I'M Crazy About You

I'M Crazy About You
Episode 9 - Menjadi Tokoh Jahat


__ADS_3

DEVAN POV


Kini aku tengah duduk menunggu Angel di sebuah restoran sambil menyeruput segelas kopi hitam tanpa gula. Beberapa hari ini hubunganku dengannya sedang kacau balau.


*Flashback On


Aku membantingkan diriku di sofa saat tiba di apartemenku. Kulirik jam di dinding sudah menunjukkan pukul 21.00. Aku menyelesaikan urusanku di New York dengan cepat, dan langsung terbang ke sini. Pekerjaanku yang banyak dan perjalanan yang berjam-berjam lamanya membuatku sangat kelelahan. Aku bahkan belum sempat untuk makan malam. Pikiranku selalu terbayang akan Angel, kekasihku yang sangat aku rindukan. Sudah satu minggu lamanya aku tidak bertemu dengannya. Aku merogoh ponselku lalu dengan cepat menghubunginya.


“Angel, kamu dimana sayang ?” tanyaku lembut saat panggilanku sudah terhubung.


“Aku lagi di Mall sayang, ada apa?” jawabnya dari sana.


“Kamu ke apartemenku sekarang ya. Aku tunggu” ucapku lembut sambil tersenyum senang telah mendengar suaranya.


“Hah ? Kamu udah pulang sayang ?” tanyanya dengan nada tak percaya.


“Iya sayang.... Ini aku baru sampai ke sini demi kamu. Makanya kamu cepetan kesini”


“Oke deh sayang, 30 menit lagi aku sampai ya. Bye....”ucapnya lalu mematikan telepon.


Setelah meneleponnya, hatiku terasa lega. Aku menatap layar ponselku dengan senyuman sumringah. Lalu aku segera memesan dua set makan malam di sebuah restoran agar aku dan Angel bisa makan bersama. Tak lama setelah aku memesan makanan, ponselku berbunyi lagi. Kali ini Alex yang meneleponku, sobat karibku sejak SMP.


Tahu saja dia kalau aku sudah sampai disini, pasti mau mengajak aku ke bar lagi nih.


“Halo, Lex ada apa ?” tanyaku langsung saat mengangkat telepon.


“Devan, kamu dengan Angel udah putus ya ?” tanya Alex yang terdengar ragu-ragu.


“Eh bangsat kamu Lex. Kamu sumpahin aku biar putus sama Angel ?” ucapku dengan kesal.


“Eh, bukan gitu maksud aku loh Van, aku tadi ngeliat Angel jalan sama cowok lain” ucapnya yang membuat aku langsung melotot tak percaya.


“Kamu jangan becanda gitu dong Lex” ujarku gelisah.


“Aku gak becanda Devan! Aku lihat Angel pelukan sama cowok itu dengan mata kepalaku sendiri. Mereka keliatan mesra banget Van! Aku sempet fotoin mereka dari jauh. Tunggu aku kirimin fotonya kalo kamu gak percaya sama aku!”


Alex mematikan teleponnya dan tak lama kemudian aku mendapatkan kiriman foto darinya. Tanganku gemetar saat hendak membukanya. Dan seketika mataku langsung melebar saat melihat foto kiriman itu. Itu benar Angel yang lagi pelukan mesra dengan pria lain.


Kubantingkan ponselku ke atas meja pendek di depanku. Otakku menolak untuk mencerna foto itu. Aku mencengkram rambutku keras lalu akhirnya melangkah cepat menuju kulkas, dan kembali dengan membawa beberapa botol Anggur. Aku duduk sambil meminum minuman beralkohol itu mencoba menenangkan pikiranku. Aku sudah tak bisa berpikir jernih lagi.


Selang beberapa saat.

__ADS_1


Bip. (bunyi kode yang berhasil membuat pintu apartemenku terbuka)


Akhirnya Angel datang juga. Aku dulu memang sengaja memberitahunya pin apartemenku ini, agar dia bisa leluasa datang kemari.


“Hei Beb, kamu kenapa minum banyak gini sayang ?” Tanyanya menyampiriku disofa, lalu duduk disampingku sambil memelukku dengan tak tahu malunya. Aku melepaskan pelukannya dengan kasar lalu menatapnya tajam.


