
Tak ada pilihan lain, terpaksa aku harus membiarkannya menginap di rumahku malam ini.
Dengan penuh hati-hati, kubaringkan badan lelaki itu memanjang di atas sofa, lalu melepaskan sepatu pantofel hitam dan kaos kaki yang masih melekat di kedua kakinya. Setelah itu, aku mengambil bantal dan selimut dari dalam kamarku. Perlahan kuangkat kepalanya lalu menaruh bantal di bawahnya dan memakaikannya selimut agar dia merasa nyaman. Kupandangi wajahnya sebentar sebelum aku masuk ke dalam kamarku untuk tidur. Aku mengernyit saat melihat ada sedikit memar dan luka gores di pelipisnya.
Oh astaga, ini pasti karena pukulanku yang tadi.
Segera aku melangkah ke dapur dan membawakannya baskom kecil berisi es batu dan sehelai handuk kecil.
Aku duduk di pinggir sofa tempat ia berbaring, dan sejenak kuperhatikan wajahnya yang tertidur dengan lelapnya. Ia terlihat sangat manis saat tertidur seperti ini.
Kubungkukkan punggungku sedikit lalu mulai mengompress memarnya. Aku tersenyum tipis saat melihat keningnya yang mengkerut ketika aku menyentuh memar di wajahnya.
Kenapa kau tidak ke rumahmu dan malah ke sini Tuan Sombong ?
Maafkan aku telah melukai wajah kebanggaanmu itu.
Setelah selesai, aku segera masuk ke dalam kamarku dan sholat sebentar sebelum aku tidur.
Triiiinngg triiinngg triiiingg
Alarmku sudah berbunyi tapi rasanya aku masih malas untuk beranjak dari tempat tidurku.
“Aahh! 5 menit lagi” gumamku masih belum ingin membuka mata sambil meraba jam beker di atas nakas samping tempat tidurku. Dengan penglihatan yang masih kabur, belum sepenuhnya bangun dari alam mimpi, aku langsung mematikan bunyi alarmku yang nyaring itu.
Setelah alarmku sudah tak berbunyi, aku kembali menarik selimut dalam-dalam, dan meringkuk memeluk gulingku yang nyaman dengan erat.
Ada yang berbeda dari gulingku saat ini. Terasa keras namun sangat hangat, beraroma manis dan seperti ada campuran aroma kayu cendana.
Tunggu.. kenapa gulingku ada bunyi detak jantung ?
Kubuka mataku perlahan.
Dada bidang siapa ini ?
__ADS_1
Wauuu roti sobek..
Aku memindai dari atas sampai ke bawah.
Dari tadi apa aku memeluk seorang lelaki ?
Apa aku mimpi sudah bersuami ?
Kucubit pipiku dengan keras untuk mengetahui ini hanyalah mimpi ataukah nyata.
“Aww!” ringisku.
Ini bukan mimpi.
Mataku membulat penuh “Aaaaaahhhh!” Teriakku lalu terduduk di tempat tidurku.
“Kenapa kau disini ?” ucapku sedikit berteriak.
“Rumahmu ini sangat panas, dan di luar banyak nyamuk, makanya aku pindah ke sini, lumayan kipas anginmu sedikit membantu” jawab Devan dengan suara serak tanpa membuka matanya, masih ingin terlelap.
“Ma- mana bajumu ? Kenapa kau.. bertelanjang dada seperti itu ?” tanyaku gelagapan lalu segera bangkit dari tempat tidur.
“A-apa ? bersyukur ? Dasar gila!” jawabku sambil menepuk dadaku yang sesak karena terlalu emosi.
“Jangan pura-pura marah begitu.. Kau juga sangat menikmati badanku.. semalaman kau terus memelukku erat, menempelkan wajahmu di dadaku lalu mencium badanku”
“Astaga.. astaga... berarti semalaman aku sudah tidur dengan seorang lelaki... Oh Tuhan.. aku bisa gila! Aku gila! Aku sudah gila! Aku memeluknya dan mencium dadanya sepanjang malam..? Ya ampunn.... aku ingin mati saja! Aku benar-benar sudah gila...” ucapku berkomat-kamit panik sambil terus melangkah mondar-mandir di pinggir tempat tidurku, masih terlalu kaget dengan situasi ini.
“Sudahlah, jangan berlebihan seperti itu!” gumam Devan santai sambil masih tiduran di tempat tidurku.
“BANGUN!!” bentakku sambil mengguncang badannya.
Devan menyipitkan matanya “Kau terlalu berisik!”.
“Cepat bangun.. Bangun dan pulanglah!” Aku terus menarik-narik lengan besar Devan namun akhirnya aku sendiri yang tertarik dan berakhir dengan menindih badan Devan.
__ADS_1
Deg deg deg!
Aku mengangkat kepalaku dan menatap Devan yang kini menyeringai jahil. Pelan-pelan aku meraih jam beker dengan tangan kananku yang nganggur dan langsung memukul kepalanya.
Sontak Devan terduduk “Awww!” ringisnya sambil memegangi kepalanya.
“Dasar kau monster betina! Kenapa kau memukulku haa ??" teriaknya.
“eh..? kenapa dahiku rasanya seperti ada benjolan ?” gumamnya yang langsung beranjak dan mendekati cermin yang tergantung di dinding kamarku.
Aku menipiskan bibirku berusaha menahan tawa melihat kepalanya yang benjol sangat tak cocok dengan wajahnya yang tampan.
“Astaga, kau apakan kepalaku Widel ? Kau harus bertanggung jawab!”
“Bwaahhahahah” Tawaku terlepas tak bisa terbendung lagi.
“Kau tertawa haa? Apa kau mau kuhukum lagi?” ucapnya sambil mendekatiku dengan gaya sensualnya.
“Eh.. Jangan mendekat! Berhenti di situ.” kataku dengan nada mengancam masih duduk di pinggiran ranjang.
Dia terus melangkah semakin mendekat,
dan tanpa bisa kuhindari, dengan cepat ia menindihku dengan kedua tangannya yang menopang di sisi kiri dan kanan tubuhku. Mata kami saling memandang satu sama lain.
“Bwaahahahaha.... Maaf.. maafkan aku... Kau sangat cocok dengan benjolan di kepalamu itu” ucapku sambil menyeka air mata di sudut mataku saking lucunya.
Dia bangkit lalu duduk di sampingku sambil membuang wajahnya dariku. Dia terlihat malu “Sudahlah tak usah tertawa seperti itu, sekarang kau obati saja kepalaku lalu buatkan aku sup karena kepalaku masih pusing”
“Baiklah.. baik..” Aku bangkit lalu membungkuk di depannya mencoba melihat wajahnya sekali lagi “Bwahahahahha... Kau sangat imut seperti ini” kataku yang langsung membuat pipinya merona.
“Sudah pergilah!” ketusnya sambil menggerakkan tangannya tanda mengusir.
“Kau mau kemana ?” tanyanya yang melihatku bukan ke arah dapur, melainkan ke kamar mandi.
“Aku mau air wudhu sebentar lalu sholat sebelum aku ke dapur” ucapku sambil terus melangkah ke kamar mandi.
__ADS_1
“Oh..” gumamnya.