
DEVAN POV
Sudah satu minggu lamanya aku tidak pernah berkunjung ke Luxury Food. Sejak hari itu, saat ia menolakku mentah-mentah, tanpa memikirkan perkataanku dulu. Aku berharap setidaknya ia memikirkan dulu baik-baik sebelum langsung menolakku. Aku akan memberinya waktu kalau ia meminta. Aku akan memberikannya dengan senang hati. Tapi dengan cepatnya ia langsung menolak.
Apa sebegitu buruknya kah menjadi kekasihku ? Bahkan hampir kebanyakan wanita akan langsung menerima dengan senang hati jika aku meminta mereka menjadi kekasihku.
*Flashback On*
Siang itu, aku langsung kembali ke perusahaan. Aku ingin menenangkan pikiranku sejenak. Aku sangat marah, dan kecewa. Tidakkah ia mengerti ? Aku selalu menyempatkan waktuku yang sempit hanya untuk datang ke restoran itu. Sesibuk apapun pekerjaanku, hampir setiap harinya aku akan menyempatkan diri untuk berkunjung hanya untuk melihat gadis itu.
Sejujurnya, aku tak membutuhkan restoran itu sama sekali. Tanpa aku membeli restoran itu pun, aku sudah cukup berkuasa di dunia bisnis. Restoran itu tak ada pengaruh apapun untukku. Aku membelinya, hanya karena... ‘dia’. Tapi sepertinya dia tetap tak memandangku sama sekali, tak memahami perasaanku sama sekali. Ia selalu saja menolak setelah banyak hal yang kulakukan hanya untuk tetap berada di dekatnya. Yang dia bilang hanyalah perbedaan, perbedaan, dan perbedaan. Persetan dengan ‘perbedaan’ itu. Aku sudah muak mendengarnya. Itu adalah alasan andalannya yang selalu ia utarakan. Tidak bisakah ia jujur terhadap dirinya sendiri ? Tidak bisakah ia berani sedikit saja dan percaya padaku ?
Malam itu, aku duduk dengan Alex di sebuah meja bar, minum beberapa gelas wine. Rasanya sudah sangat lama aku tak berjumpa dengan sobat karibku itu. Aku yang mengajaknya kali itu karena kurasa aku harus menceritakan semuanya padanya. Aku sudah tak mampu memikirkannya lagi, alasan kenapa gadis yang kusukai itu selalu saja menolak perasaanku. Mungkin dengan bercerita dengan Alex, ia bisa memberikanku pemikiran yang lain.
“Lex, aku mencintai seorang gadis” ucapku mengawali pembicaraan sambil sesekali meneguk minuman manis berwarna merah itu.
“Sudah kuduga, pasti ada sesuatu kenapa kau tiba-tiba mengajakku ke sini” jawab Alex dengan santai, sudah tak heran lagi kenapa sahabatnya itu tiba-tiba mengajaknya minum bersama.
“Namanya Widel. Dia seorang gadis yang biasa-biasa saja. Dia tidak terlalu cantik, tak seksi, bukan pula dari keluarga terpandang, tapi entah kenapa aku jatuh cinta padanya. Tidak tahu ini bermula sejak kapan” lanjutku bercerita.
Alex menolehkan kepalanya ke samping, menatapku dengan mengernyit. “Apa tipe wanitamu sudah berubah ?”
Aku mengangkat bahuku. “Entahlah. Mungkin. Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang berbeda dengan wanita-wanita lain yang aku kenal. Dia wanita yang manis, polos, pekerja keras, mandiri, terkadang tingkahnya lucu dan konyol”. Aku menoleh pada Alex yang menyimak setiap perkataanku. “Apa kau tau Lex ? Dia adalah wanita yang sangat unik. Dalam suatu waktu dia takut dan berani secara bersamaan. Lucu bukan ? Setiap bersamanya, aku selalu banyak berbicara. Aku selalu tersenyum dan merasa bahagia” tuturku sambil tersenyum mengingat-ngingat pertemuanku dengan gadis mungil itu.