“Kamu kenapa sayang ?” Tanyanya kini dengan wajah heran. Aku tak berbicara sepatah katapun, hanya menatapnya sebentar lalu tersenyum dengan sinis.


“Dev.. Ada apa sayang ? Kok kamu begini ?” Panggilan sayangnya dulu terdengar indah di telingaku. Aku senang mendengarnya waktu itu. Tapi entah kenapa saat ini, aku menjadi jijik dengarnya.


“Angel, kamu gak usah berpura-pura lagi di depanku. Kamu jalan sama siapa tadi ?” tanyaku dingin.


“Apa maksud kamu Dev ?” tanyanya kini dengan suara yang sudah bergetar.


“JAWAB ANGEL!!!” bentakku menggema di seluruh ruangan membuatnya tersontak kaget bersamaan dengan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.


“Jangan kayak gini Dev.. aku gak ngerti apa maksud kamu” ucapnya sambil terisak. Aku menggertakkan gigiku berusaha menahan luapan emosi yang hendak meledak di kepalaku. Lalu aku mengambil ponselku di atas meja.


“Jelasin ini apa Angel !!” ucapku dengan nada tinggi yang tajam sembari memperlihatkan fotonya dengan lelaki lain


di layar ponselku.


Angel hendak memegang lenganku tapi dengan cepat kutepis. Aku membuang muka tak ingin melihatnya, hanya membuat luka di hatiku semakin dalam. Angel akhirnya membuka mulutnya dan berkata dengan perlahan.


“Dia adik sepupu aku Dev, dia hanya temenin aku doang di Mall” jelasnya sambil menyeka air matanya.


“Heh! Adik sepupu ?” Rahangku mengeras karena gesekan geraham yang kubuat untuk menahan emosiku yang masih memuncak.


“Mesra banget yaa” sambungku dengan nada ironi lalu mataku menatap kembali ponselku yang masih menyala diatas meja, menampilkan gambar kekasihku yang sedang berpelukan mesra dengan pria asing itu dan kening mereka saling menempel satu sama lain.


Dengan cepat aku meraih ponsel itu, lalu kubanting ke lantai dengan kerasnya. Akhirnya ponselku menjadi pelampiasan kemarahanku saat ini. Angel yang melihat tingkah kasarku hanya bisa meneriaki namaku lalu semakin menangis dengan kencang.


“Pulanglah Angel. Aku ingin menenangkan pikiranku” kataku pelan namun sepertinya Angel tak mengindahkan perkataanku. Ia masih duduk terisak di pinggir sofa dengan menangkupkan kedua tangan menutupi wajahnya.


Aku mengusap wajahku gusar, sampai saat kudengar suara bell berbunyi dan terdengar samar dari luar pintu memberitahu kalau ia dari restoran yang mengantarkan pesanan.


Aku berjalan gontai menuju pintu dan membukanya perlahan. Kutundukkan kepalaku saat melihat seorang gadis mungil yang sedang menunduk dengan kunciran rambut seperti ekor kuda, memainkan kakinya seperti menuliskan sesuatu di lantai dengan menggesek-gesekan kakinya. Aku diam sebentar melihat tingkahnya yang aneh itu.


Tak sampai satu menit, gadis mungil itu mendongakkan kepalanya. Terlihat buliran keringat sebiji jagung menetes di pelipisnya. Mata bulatnya yang jernih menatapku dan bibir kecilnya yang diam kini mengukir senyum manis di wajahnya. Hatiku seakan terenyuh melihat senyumannya. Ada rasa tak tega melihat wajah polosnya yang terlihat kelelahan namun masih tulus memberikan senyuman. Gadis itu lalu menyerahkan beberapa bungkus makanan yang telah kupesan tadi dengan sebuah bill di atasnya.


“Ini pesanan Anda Tuan. Totalnya Enam Ratus Lima Puluh Lima Ribu Rupiah” ucapnya sopan.

__ADS_1


*Flashback Off


“Dev, kamu udah nunggu lama ya ?” ucap Angel membangunkan lamunanku yang tiba-tiba sudah duduk di kursi menghadapku.


“Kamu telat 10 menit” ucapku dingin.


“Maaf Dev, ak-”


“Udah gak usah lama-lama! jelasin ke aku apa yang bisa kamu jelasin” ucapku memutus perkataannya.


