
Pernahkah kau merasa seperti tiba-tiba ditampar ?
Seperti itulah cinta.
Dan itu memukulmu begitu keras,
Ketika ada orang lain yang terlibat.
Mengapa harus pernah ada orang lain ?
-----
Devan mengendarai mobilnya dengan sangat laju layaknya seorang pembalap professional, menembus kepadatan jalan raya. Ia membelokkan mobilnya dengan gesit, menghindari kendaraan demi kendaraan lainnya yang menghalangi jalannya.
Sampailah ia di Heaven Club. Sebuah klub malam terbesar dan termewah di kota itu. Sudah merupakan kebiasaannya untuk singgah di tempat itu sejenak, hanya untuk menenangkan pikirannya dengan minum-minuman beralkohol sebanyak yang ia mampu.
Devan tengah duduk di meja bar panjang dengan kondisi yang sudah setengah mabuk. Entah berapa banyak botol yang telah ia minum. Bagi seorang peminum berat sepertinya, butuhlah berpuluh-puluh botol untuk membuatnya mabuk total.
Ia tak menyadari, bahwa selama ia duduk, ternyata ada seorang wanita cantik yang terus memerhatikannya sejak tadi. Wanita itu duduk tepat di samping Devan yang hanya terpaut kurang dari 2 meter. Penampilannya masih terlihat sangat muda, rambut gelombangnya tergerai panjang berwarna cokelat tembaga. Ia tidak memakai pakaian pakaian seksi layaknya kebanyakan wanita di club itu. Wanita itu hanya memakai jaket kulit hitam dengan bawahan celana jeans panjang yang robek dan sepatu boots kulit berwarna senada yang melengkapi.
“Kau sudah minum hampir 10 botol tapi kau masih hanya setengah mabuk ? Hebat juga dirimu” kata wanita itu sambil meneguk minuman di gelasnya.
Devan masih sibuk dengan pikirannya tak mendengar ucapan wanita itu yang ditujukan untuknya.
“Apa kau mau bertanding denganku ? Siapa yang lebih hebat minum diantara kita?” Kini wanita itu menoleh dan menatap lurus pada Devan yang masih linglung menatap gelasnya yang sudah kosong.
Wanita itu menggeser bangkunya lebih dekat dengan Devan.
“Apa kau takut akan kalah denganku ?” tanyanya lagi dengan mendekatkan wajahnya pada Devan.
Devanpun akhirnya sadar dan membalas tatapan wanita berambut gelombang itu.
“Apa kau bicara denganku ?” Tanya Devan dengan nada angkuhnya.
Wanita itu hanya tersenyum miring lalu menyodorkan gelasnya hendak bersulang pada Devan “Kau tahu.. aku dijuluki ‘si wanita anggur merah’ karena aku hanya bisa memabukkan tapi tak bisa termabukkan. Aku berani bertaruh, kau tak akan bisa menyaingiku dalam hal minum! Bersulanglah jika kau setuju. Jika tidak.. tumpahkan saja, yang membuktikan bahwa kau hanyalah seorang pecundang!”
Devan memandang dengan tatapan sinis “Kita akan membuktikan siapa yang akan jadi pecundang, aku..? atau kau!” Devanpun bersulang.
Mereka pun duduk menghabiskan malam dengan bertanding minum mempertaruhkan harga diri.
“Aku... tidak akan.. membiarkan.. kau menang!” ucap wanita itu dalam keadaan sudah sangat mabuk hendak meminum botol berikutnya. Lalu bruukk! Wanita itu jatuh tak sadarkan diri di meja bar.
Devan tersenyum miring karena merasa telah menang walau sebenarnya ia sudah merasa mabuk.
“Cih! Si wanita anggur merah katamu ? Hah!” Devan terkekeh mengejek.
Dengan sempoyongan, Devan berdiri dan meninggalkan wanita itu begitu saja tanpa ada rasa peduli sedikitpun.
Disisi lain, Widel sedang dalam perjalanan pulang, diantar oleh Reza dengan mobilnya.
“Kak Reza.. kok Pak Ervin tadi bisa ada juga di pesta ? Apa dia juga punya saham ya ?” tanya Widel bingung, karena tadi saat di pesta dia melihat Pak Ervin datang berjabat tangan dengan Reza.
“Hm.. dia itu kakak sepupuku” jawab Reza santai.
“Apaa? Kenapa Kak Reza tidak pernah bilang?” tanya Widel antusias.
“Memang itu penting ?”