Alex masih diam membiarkanku bercerita mengeluarkan seluruh isi hatiku. “Mungkin kau tidak akan percaya jika aku mengatakan ini. Gadis itu.... bahkan berani meninju wajahku” ucapku sambil tertawa.
Alex membulatkan matanya merasa tak percaya. “Wah, gadis itu sangat berani. Aku jadi penasaran dengan gadis yang kau ceritakan itu”
Aku masih tertawa lalu meneguk minumanku lagi. “Benar, dia sangat berani” ucapku sambil tersenyum lebar.
Alex mengernyit. “Dan kau senang dipukuli wanita itu ?”
__ADS_1
Aku tertawa lagi merasa lucu dengan diriku sendiri yang aneh. “Entahlah, aku marah tapi aku juga senang. Hahahaha. Aneh bukan ?”
Alex menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Kau sudah benar-benar buta. Buta karena cinta”
Aku mengangguk. “Aku bahkan membeli sebuah restoran mewah hanya karena gadis itu bekerja di sana”
Alex menoleh padaku, mungkin melihat perubahan raut wajahku yang tiba-tiba menjadi murung. “Aku tidak mengerti, kenapa dia selalu menolak diriku. Dia selalu mengatakan kalau kita berdua sangat berbeda, kita tidak cocok untuk bersama, kita... sangatlah tidak mungkin” ucapku lalu menghela napas, kemudian menuangkan wine ke dalam gelasku lagi dan meminumnya dalam sekali teguk.
“Sepertinya aku mulai mengerti permasalahanmu” kata Alex yang membuatku menoleh padanya.
“Lalu aku harus bagaimana Lex ? Aku sudah melakukan banyak cara, tapi semuanya seakan tak ada gunanya”
“Kurasa kau harus-”
“Hai, tak sungka kita akan bertemu lagi di sini Tuan Devan” suara seorang wanita yang tiba-tiba menghampiri, memotong ucapan Alex. Ya, wanita itu adalah Xena. Siapa lagi ? wanita yang entah mengapa begitu terobsesi padaku.
Aku hanya membuang wajahku ke tempat lain, merasa malas bertemu dengan wanita itu di saat seperti ini. Sementara Alex tersenyum lebar melihat wanita itu.
Aku menghela napas, merasa malas sekali membahas wanita itu.
Xena tersenyum menoleh pada Alex. “Tentu saja. Aku menyukai pria ini. Hanya sayangnya, dia menyukai wanita lain” ucapnya lalu menarik kursi untuk duduk di sampingku. “Tuan Devan, kita belum menyelesaikan pembicaraan kita tadi siang”
“Bukan waktu yang tepat untuk membahasnya” ucapku datar.
“Devan, apa kau tidak ingin mengenalkan wanita ini padaku ?” Tanya Alex.
“Apa harus butuh izinku untuk kenal dengan wanita ini ? Tidak ada hubungannya denganku”
“Dia memang selalu seperti ini padaku. Tidak usah peduli, kenalkan--aku Xena. Kau temannya Devan ya ?” ucap Xena mengulurkan tangannya pada Alex.
“Iya, aku Alex, sahabat Devan” sahut Alex menerima uluran tangan Xena dengan tersenyum.
__ADS_1
Aku berdiri seketika, merasa malas melanjutkan curhatanku lagi pada Alex karena wanita itu yang tiba-tiba muncul dan mengganggu waktuku. “Aku pulang duluan ya Lex. Tenang saja nanti aku yang bayar semuanya”
Xena menarik tanganku membuat langkahku terhenti seketika. Aku pun menoleh lalu menatap wanita itu dengan tatapan dingin dan tajam. “Lepaskan tanganmu itu!” ucapku dingin.