“Jelasin dengan jujur Angel! Kalau sampai aku menemukan kebohongan kamu. Kamu tahu apa yang bisa aku lakukan!” sambungku dengan nada mengancam. Angel yang katanya mau menjelaskan, kini hanya terdiam tanpa bisa berkata apa-apa lagi selain memohon ampunan padaku.


“Kasih aku kesempatan satu kali lagi Dev, untuk perbaiki semuanya” ucapnya memelas dengan mata berkaca-kaca sambil memegang tanganku yang dengan cepat kutepis.


“Tidak ada kesempatan kedua untuk pengkhianatan Angel ! Kamu tahu prinsipku!” ucapku tegas.


“Kamu boleh pergi, urusan kita sudah selesai mulai detik ini” sambungku sambil membuang muka ke arah lain yang tanpa sengaja, samar-samar aku telah menangkap sosok yang tak asing di restoran itu, sedang duduk di pojok kiri depan agak jauh dari tempatku yang berada di pojok kanan belakang. Gadis kecil ? Widel ? benakku.


Aku mengerutkan kening menajamkan indera penglihatanku. Dan benar saja, wanita itu adalah Widel. Gadis mungil itu tampak manis dengan balutan dress berlengan panjang warna putih dihiasi renda hitam diujung kainnya. Dia tampak sedang tertawa ria bersama seorang pria yang duduk membelakangiku. Siapa pria itu ? Pacarnya kah ?


“Dev, kamu lihat siapa ? Dev ?” ucap Angel mencoba mengikuti arah pandangku. Aku menoleh padanya dan berdecak sebal karena ia tak juga pergi dari hadapanku.


“Kalau kamu gak mau pergi, aku yang pergi!” ucapku lalu berdiri dan melangkah menjauhi Angel. Tapi sayangnya, Angel malah sengaja mengundang perhatian banyak orang, dengan berteriak-teriak sambil menangis memohon ampun, sembari berlutut memeluk kakiku membuat langkahku tertahan karenanya. Kini aku menjadi pusat perhatian banyak orang. Aku melihat ke sekeliling lalu pandanganku terhenti pada Widel yang duduk jauh di pojok sana, ternyata kini sedang menatapku dengan pandangan datar, tak bisa menebak apa yang ada dipikirannya.


“Angel, lepasin!” ucapku pelan dengan nada risih sambil berusaha menyingkirkan pelukannya di kakiku.


“Gak Dev, sebelum kamu maafin aku!” tegas Angel menggeleng semakin mengeratkan pelukannya dikakiku.


Kulihat orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik pada lawan bicara mereka, sambil menatapku yang seakan jadi tokoh jahat di mata mereka. Aargghh! Mau tak mau, aku membungkuk melepaskan pelukan Angel di kakiku dengan keras, lalu menarik lengannya dan membawanya keluar dari restoran dengan langkah cepat.


Diambang pintu masuk restoran, Riko, asisten sekaligus tangan kananku, langsung menyambutku dari luar. Kulepaskan tangan Angel lalu kutahan wajahnya dengan menangkupkan kedua tanganku di kepalanya sambil mengusap pipi tirusnya dengan ibu jariku, agar ia menatapku lekat dan menyimak dengan baik setiap kata yang akan kuucapkan padanya secara perlahan.


“Aku masih berlaku baik padamu, Angel. Kau tahu benar seperti apa diriku. Hukuman apa yang selalu kuberikan pada setiap orang yang telah berkhianat padaku. Aku tidak melakukan apapun padamu setelah apa yang telah kau lakukan terhadapku. Karena aku masih menghargaimu sebagai wanita yang pernah aku cintai. Jadi, jangan memaksaku untuk berbuat kasar padamu. Tolong, bersikap baiklah Angel! Pergilah, dan jangan muncul di hadapanku lagi” tanganku melepaskan wajahnya, bersamaan saat berakhirnya ucapan terakhirku padanya.


“Riko, urus wanita itu. Bawa dia pergi dari sini” ucapku pada Riko kemudian, sebelum aku melangkah masuk ke dalam mobil pribadiku diikuti oleh beberapa mobil hitam yang berisi para bodyguard di belakangku.


***


 


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2