__ADS_1
“Iss... selow lah.. cuma tanya aja” ucapku kesal.
“Hm” gumam Reza, sedikit tidak suka mendengar Widel menanyakan Ervin, kakak sepupunya itu.
Widel berdecak sebal karena pertanyaannya tidak begitu digubris Reza. Mereka akhirnya duduk dalam keheningan. Widel memutuskan menoleh ke arah jendela samping mobil. Ingatannya lalu kembali mengingat keromantisan Reza malam ini, membuat wajahnya kembali bersemu merah.
“Sejak.. sejak kapan Kak Reza... anu.. maksudku..” ucap Widel terbata sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Reza hanya tersenyum melihat tingkah Widel yang tampak sangat jelas salah tingkahnya. Ia berhasil menangkap maksud dari ucapan Widel yang tidak selesai itu “Sejak pertama kali melihatmu di kampus”
“Haa?” gumam Widel yang seketika menoleh pada Reza.
“Ke-kenapa... kau.. maksudku.. kenapa aku.. ” ucap Widel menggigit bibir bawahnya sambil merutuki dirinya sendiri yang tiba-tiba jadi kaku terhadap Reza, ia bahkan tak bisa menyelesaikan kata-katanya sendiri.
“Hahahaha... ” Reza hanya tertawa lalu mencubit gemas pipi chubby Widel yang memerah.
“Awwhh! Sakit Kak Reza!” pekik Widel dengan wajah kesal menatap Reza.
“Makanya jangan terlalu imut gitu dong, kan jadinya pengen gigit” ucap Reza menyeringai dan langsung mendapatkan tabokan di kepalanya dari tas kecil Widel.
“Ah.. jangan gitu dong sayang...” kata Reza memelas manja.
“Ih... sayang sayang... jijik tahu! kalo dengar Kak Reza ngomong gitu” gumam Widel sambil mengerucutkan bibir mungilnya.
“Jadi apa dong ? Honey boney sweety ?” jawab Reza dengan tatapan menggodanya. Widel hanya menatap Reza dengan tatapan illfeelnya.
WIDEL POV
Setelah sampai di depan rumah, aku langsung pamit pada Kak Reza, dan segera masuk ke dalam rumah. Dengan jalan yang sedikit tertatih aku menuju ke kamar mandi, untuk mencuci muka, tangan, dan kakiku sampai bersih. Setelah itu, aku berganti baju dengan baju tidur yang nyaman, lalu mengambil kotak kecil yang khusus menyimpan beberapa obat penting. Kuambil obat betadine merah di dalam kotak itu lalu mengoleskannya dengan kapas pada kakiku yang lecet dan menempelkan handsaplast.
Tok tok tok
Tok tok tok
“Jangan-jangan....” benakku yang tiba-tiba membuat seluruh tubuhku merinding.
Tok tok tok
Aku berjalan mengendap-ngendap sambil sesekali menelan ludah dengan keras, menuju pintu luar. Sebelumnya aku mengambil sapu dan kupegang gagang kayunya dengan erat.
Tok tok tok
“Pokoknya, nanti saat buka pintu, langsung pukul saja. Pasti orang yang tidak beres nih ngetok malam-malam begini. Oke.. kamu bisa Widel! “ benakku.
Aku bersiap mengambil aba-aba. Tangan kananku mengencangkan peganganku pada gagang sapu. Tangan kiriku bersiap untuk memutar gagang pintu. Aku menghembuskan nafas pelan sambil menutup mata, dan segera kulayangkan pukulanku sekeras-kerasnya setelah pintu terbuka.
BRUK! BRUK! BRUK!
“Ah.! Adudududuh! Apa kau gila ?” teriak seorang pria sambil meringis kesakitan.
Suara itu ?
Mataku membulat penuh, melihat siapa yang ada di hadapanku saat ini.
“Ka- kauu ??” ucapku tak percaya sambil menutup mulutku.
“Apa kau gila ? kenapa kau memukulku haa?” ucapnya sambil memegangi kepalanya yang terkena pukulanku.
__ADS_1
“Ma-maaf Tuan.. Sa-saya pikir....” kataku dengan wajah panik penuh rasa bersalah.
Devan terlihat tidak berdiri dengan sempurna, sesekali dia hampir terjatuh. Dia terlihat sempoyongan. Bau alkohol yang keras menyeruak dari mulutnya. Aku mengibas-ngibaskan hidungku berusaha mengusir baunya yang menyengat itu.
