I'M Crazy About You

I'M Crazy About You
Episode 12 - First Kissku


__ADS_3

WIDEL POV


Mungkin aku sudah gila karena sudah menyetujui kesepakatan dengan pria gila yang tak masuk akal ini. Untuk apa dia mengajakku ke pesta yang penting baginya ? Banyak wanita yang lebih cantik, dengan bodi yang seperti gitar spanyol. Kenapa harus aku ?


Aku semakin curiga melihat senyum licik di wajahnya itu.


Sebenarnya rencana apa lagi yang ada dipikirannya ?


Aku berdehem menyudahi salam kesepakatan ini sambil menatapnya penuh curiga dengan tatapan menyelidik “Ngomong-ngomong kenapa kau tidak mencari wanita lain saja ? Kenapa harus aku ?”


“Kenapa ? Apa kau tidak percaya diri ?” tanyanya.


“Bukan begitu, kan masih banyak wanita yang lebih cantik dan lebih bohai dariku. Sebenarnya apa tujuanmu memilihku ? Apa lagi rencana yang kau buat ?” ucapku mengerutkan kening.


“Apa otakmu begitu kotor hingga kau tidak percaya denganku ?” Devan berbalik tanya dengan sedikit meninggikan nada suaranya.


“Kenapa kau malah marah padaku ? Aku hanya bertanya!” jawabku tak mau kalah.


“Kenapa kau malah tidak sopan padaku? Sebenarnya disini aku masih customermu. Harusnya kau layani aku dengan sopan santun” tanyanya yang seketika membuatku tersadar akan ketidaksopananku padanya.


Bagaimanapun juga saat ini dia masihlah seorang customerku yang wajib aku layani dengan sopan.


“A.. anu... Maafkan aku Tuan.. ” jawabku sambil membungkuk dan terus menunduk tak mau menatapnya karena aku telah malu atas tingkah lakuku yang tidak profesional sebagai seorang pekerja. Walau sebenarnya aku masih merasa jengkel dengan pria gila ini.


“Baiklah. Ini ponselmu dan kembalilah ke ruang makan. Selesaikan sajian makanan itu cepat. Aku sudah lapar” ucapnya sembari mengembalikan ponsel padaku lalu berjalan ke ruang makan dan aku mengikutinya dari belakang.


Tak sampai dua menit, aku sudah selesai menyiapkan segalanya di atas meja dengan tertata rapih sempurna.


“Sudah selesai Tuan, kalau begitu saya permisi. Selamat menikmati” ucapku sedikit membungkuk lalu berjalan hendak meninggalkan pria itu.

__ADS_1


“Tunggu!” katanya tiba-tiba yang membuatku menghentikan langkahku lalu berbalik menghadapnya.


“Apa kau sudah makan ?” tanyanya kemudian yang membuatku langsung mengerutkan kening.


“Sudah Tuan. Kalau tidak ada hal lain lagi, saya mohon diri. Tagihannya sudah dibayarkan langsung oleh seorang pria yang tadi berada disini” Jawabku cepat tak ingin berlama-lama lagi.


“Apa kau tidak bisa menemaniku makan sebentar saja ?” tanyanya pelan. Namun aku merasakan nada sendu di dalam ucapannya yang membuatku tak tega untuk menolak permintaannya.


“Baiklah Tuan. Saya akan menemani dan menunggu Anda sampai selesai makan” jawabku pasrah.


“Kalau begitu duduklah di depanku, dan temani aku makan”


“Apa kau pernah mencintai seseorang dalam hidupmu ?” tanyanya kemudian setelah aku telah duduk menghadapnya.


“Saya mencintai kedua orang tua saya” jawabku tegas yang entah kenapa membuatnya tiba-tiba tertawa.


“Betapa bodohnya aku telah bertanya padamu” ucapnya terkekeh santai sambil menyuap makanannya.


“Gadis bodoh sepertimu mana mengerti tentang Cinta” ucapnya kemudian yang membuat emosiku semakin naik ke kepala.


“Maaf Tuan, Anda memang customer saya. Tapi mohon perhatikan ucapan Anda” jawabku tak mampu menahan emosiku lagi.


“Tapi yang kukatakan adalah fakta, jadi kau tak perlu marah. Benar kan ?” jawabnya dengan seringai menjengkelkannya.


Ya Tuhan, aku sungguh ingin meninju muka menyebalkannya itu.


“Maaf Tuan yang sombong. Tidak baik makan sambil berbicara. Sebaiknya Anda makan saja menikmati makananmu dalam diam” ketusku dengan nada yang kubuat sangat lembut sambil menyunggingkan senyum paksa dengan tatapan yang tajam.


“Beginikah caramu memperlakukan customermu ?” jawabnya sedikit menaikkan suaranya.

__ADS_1


“Maaf Tuan. Apa ada yang salah dengan ucapan saya? Saya hanya mengatakan fakta, jadi Anda tidak perlu marah. Benar begitu kan Tuan ?” ucapku berpura-pura bodoh sambil tersenyum puas telah membalas perkataannya.


Seketika pria itu membanting sendok yang dipegangnya dengan keras, di atas meja makannya yang terbuat dari kaca tebal hingga membuat suara nyaring menggelegar memekakkan telinga.


“Suapi aku!” ucapnya dingin dengan tatapan tajamnya yang menusuk.


“Kenapa Tuan ? Apa tangan Anda yang kekar itu tiba-tiba kram ?” tanyaku dengan seringai kurangajar.


Devan tampak menghela nafas mencoba mengontrol emosinya lalu menyunggingkan senyum dengan penuh ancaman “Suapi aku nona kecil, kalau kau mau pulang dengan selamat!”


Sialan! Dia mengancamku! Baiklah akan kuikuti permainanmu.


“Baiklah Tuan” jawabku santai lalu duduk di sebelahnya.


Kesendokkan suapan besar-besar dimulutnya hingga dia melotot menatapku dan aku hanya tersenyum gembira sambil terus menyuapinya. Dia menahan pergelangan tanganku lalu meminum segelas air putih dan menatapku seakan dia hendak memakanku.


Dengan gerakan cepat dia memegang tengkukku dengan sebelah tangannya lalu mendekatkan wajahnya padaku.


“Kau benar-benar berani nona kecil!” ucapnya tajam lalu secepat kilat dia mendaratkan bibirnya di bibirku membuat mataku membulat penuh seakan membeku seketika.


First kissku.


Aku berusaha mendorong badannya sekuat tenaga namun tenaganya yang terlalu mendominasi membuatku tak bisa bergerak sedikitpun. Dia terus melumat bibirku tanpa ampun sampai membuatku kesulitan bernafas tampak dari tanganku yang semakin memukul-mukul dadanya dengan lebih keras lalu dia melepaskannya.


Aku terbatuk-batuk lalu mengatur nafasku perlahan yang hampir habis dibuatnya. Nafasku tersengal dengan tanganku mengepal keras membuat buku-buku tanganku memutih. Aku menatapnya tajam dan tak sadar air mataku begitu saja merembes keluar dari pelupuk mataku. Aku memang tak bisa menahan air mataku saat emosiku sudah berada di puncak tertinggiku.


“DASAR KAU PRIA BRENGSEK!!” teriakku disertai tangis yang tak bisa kubendung lagi dan dia hanya tersenyum penuh kemenangan.


“Itu adalah hukumanmu karena telah berani kepadaku” ucapnya lalu berdiri dari duduknya dan meninggalkanku menangis di tengah ruang makannya yang luas.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2