I'M Crazy About You

I'M Crazy About You
Episode 62 - Di rumah Devan (2)


__ADS_3

Devan menggenggam tanganku sambil menatap mataku tersenyum. Aku berjalan dengan suasana canggung karena sejujurnya, aku sendiri masih tak menyangka akan berjalan bersamanya sambil bergenggaman tangan seperti ini. Dia yang kurasa sangat jauh untuk kuraih, tapi sekarang...


Aku duduk di sofa bersamanya, saling berhadapan. Entah apa yang kupikirkan, yang pasti saat ini aku telah kehilangan akal pikiranku. Aku tidak merasa cemas sama sekali dengan pekerjaanku. Aku tidak marah padanya, dan sekarang duduk menunggu makanan yang telah dipesannya melalui aplikasi ponselnya. Aku tidak berpikir lagi bagaimana dengan Kak Reza. Aku bingung kenapa aku malah nyaman bersama Devan saat ini.


“Mau kemana ?” Tanyanya saat melihatku tiba-tiba berdiri.


“A-aku ingin melihat kelinci tadi” jawabku dan berjalan ke arah kardus kelinci yang diletakkan Devan di atas meja.


Devan ikut berdiri dan berjalan menyusulku. “Ambilkan sayuran di dalam kulkas, mereka belum makan”


“Oh, iya. Aku lupa” sahutku dan segera mengambil beberapa sayuran di dalam kulkas lalu memberikannya pada kelinci.


“Sayang, makan dulu yaa” ucap Devan sambil mengelus kelinci yang berwarna abu-abu itu.


Aku menoleh padanya hampir terkekeh, karena ternyata dia masih mengingat perkataan asalku saat di mobil tadi ketika aku menamai kelinci itu dengan sebutan ‘sayang’.


“Kamu juga Devan, belum makan kan ?” Katanya lagi pada kelinci satunya yang bercorak hitam putih seperti polkadot.


“Kamu menamakannya Devan ?” Tanyaku dengan heran.


“Iya, yang ini kan jantan” jawabnya.


“Ehemm.. I-iya, tapi kenapa tidak nama yang lain ?”


“Karena kedua kelinci ini untukmu. Kalau disatukan panggilnya kan jadinya ‘sayang Devan’ ” ucapnya dengan tersenyum tengil.


Ya ampun..


Aku berdecak sambil menggeleng tak percaya menatapnya.


“Kenapa ?” Tanyanya.


“Aku baru tahu ternyata diusiamu yang tua itu, bisa kekanak-kanakan begini”


“Apa ? tua katamu ?” katanya dengan mata melotot.


“Iya kau kan memang sudah berumur”


“Dasar anak kecil !”


“A-apa kau bilang ? A-anak ke”


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu dan bel yang berbunyi.


“Sepertinya makanan kita sudah datang” ucap Devan sembari pergi membuka pintu.


‘Kita’ ?


Aku tersenyum lalu memukul kepalaku sendiri karena tersipu hanya dengan kata itu ; ‘kita’


Aku mencuri pandang ke arah pintu, tepatnya melirik ke arah Devan. Pria tampan itu sedang mengambil box paket makanan dari kurir di depan pintu. Tanpa sadar aku memangku daguku sendiri memandanginya dengan penuh damba.


Sungguh, dia sangat tampan, tubuhnya bagus, punggung yang lebar, dada yang bidang, postur yang tinggi, wajah yang rupawan, tak kusangka pria seperti ini menjadi pacarku.


Aaaaahhhh..... !! Kurasa aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, seakan memenangkan sebuah lotre. Sungguh pria idaman itu kini menjadi kekasihku. Dia mencintaiku, dan aku pun mencintainya. Aku tidak akan lari lagi darinya. Aku akan mensyukuri rasa cinta ini, dan kuanggap sebagai sebuah keberuntungan bagiku.


Aku terkekeh sendiri dengan lamunanku. Tersenyum sendiri seperti orang gila.


Apakah ini mimpi ?

__ADS_1


“Hei, anak kecil kemarilah” panggil Devan di ruang makan seraya menggerakkan tangannya mengajakku.


“ANAK KECIL ??? AKU BUKAN ANAK KECIL!!” napasku memburu kesal. Baru saja aku terpana padanya, tiba-tiba dia membuatku jengkel lagi dan lagi.


Devan terkekeh. “Kemarilah, ayo kita makan dulu”


Aku berjalan menyusul duduk di depannya dengan wajah yang mengkerut jengkel.


“Makan yang banyak biar tumbuh besar” Katanya dengan tersenyum menahan tawa.


Tu-tumbuh besar ?


Aku hanya diam memelototinya, sambil terus menyendokkan nasi ke mulutku. Andai dia bisa kuejek balik, tapi dia terlalu sempurna untuk diejek, hampir tak ada satupun kekurangan pada dirinya, kecuali sifatnya yang buruk itu.


Ah sialan!


“Tambah lagi makannya, biar cepat besar jadi orang dewasa” ucapnya lagi.


Aku tidak tahan lagi!


Kukepalkan tanganku lalu kuhentakkan di atas meja dengan napas yang memburu.


“IYA OM!” ketusku.


Dia terkekeh. “Hahaha.. om ? om katamu ?”


“Iya, om. Aku kan masih anak kecil, jadi sudah sepantasnya aku memanggilmu ‘om’ !”


