnya menyentuh bibir pria itu agar berhenti marah-marah. Seketika Devan membatu dengan mata yang membulat, suasana menjadi hening tiba-tiba.


Setelah mencium pria itu, Widel menggigit bibirnya. Ia sangat malu. Batinnya menangis, kenapa ia melakukan hal bodoh seperti itu. Apa yang sudah merasuki dirinya ?


Widel pun akhirnya melangkahkan kakinya cepat, berlari kabur dari ruangan itu. Ia terlalu malu untuk menampakkan wajahnya saat ini. Ia ingin bersembunyi di manapun, di tempat ia tak akan melihat pria itu.


Sementara Devan, masih membeku karena terkejut akan hal tadi yang terjadi begitu tiba-tiba. Yang tadinya marah, entah mengapa bibirnya tak berhenti merekah, seakan pipinya ditarik membuat ia tak bisa berhenti tersenyum.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2