
“Baiklah Tuan Devan, saya permisi dulu kalau begitu. Nanti kita bertemu lagi” ucap Xena pamit pergi. Ia melirik Widel dengan pandangan sinis sebelum akhirnya pergi dan menghilang dari balik pintu.
Widel pun sempat bertatapan mata dengan Xena, merasa bingung kenapa wanita itu selalu melihatnya dengan tatapan sinis dan seakan benci melihat dirinya, padahal ia sama sekali tidak mengenal wanita itu.
“Apa yang kau lihat ?” Tanya Devan sambil mengikuti arah pandang Widel yang terus mengarah ke pintu.
“Bukan apa-apa Tuan”
“Duduklah, apa kakimu tidak capek berdiri terus seperti itu ?” ucap Devan.
Widel menurut. Ia langsung bergegas duduk di sebelah Devan. Saat ini, ia tak akan mencari gara-gara dulu dengan bosnya yang pemarah ini. Untung-untung kejadian tadi yang benar-benar fatal saja bisa diampuni oleh bosnya itu.
“Widel, apa kau bisa memasak ?”
“Bisa Tuan, hanya makanan sederhana saja”
“Masak mie maksudmu ?” sahut Devan ketika mengingat ia hanya pernah dimasakkan mie di rumah Widel waktu itu.
Widel menggeleng. “Tidak Tuan, saya bisa masak makanan rumahan”
“Kalau begitu, mulai besok kamu yang akan membuatkan makanan untukku setiap harinya” ucap Devan dengan santainya sambil mengunyah makanan di mulutnya.
“Maunya tadi aku jawab tidak bisa saja” gerutu Widel dalam hati.
“Tapi Tuan ? Saya kan harus bekerja” protes Widel sebab itu bukanlah pekerjaannya. Ia kan setelah dua hari ini harus kembali bekerja seperti biasa sebagai kurir pengantar makanan.
Devan mengerutkan alisnya “Widel... Kenapa kau suka sekali menjadi kurir pengantar makanan ?”
__ADS_1
“Bukan begitu Tuan. Itu sudah pekerjaan saya di sini”
“Bosmu sudah berganti menjadi aku. Aku yang mengatur pekerjaan untukmu dan aku mau kau tidak perlu mengantarkan pesanan lagi untuk orang lain” tegas Devan. Ia kesal merasa sepertinya Widel masih belum mengakui dirinya sebagai bos barunya. Gadis bodoh itu terus saja terikat dengan pekerjaan sebelumnya yang diberikan oleh Ervin.
“Baiklah Tuan” Widel menurut saja tak ingin memancing amarah Devan dulu. Hari ini sudah sangat lelah dan tidak ingin berdebat lagi.
“Jadi mulai sekarang kau bukan lagi kurir pengantar makanan. Kau adalah asistenku yang harus melayani aku. Kau mengerti ?”
“Maksudmu pelayanmu, begitu kan ?” Widel menggerutu lagi dalam hati.
“I-iya Tuan” jawab Widel dengan pasrah.
“Kenapa wajahmu seperti itu ? Kau tidak senang ?”
Widel memaksakan senyumnya setulus mungkin sebab bahkan raut wajahnya dikomentari oleh pria pengatur ini. “Tidak Tuan, tentu saya sangat senang dengan kebaikan hati anda”. Mulutnya terasa akan segera sumbing berbicara sok manis seperti itu.
“Hmm.. baguslah kalau kau senang” sahut Devan lalu melanjutkan makannya. Widel hanya duduk sambil menundukkan kepalanya.
Dering ponsel yang berbunyi membuat keduanya saling menatap seketika. Widel menjadi kikuk, dan berusaha mematikan dering ponselnya yang berbunyi nyaring itu.
“Aarrghh!! Sial! Sial! Kenapa harus berbunyi ?” Widel merutuki dirinya dalam hati, karena kebodohannya telah lupa mengubah dering ponselnya menjadi silent. Biasanya ia ketika bekerja selalu men-silent kan ponselnya atau setidaknya dalam mode getar.
Febby is calling...
“Duuh.. kenapa harus telpon sekarang sih Feb ?” gumamnya dalam hati dan langsung mematikan panggilan itu. Ia juga segera mengubah ke mode silent agar tak terganggu lagi. Sahabatnya yang satu itu, terkadang memang tak tahu waktu kalau mau meneleponnya.
“Kenapa tidak diangkat saja ? Telepon dari siapa memangnya ?” Tanya Devan berusaha sedatar mungkin.
__ADS_1
Widel tersenyum cengengesan. “Aah bu-bukan siapa-siapa Tuan. Lagipula tidak penting”
“Oh ya, nomormu masih yang kemarin kan ?” Tanya Devan lagi.
“I-iya Tuan”
Devan mengelap bibirnya dengan tisu. Ia telah selesai makan. Pria itu tak banyak komentar tentang makanan yang dibawakan Widel.
“Apa Tuan sudah selesai ? Kalau sudah, biarkan saya membereskannya” Tanya Widel dan Devan menganggukkan kepalanya.
Devan hanya diam memperhatikan gadis polos itu membersihkan mejanya. Tangan Devan bergerak menahan tangan Widel membuat gadis itu menoleh padanya.
“Jadilah kekasihku” kata Devan dengan pandangan serius.
Widel menundukkan pandangannya “Tu-tuan aku harus membawa ini ke belakang dapur”
Devan menarik tangan Widel hingga gadis itu jatuh ke pangkuannya. Keduanya saling berpandangan satu sama lain. “Jadilah kekasihku Widel” ucapnya pelan dan lembut membuat siapupun yang mendengarnya mungkin akan meleleh dan merenyuhkan hati yang mendengarnya. Tatapan matanya sangat dalam.
Widel terdiam menatap ke manik cokelat yang indah itu. “A-aku tidak bisa Tuan. Maafkan aku.”
Ternyata Widel tetap menolaknya, masih membohongi dirinya sendiri, mengabaikan kenyataan yang harusnya ia terima. Ia masih menolak untuk menerima semuanya mengalir sendiri.
“Kenapa ? Apa karena Reza ? Apa kau masih berpacaran dengannya ?” Tanya Devan butuh penjelasan. Ia tidak mengerti apa kurangnya dirinya hingga wanita itu terus saja menolaknya.
“Bu-bukan Tuan. Kita hanya.. kurasa kita tidak seharusnya begini. Saya dan anda sangatlah berbeda”
“Baiklah” Devan pun akhirnya melepaskan tangan Widel, dan segera berdiri. Hatinya masih saja sakit ditolak seperti ini, merasa bingung harus melakukan apa lagi agar Widel menerima perasaannya sendiri. Ia muak wanita itu selalu saja mengatakan perbedaan di antara mereka.
__ADS_1
“Aku harus kembali ke perusahaan” ucap Devan yang lalu bergegas memakai jasnya, menoleh sebentar pada gadis yang sedang mengelap meja sambil tertunduk, lalu pergi meninggalkan gadis itu di ruangannya.