“Berarti kau pacaran dengan om-om dong ?”


“Om juga pacaran dengan anak kecil. Apa om pedofil ya ?”


“Hahahahaa”


Aku memandangnya heran, bukannya kesal tapi dia malah tertawa.


“Kok om malah ketawa ?” Tanyaku.


“Ya karena lucu. Haha.. Sudah, teruskan makannya biar cepat besar” jawabnya masih dengan senyum lebarnya.


Aku melanjutkan makanku dengan mengunyah kasar makanan yang ada di mulutku.


“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi” lanjutnya.


Keningku mengkerut. “Yang mana ?”


“Sejak kapan kau mulai cemburu padaku ? Maksudku kapan kau mulai ada rasa padaku ?” Tanyanya yang kini mulai serius.


“Uhuk uhuk uhuk” Seketika aku langsung terbatuk hampir memuncratkan makanan yang sedang kukunyah ketika mendengar pertanyaan itu lagi. Dengan cepat aku langsung meneguk segelas air lalu membenarkan napasku.


Kenapa kalau ditanya pertanyaan seperti ini aku jadi malu sekali ? Mungkin pipiku sudah memerah saat ini.


Kutundukkan kepalaku dalam-dalam. “A-aku tidak tahu pastinya kapan. Sa-saat kamu datang dalam keadaan mabuk malam itu dan tak sengaja menginap di rumahku... waktu itu, aku.. aku mulai merasa nyaman, dan..”


“Tatap aku” katanya memotong ucapanku.


Kuangkat kepalaku menatapnya sembari meremas bajuku kuat-kuat memberanikan diriku. “Waktu itu kamu meninggalkan ponselmu di kamarku, dan saat aku mengantarkan ponselmu kembali di kantormu, kamu bersikap acuh dan dingin padaku, dan.. dan saat itu entah kenapa ada yang janggal di dalam hatiku. Seperti terasa dicubit”


Bicara apa aku ini ? Ahh.. aku malu sekali.


Aku menggigit bibir dalamku kuat-kuat. Tangannya memeluk tanganku di atas meja, sambil tersenyum sangat manis padaku.

__ADS_1


“Ooo.. Jadi, mulai saat itu ?” Katanya lagi sambil tersenyum.


Aku berdehem lalu meneguk air lagi hanya menjawabnya dengan anggukan.


*****


Tok tok tok


Reza mengetuk pintu rumah Widel, gadis itu sekarang pindah di rumah kontrakan bersama Febby.


“Iya, tunggu” sahut suara dari dalam.


Cklek


“Kak Reza ?” ucap Febby. “Ada apa ke sini ?”


“Aku ingin menitipkan ini, tas Widel ketinggalan tadi” kata Reza seraya memberikan paperbag berisikan tas Widel yang ketinggalan saat di restoran jepang tadi.


Kening Febby berkerut bingung sebab Widel sahabatnya itu bukannya sedang bekerja sama Reza ? lalu kenapa tas Widel ketinggalan ? kenapa Reza menitipkan tas Widel padanya ? dimana Widel sebenarnya ?


“Febby ?” panggil Reza sekali lagi sebab Febby hanya terdiam saja.


“Oh.. i-iya kak. Kak Reza silahkan masuk dulu” sahut Febby mempersilahkan Reza untuk masuk. Ia ingin menanyakan banyak hal akan kebingungannya, tidak enak juga menanyakannya di depan pintu.


“Makasih Feb, aku hanya ingin mengantarkan ini saja kok lalu aku mau balik ke kantor”


“Oh, baiklah kak. Tapi.. kenapa kak Reza menitipkannya padaku ? Memangnya Widel kemana ?”


“Oh, Widel tiba-tiba ada urusan dan dia meninggalkan tasnya. Dia cuti hari ini” jawab Reza.


“Oohh.. begitu ya” sahut Febby. “Baiklah kak, nanti akan kuberikan pada Widel kalau dia sudah pulang. Terimakasih kak sudah mengantarkannya ke sini”


Reza menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu aku balik dulu ya”


“Iya kak, hati-hati”


*****


Di restoran Luxury Food


“Rin, kamu kenapa dipanggil Tuan Devan tadi ?” Tanya Melda.


“Widel, Mel” jawab Rina.


“Wi-widel ??? Tu-tuan Devan marah besar karena Widel ?” ucap Melda.


Rina mengangguk dan menatap Melda seraya berbisik. “Tuan Devan mencintai Widel, dan sekarang pergi mengejarnya kembali”


Melda menutup mulutnya terkejut. Matanya membulat. “Jadi sekarang gimana ?”


Rina menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu Mel sekarang gimana. Apa aku coba hubungi Widel ya ? Tapi gimana kalau Tuan Devan yang angkat ?”


“Coba saja Rin, nanti cari alasan saja kalau yang angkat benar-benar Tuan Devan” kata Melda meyakinkan.


Rina menatap Melda sejenak, menimbang-nimbang. “Baiklah. Aku coba” ucap Rina lalu menghubungi Widel.


“Panggilannya masuk Mel” ucap Rina pada Melda sembari menunggu panggilan itu tersambung.


“Halo” sahut suara dari seberang sana.


“Ha-haloo ?” jawab Rina linglung mendengar suara yang berbeda.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2