Kutolehkan kepalaku ke kiri dan ke kanan mencoba melihat keadaan sekitar. Sepi.
Aku langsung melingkarkan lengan besarnya di pundakku, mencoba membopongnya untuk masuk ke dalam rumah dan segera mengunci pintu. Aku takut orang lain akan berpikir yang tidak-tidak jika saja ada tetangga yang melihatnya seperti ini di depan pintu rumahku tengah malam begini.
“Duduklah dulu di sini” Aku membawanya ke sofa, dan sial saja, aku tiba-tiba jatuh ke pangkuannya karena tidak mampu mengimbangi berat badannya itu.
Aku hendak bangkit namun Devan langsung menarik pinggangku membuatku menempel dibadannya sangat erat. Dia menatapku dalam dan meracau tidak jelas “Widel... kau dilarang bersama pria itu!” ucapnya setengah sadar.
“Apa?? Hei..! Tuan sadarlah.. Kau harus pulang.. Aku tidak mungkin menampung seorang pria di rumahku! ” ucapku sedikit berbisik karena takut terdengar oleh tetangga sebelah, sambil menepuk-nepuk pipinya. Wajahku semakin panik saat ia tiba-tiba kehilangan kesadarannya dan jatuh tertidur di sandaran sofaku.
Oh astaga..! Kesialan apa lagi ini ?
“Tuan Devan... sadarlah.. sadar!” Aku terus menepuk-nepuk pipinya namun tidak berhasil.
Aku melepaskan tangannya yang melingkar dipinggangku, lalu segera pindah duduk di sampingnya. Aku hanya diam, bingung mau melakukan apa. Hanya hening yang tercipta saat ini. Tanpa sadar kupandangi wajah tampannya sejenak.
Deg!
Ya Allah... Anak siapa sih lelaki ini ? Kok bisa ngelahirin anak setampan ini.. bulu matanya yang panjang dan tebal... rahang tegasnya.. alisnyaa.. hidungnya apa lagi...
Perlahan pandanganku turun ke lehernya, melihat jakunnya yang sungguh seksi, lalu badan kekarnya yang hanya ditutupi kemeja putih dengan lengannya yang digulung sampai kesiku, memperlihatkan urat-urat tangannya yang cukup menggoda. Keringatnya membasahi kemejanya membuat kemejanya agak sedikit tembus pandang menampilkan otot-ototnya yang seksi dan perut sixpack yang aduhai. Aku menelan ludahku dengan keras. Ingin sekali aku menyentuh wajahnya.. apalagi dada bidangnya yang super hot itu.
Astaghfirullah! Widel... Pikiran apa yang merasukimu... ? Itu setan Widel.. sadarlah!
Benakku menyadarkanku. Aku harus mencari cara agar membuatnya pulang. Tidak mungkin kan aku yang mengantarnya pulang dalam keadaan begini ? Mana kuat aku!
Ah coba aku hubungi asistennya. Ponselnya pasti ada dalam saku celananya.
Glek !
Tapi masa aku harus memasukan tanganku ke dalam saku celananya itu ? Aduuhh! Bagaimana ini Widel! Pikirkan sebuah cara! Ayoo pikirkan!
Aku terus menatap saku celananya. Entah sudah berapa kali aku menelan ludah. Pinggang rampingnya itu terlihat sangat menggoda, dan membayangkan tanganku yang masuk ke dalam saku celananya lalu merogohnya dalam dalam...? Aaarrrghh!! Ini membuatku frustasi.
Tidak ada cara lain lagi, lelaki ini harus pulang! Mau tidak mau, aku harus melakukannya!
Kudekatkan diriku padanya dan memberanikan tanganku untuk merogoh saku celananya.
Deg deg deg!
Dengan menutup mata, akhirnya tanganku sudah tertanam di dalam saku celananya. Aku mengerutkan kening, merogoh sampai ke dalam-dalam.
Dimana ponselnya orang ini ? kayaknya tidak ada di dalam sakunya yang ini, coba saku sebelahnya.
Setelah tidak mendapatkan apa-apa pada saku kiri celananya, aku mencoba memasukkan tanganku kembali ke dalam sakunya yang sebelah kanan.
Cobaan apa ini Ya Allah...
Aku merogoh, dan terasa menyentuh benda persegi di dalamnya.
Akhirnya.. Aku menemukannya!
Kucoba membuka ponselnya namun nihil. Ponselnya ternyata mati total.
Huwaaaaaaaa..... Gimana ini ???
__ADS_1
Bersambung...