“Berpura-puralah pacaran denganku. Dengan begitu, kau akan membuat ayahku merasa bingung dengan hubungan kita berdua, dan akan tertarik untuk menggunakanku untuk memata-mataimu. Tapi, percayalah padaku. Aku bersumpah akan setia padamu. Aku akan memutar balik, dan bertindak sebagai mata-matamu. Gunakan aku semaumu. Aku bersedia. Bukankah dengan begini, kau juga akan mengetahui apakah wanita yang kau cintai itu cemburu atau tidak” ucap Xena dengan tatapan penuh keseriusan.
Tidak kusangka wanita ini sampai seperti ini terhadapku. Apa katanya, ‘gunakan aku semaumu’ ? Sebegitu inginnya dia padaku.
Aku memutar badanku dan menatap mata wanita itu, menimbang-nimbang perkataannya.
“Benar Dev, mungkin dengan cara itu juga, gadis itu akan cemburu dan menyadari perasaannya padamu” ucap Alex menambahkan.
Baiklah, mungkin tidak ada salahnya mencoba cara menjijikan ini. Aku bisa menjatuhkan musuhku, dan aku juga bisa mengetahui perasaan Widel padaku.
“Baiklah, aku setuju” jawabku yang membuatnya tersenyum. “Tapi... jika kau macam-macam sekali saja padaku, kau tahu apa akibatnya”
*Flashback Off*
Ternyata cara itu sepertinya berguna, Widel tampaknya cemburu. Aku senang, namun di sisi lain aku merasa sedih melihatnya murung seperti itu. Ternyata dia ingat setiap perkataanku padanya, bahkan tentang saat aku menyuruhnya memasakkan makanan untukku setiap harinya. Namun, aku yang lupa. Aku lupa tentang itu, dan jahatnya aku malah makan bersama Xena di ruanganku. Saat melihatnya yang begitu tampak sedih, membuatku marah terhadap diriku sendiri. Nafsu makanku menjadi hilang seketika. Namun, aku tak mungkin menggagalkan rencana yang sudah kubuat layaknya seperti nyata ini, karena aku tahu, Charles Wilkinson sedang memata mataiku dimana pun aku berada. Aku berusaha semesra mungkin dengan putrinya itu, oleh karenanya aku tidak boleh gegabah.
Bersambung...
Aku mau bercerita sedikit kenapa aku lama update hari ini ya...
Sejujurnya aku sedikit lupa dengan novelku sendiri karena sempat hiatus lama banget, berbulan-bulan. Jadi akhirnya kubaca ulang deh dari awal. Wkwkwkwkwk...
Awalnya mau baca sebagian aja, tapi ternyata dari awal baca aku ketawa-ketiwi sendiri sampai akhirnya kubaca semua episode karena keterusan. Aku jadi berpikir, novelku ternyata seru juga ya. Hahahaha.. maaf memuji diri sendiri. Karena aku bikinnya per episode, aku tidak pernah berpikir seperti itu loh, suwer. Sebenarnya malah sedikit agak minder, saat baca novel-novel populer lainnya, sangat bagus-bagus dan menarik. Tapi, ternyata ada gunanya juga membaca ulang, jadi ingat kembali, dan malah tambah bikin semangat, apalagi saat membaca komentar-komentar kalian, kadang aku sampai ketawa sendiri karena ternyata aku berhasil juga bikin kalian baper, ketawa-ketiwi, senyam-senyum, dan juga marah-marah pas baca novel ini. Hahahaha.. Terimakasih ya aku merasa berhasil karena itu. Hehehehe...
Tapi, ada satu harapanku yang mungkin belum berhasil adalah membuat kalian menitihkan air mata pas membaca novel ini. Menurutku, itu adalah satu tantangan yang sulit untuk keberhasilan seorang penulis. Hehehhe..
Terimakasih banyak ya atas like, komentar, dan pembaca setiaku semuanya. Apalagi yang setia beri votes, so much love deh buat kalian semua. Hehehehe..
__ADS_1